Potensi Lokal yang Menunggu Sinergi: Kisah Pengerajin Bambu Sikur

Selasa, 12 Agustus 2025 - 15:17 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Siti Aminah, perempuan pengerajin anyaman pagar bambu dari Desa Montong Baan (Foto: Lombokini.com/Dok. Hari).

Siti Aminah, perempuan pengerajin anyaman pagar bambu dari Desa Montong Baan (Foto: Lombokini.com/Dok. Hari).

LOMBOKINI.com – Di kaki Gunung Rinjani, beragam jenis bambu tumbuh subur, menopang ekosistem desa sekaligus menyimpan potensi ekonomi. Desa-desa di Kecamatan Sikur memanfaatkan bambu untuk berbagai kebutuhan, dari bahan bangunan hingga kerajinan yang mulai merambah pasar luar daerah.

Azkan Saidi, pengerajin muda dari Tetebatu, menilai bambu dapat menjadi ciri khas desa wisata jika diolah dengan inovasi dan strategi pemasaran yang tepat.

“Kami sebenarnya punya keinginan, ada produk khas dari desa wisata ini, khususnya dengan mengolah produk kerajinan berbahan dasar bambu yang ada di sini,” ujarnya, Jumat 8 Agustus 2025 yang lalu.

Menurutnya, semakin banyak bangunan homestay di Tetebatu yang menggunakan bambu, sehingga peluang pengembangan kerajinan sebagai souvenir khas desa cukup besar.

Potensi serupa disampaikan Khotibul Umam, staf Lombok Research Center (LRC). Ia menilai desa-desa wisata di Kecamatan Sikur seperti yang ditemukanny di Tetebatu yang memiliki sumber daya bambu yang melimpah.

Masyarakat di Tetebatu cukup terampil mengolah bambu menjadi beragam produk seperti gelas, asbak, tas dan produk lainnya.

Namun, Umam mengakui belum ada sinergisitas yang jelas antara sektor pariwisata, pemerintah desa, dan masyarakat. “Bambu dimanfaatkan hanya sebatas dijual bahan mentahnya saja,” ujarnya.

Dia berharap perlunya dukungan pemerintah desa dengan menghubungkan sektor wisata dan produk lokal bambu tersebut dapat dilakukan melalui penguatan artshop-artshop di kawasan desa wisata seperti Tetebatu.

Baca Juga :  Jurnalis Warga Kampanyekan Irigasi Tetes di Lahan Kering Lombok Timur
Husnul Hayati, pengerajin terai bibit berbahan bambu dari Desa Gelora.
Husnul Hayati, pengerajin terai bibit berbahan bambu dari Desa Gelora. (Foto: Lombokini.com).

Cerita Pengerajin dari Desa ke Desa

Beberapa pengerajin di desa-desa lain telah mengembangkan produk bambu secara mandiri. Husnul Hayati, pengerajin dari Desa Gelora, memproduksi terai bambu dan menjadi suplier dari sejumlah produk pengerajin lain.

Dengan bantuan mesin untuk membelah dan meraut bambu, Hayati mampu memenuhi permintaan, meskipun terkendala cuaca, akses bahan, dan strategi untuk menjangkau konsumen baru.

Di Dusun Mentaum, Desa Montong Baan, Siti Aminah bersama kelompok pengerajin perempuan lainnya memproduksi anyaman pagar bambu.

Lokasi dusun yang jauh dari jalan raya membuat produk anyaman pagar bambu sedikit sulit dipasarkan secara langsung. Sejak 2019, ia kemudian mencari cara lain dengan memanfaatkan media sosial untuk memasarkan produk kerajinannya.

“Kalau masalah kualitas, produk pagar anyaman bambu pengerajin perempuan di Mentaum ini bisa diadu dengan yang ada di tempat lain,” katanya.

Ia mengaku menguasai empat motif anyaman, termasuk satu motif kreasi sendiri bernama motif batik. Siti Aminah menggeluti kerajinan ini sejak berhenti bekerja sebagai tenaga kerja wanita di Arab Saudi. Usaha ini ia jalankan sambil mengurus anak dan cucu.

Pemasaran melalui pemanfaatan media sosial, anyaman pagar bambu miliknya dikenal dan diminati oleh konsumen dari luar Kabupaten Lombok Timur.

Beberapa kali permintaan datang bahkan dari luar NTB. Sayangnya sejauh ini ia hanya bisa melayani pengiriman hingga ke Pulau Sumbawa saja.

Baca Juga :  Bupati Lombok Timur Minta Maaf soal Kelangkaan Gas Elpiji 3 Kg

Menurutnya, bantuan permodalan, pelatihan pengembangan produk, dan peralatan mesin akan sangat membantu dia dan pengerajin lain yang ada di desanya untuk dapat meningkatkan kapasitas usaha.

Mengintegrasikan Ekonomi dan Ekologi

Hari Bahagia selaku Koordinator Lapangan untuk implementasi program selama beberapa bulan ke depan ini, melihat potensi kerajinan bambu di Kecamatan Sikur cukup merata.

Desa Loyok selama ini dikenal sebagai sentra kerajinan bambu, bahkan produknya telah diekspor ke mancanegara. Namun, ia menemukan desa-desa lain yang juga memiliki kemampuan serupa.

“Dalam program ini, kami mencoba menjajal desa-desa lain yang memang memiliki potensi membuat produk olahan bambu,” ungkapnya, Senin 11 Agustus 2025.

LRC menginisiasi program pemberdayaan dan pembinaan UMKM berbasis bambu di Kecamatan Sikur sebagai proyek percontohan.

Program ini diawali dengan asesmen di 14 desa untuk menggali kebutuhan masyarakat, potensi pasar, dan bentuk kemitraan strategis.

Pendekatan partisipatif dipilih agar pengembangan usaha kerajinan bambu tumbuh dari inisiatif warga, bukan semata intervensi dari luar.

Inisiatif ini sejalan dengan agenda pembangunan berkelanjutan (SDGs), khususnya pengentasan kemiskinan, penyediaan pekerjaan layak, pertumbuhan ekonomi, serta praktik konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab.

Dengan pengelolaan yang terintegrasi, bambu dapat menjadi sumber penghidupan sekaligus menjaga ekosistem desa-desa di kawasan penyangga Taman Nasional Gunung Rinjani.***

Berita Terkait

Cuaca Tak Menentu dan Harga Fluktuatif, Petani Vanili Lenek Duren Tetap Bertahan
Jurnalis Warga Kampanyekan Irigasi Tetes di Lahan Kering Lombok Timur
Haroen: Potensi BBNKB di Samsat Selong Capai Rp 41 Miliar per Tahun
Jamkrida NTB Syariah Dorong Akselerasi Ekonomi Lombok Timur melalui Penguatan UMKM
Bupati Lombok Timur Minta Maaf soal Kelangkaan Gas Elpiji 3 Kg
Asosiasi UMKM NTB Protes Keras BGN Hentikan Menu Kering MBG
Baznas Lombok Timur Salurkan Kursi Roda dan Santunan Pengobatan ke Desa Lando
Bupati Lombok Timur Luncurkan Bantuan Sembako untuk 198.776 Warga Miskin

Berita Terkait

Jumat, 8 Mei 2026 - 14:52 WITA

Bendungan Pandandure Merenggut Nyawa Anak 12 Tahun Asal Kalimantan

Kamis, 7 Mei 2026 - 22:32 WITA

Masih Kekurangan Dokter Spesialis, Faskes di Lotim Belum Dapat Akomodir Nakes Baru Lulusan Perguruan Tinggi 

Kamis, 7 Mei 2026 - 20:55 WITA

Pedagang Korban Kebakaran Pasar Pringgabaya Belum Dapat Kejelasan, Bantuan Stimulan Tak Tepat Sasaran

Rabu, 6 Mei 2026 - 19:16 WITA

Jurnalis Warga Kampanyekan Irigasi Tetes di Lahan Kering Lombok Timur

Rabu, 6 Mei 2026 - 17:36 WITA

Bupati Lotim Terima Audiensi Bulog dan Disperindag NTB, Bahas Tiga Program Strategis

Rabu, 6 Mei 2026 - 16:26 WITA

Lantik Pengurus Kwarcab, Bupati Lombok Timur Minta Pramuka Perkuat Karakter Generasi Muda

Selasa, 5 Mei 2026 - 21:04 WITA

Bupati Lombok Timur Serahkan Bantuan Rp 2 Juta ke Pedagang Korban Kebakaran Pasar Pringgabaya

Senin, 4 Mei 2026 - 19:06 WITA

PT Energi Selaparang Targetkan 100 Persen Dapur MBG Lotim Gunakan Air Mineral BPOM, Libatkan Koperasi Merah Putih

Berita Terbaru

​Warga menunjukkan titik lokasi hilangnya seorang anak kepada anggota Polres Lombok Timur di Bendungan Pandandure, Kamis sore 7 Mei 2026. Insiden ini kembali memicu kewaspadaan warga di sekitar bendungan. (Foto: Lombokini.com/Humas Polres Lotim).

Lombok Timur

Bendungan Pandandure Merenggut Nyawa Anak 12 Tahun Asal Kalimantan

Jumat, 8 Mei 2026 - 14:52 WITA