Masih Kekurangan Dokter Spesialis, Faskes di Lotim Belum Dapat Akomodir Nakes Baru Lulusan Perguruan Tinggi 

Kamis, 7 Mei 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Kepala Dinas Kesehatan Lombok Timur, Lalu Aries Fahrozi. (Foto: Lombokini.com/Izzul Khairi).

Kepala Dinas Kesehatan Lombok Timur, Lalu Aries Fahrozi. (Foto: Lombokini.com/Izzul Khairi).

LOMBOKINI.com – Kepala Dinas Kesehatan (Dikes) Lombok Timur (Lotim) Nusa Tenggara Barat (NTB), Lalu Aries Fahrozi mengakui fasilitas kesehatan (faskes) seperti rumah sakit masih kekurangan beberapa dokter spesialis. Namun demikian, sebagai rumah sakit type B, keberadaan RSUD dr R. Soedjono Selong masih terus mengembangkan diri dan menambah aneka jenis pelayanan kepada pasien.

Di sisi lain, tenaga kesehatan (nakes) seperti perawat dan bidan tiap tahun bertambah, merupakan lulusan baru perguruan tinggi ilmu kesehatan. “Khusus yang pulang ke Lombok Timur, bisa jumlahnya antara 600 hingga 700 orang lulusan nakes baru dari PT di pulau Lombok dan PT di pulau lainnya,” katanya kepada media, Kamis 7 Mei 2026. “Ini tentu menjadi persoalan ketenagakerjaan tersendiri, mengingat tidak semuanya yang dapat diakomodir di faskes yang tersedia di daerah kita,” tambahnya.

Pertumbuhan jumlah rumah sakit atau klinik kesehatan di Lotim, katanya, belum sebanding dengan tingginya jumlah ketersediaan nakes baru lulusan PT dimaksud. Menurut Fahrozi yang juga Ketua Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Lombok Timur ini, para lulusan baru nakes tersebut semestinya sejak mempersiapkan diri sebelum diwisuda tentang alternative pekerjaan yang akan dipilih. “Tidak mungkin puskesmas (PKM) atau RS yang ada di daerah kita akan mengakomodir mereka semua,” katanya.

Baca Juga :  Influenza A, Berbahaya, kah? Begini Penjelasan Dokter Ario

Apalagi ketentuan dari pemerintah pusat telah jelas menegaskan pemerintah daerah dilarang menerima atau mengangkat tenaga honorer baru. “Setiap saya memberikan kuliah, selalu saya menyampaikan agar para mahasiswa kesehatan tidak hanya berharap kepada pemerintah untuk ditempatkan di faskes daerah kelak sesudah mereka lulus,” ujarnya.

Membuka klinik baru dengan berkolaborasi antara lulusan baru yang satu dan lainnya, atau berpraktik mandiri, disarankan lebih baik ketimbang berharap slot dari pemerintah daerah. “Bahkan beberapa negara juga sebenarnya berharap para perawat atau bidan dan nakes lainnya datang ke nagaranya untuk mengambil bagian dari lowongan yang banyak tersedia,” katanya.

Sebagai Ketua PPNI Lotim, Fahrozi mencatat saat ini anggotanya berjumlah 2.455 orang. Belum termasuk bidan. Mereka telah berstatus pegawai pemerintah dengan perjaniian kerja (P3K). Mereka tersebar di PKM, RSUD dan Dikes. Banyak di antara mereka yang belum menjadi anggota PPNI, terutama yang baru-baru lulus PT. “Tetapi jumlah ini pun sebenarnya belum ideal untuk melayani kesehatan penduduk Lotim yang 1,4 juta jiwa,” katanya. Artinya, nakes tersebut sesungguhnya masih dibutuhkan.

Baca Juga :  DPRD Lombok Timur Tetapkan APBD Perubahan 2026, Minta Pemda Percepat Realisasi

Namun fakta di lapangan saat ini, terkait pula dengan kebijakan pemerintah pusat, para nakes harus dihadapkan dengan kenyataan tidak terlalu menyenangkan. “Lihatlah dunia ini. Begitu luas. Kita harus hidup di dalamnya dengan penuh inovasi. Jangan berhenti sampai di sini, hanya dengan mengandalkan keahlian di satu bidang,” demikian cerita Fahrozi menyemangati para mahasiswanya saat memberikan kuliah di salah satu perguruan tinggi di Lombok Timur.

“Mereka harus bisa kembangkan diri. Kalau terbentur masalah di dalam daerah, kan bisa di luar negeri. Banyak negara yang membutuhkan tenaga kesehatan dari Indonesia,” katanya.

Dia melihat semangat masyarakat menyekolahkan anaknya di sekolah-sekolah berkurikulum ilmu kesehatan demikian tinggi. Hal ini menyebabkan makin bertumbuhnya PT yang membuka program studi ilmu kesehatan di seluruh daerah.

“Setelah lulus masih harus berkompetisi dengan teman sendiri untuk menuju tempat yang bisa mengakomodir tenaganya,” katanya. ***

Penulis : Izzul Khairi

Follow WhatsApp Channel lombokini.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

DKP Lombok Timur Soroti Kesenjangan Akses Digital dan Kendala Subsidi BBM Nelayan Tradisional
Knalpot Brong dan Tanpa Helm Diburu, Satlantas Lotim Catat 1.009 Penindakan dalam Sebulan
LK2T Apresiasi Bupati Ganti Direktur RSUD, Minta Evaluasi Menyeluruh dan Klarifikasi Kebijakan BPJS
Tembus 1.297 Pasien, IGD RSUD Soedjono Selong: 55 Persen dari Jalur Rujukan
Influenza A, Berbahaya, kah? Begini Penjelasan Dokter Ario
DPRD Lombok Timur Tetapkan APBD Perubahan 2026, Minta Pemda Percepat Realisasi
RSUD Selong Terapkan Mobile JKN untuk Antrean Poli Mulai 1 Oktober 2026
UAS Paparkan Tujuh Pelajaran dari Maulana Syaikh TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid

Berita Terkait

Kamis, 22 Oktober 2026 - 21:03 WITA

DKP Lombok Timur Soroti Kesenjangan Akses Digital dan Kendala Subsidi BBM Nelayan Tradisional

Kamis, 15 Oktober 2026 - 18:53 WITA

Knalpot Brong dan Tanpa Helm Diburu, Satlantas Lotim Catat 1.009 Penindakan dalam Sebulan

Kamis, 15 Oktober 2026 - 10:22 WITA

LK2T Apresiasi Bupati Ganti Direktur RSUD, Minta Evaluasi Menyeluruh dan Klarifikasi Kebijakan BPJS

Rabu, 14 Oktober 2026 - 18:29 WITA

Tembus 1.297 Pasien, IGD RSUD Soedjono Selong: 55 Persen dari Jalur Rujukan

Selasa, 6 Oktober 2026 - 19:51 WITA

Influenza A, Berbahaya, kah? Begini Penjelasan Dokter Ario

Berita Terbaru

Ketua TP PKK Provinsi NTB Hj. Sinta Agathia M. Iqbal menyapa seorang anak dalam acara cegah stunting di Kantor Desa Pringgabaya Utara, Kecamatan Pringgabaya LombokTimur. (Foto: Lombokini.com)

Opini

Benarkan Stunting di Lotim Turun Empat Persen? 

Jumat, 23 Okt 2026 - 12:12 WITA