Masih Kekurangan Dokter Spesialis, Faskes di Lotim Belum Dapat Akomodir Nakes Baru Lulusan Perguruan Tinggi 

Kamis, 7 Mei 2026 - 22:32 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kepala Dinas Kesehatan Lombok Timur, Lalu Aries Fahrozi. (Foto: Lombokini.com/Izzul Khairi).

Kepala Dinas Kesehatan Lombok Timur, Lalu Aries Fahrozi. (Foto: Lombokini.com/Izzul Khairi).

LOMBOKINI.com – Kepala Dinas Kesehatan (Dikes) Lombok Timur (Lotim) Nusa Tenggara Barat (NTB), Lalu Aries Fahrozi mengakui fasilitas kesehatan (faskes) seperti rumah sakit masih kekurangan beberapa dokter spesialis. Namun demikian, sebagai rumah sakit type B, keberadaan RSUD dr R. Soedjono Selong masih terus mengembangkan diri dan menambah aneka jenis pelayanan kepada pasien.

Di sisi lain, tenaga kesehatan (nakes) seperti perawat dan bidan tiap tahun bertambah, merupakan lulusan baru perguruan tinggi ilmu kesehatan. “Khusus yang pulang ke Lombok Timur, bisa jumlahnya antara 600 hingga 700 orang lulusan nakes baru dari PT di pulau Lombok dan PT di pulau lainnya,” katanya kepada media, Kamis 7 Mei 2026. “Ini tentu menjadi persoalan ketenagakerjaan tersendiri, mengingat tidak semuanya yang dapat diakomodir di faskes yang tersedia di daerah kita,” tambahnya.

Pertumbuhan jumlah rumah sakit atau klinik kesehatan di Lotim, katanya, belum sebanding dengan tingginya jumlah ketersediaan nakes baru lulusan PT dimaksud. Menurut Fahrozi yang juga Ketua Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Lombok Timur ini, para lulusan baru nakes tersebut semestinya sejak mempersiapkan diri sebelum diwisuda tentang alternative pekerjaan yang akan dipilih. “Tidak mungkin puskesmas (PKM) atau RS yang ada di daerah kita akan mengakomodir mereka semua,” katanya.

Baca Juga :  KPPI dan FITRA NTB Desak DPRD Lotim Kawal Darurat Air-Sampah di Pesisir Selatan

Apalagi ketentuan dari pemerintah pusat telah jelas menegaskan pemerintah daerah dilarang menerima atau mengangkat tenaga honorer baru. “Setiap saya memberikan kuliah, selalu saya menyampaikan agar para mahasiswa kesehatan tidak hanya berharap kepada pemerintah untuk ditempatkan di faskes daerah kelak sesudah mereka lulus,” ujarnya.

Membuka klinik baru dengan berkolaborasi antara lulusan baru yang satu dan lainnya, atau berpraktik mandiri, disarankan lebih baik ketimbang berharap slot dari pemerintah daerah. “Bahkan beberapa negara juga sebenarnya berharap para perawat atau bidan dan nakes lainnya datang ke nagaranya untuk mengambil bagian dari lowongan yang banyak tersedia,” katanya.

Sebagai Ketua PPNI Lotim, Fahrozi mencatat saat ini anggotanya berjumlah 2.455 orang. Belum termasuk bidan. Mereka telah berstatus pegawai pemerintah dengan perjaniian kerja (P3K). Mereka tersebar di PKM, RSUD dan Dikes. Banyak di antara mereka yang belum menjadi anggota PPNI, terutama yang baru-baru lulus PT. “Tetapi jumlah ini pun sebenarnya belum ideal untuk melayani kesehatan penduduk Lotim yang 1,4 juta jiwa,” katanya. Artinya, nakes tersebut sesungguhnya masih dibutuhkan.

Baca Juga :  Dugaan Jual-Beli Titik Program MBG dan Tambang Ilegal, Massa PMII dan HMI Geruduk Kejari Lombok Timur

Namun fakta di lapangan saat ini, terkait pula dengan kebijakan pemerintah pusat, para nakes harus dihadapkan dengan kenyataan tidak terlalu menyenangkan. “Lihatlah dunia ini. Begitu luas. Kita harus hidup di dalamnya dengan penuh inovasi. Jangan berhenti sampai di sini, hanya dengan mengandalkan keahlian di satu bidang,” demikian cerita Fahrozi menyemangati para mahasiswanya saat memberikan kuliah di salah satu perguruan tinggi di Lombok Timur.

“Mereka harus bisa kembangkan diri. Kalau terbentur masalah di dalam daerah, kan bisa di luar negeri. Banyak negara yang membutuhkan tenaga kesehatan dari Indonesia,” katanya.

Dia melihat semangat masyarakat menyekolahkan anaknya di sekolah-sekolah berkurikulum ilmu kesehatan demikian tinggi. Hal ini menyebabkan makin bertumbuhnya PT yang membuka program studi ilmu kesehatan di seluruh daerah.

“Setelah lulus masih harus berkompetisi dengan teman sendiri untuk menuju tempat yang bisa mengakomodir tenaganya,” katanya. ***

Penulis : Izzul Khairi

Berita Terkait

Perputaran Uang Capai Ratusan Miliar, Program MBG di Lombok Timur Soroti Akuntabilitas
Sasar TNI-Polri Jadi Muzaki, Baznas Lombok Timur Siap Bentuk UPZ di Polres dan Kodim
80 Tahun Mengabdi, Polres Lombok Timur Komit Kedepankan Sisi Humanis dan Pelayanan Rakyat
Seleksi Nakes Teladan Tingkat Provinsi NTB 2026, Lombok Timur Usung Tiga Inovasi Unggulan
Soroti Sengkarut Lotim, PMII: Guru Honorer Digaji Murah, Tambang Ilegal Malah Dipelihara
Melalui ‘Polantas Menyapa’, Polantas Lotim Pilih Edukasi Santai dan Ngopi Bareng Bina Klub Motor
Miris! Kepatuhan Berkendara di Lombok Timur di Bawah 50 Persen, Polantas: Biaya Operasi Kepala Rp 200 Juta, Helm Cuma Rp 150 Ribu
Dugaan Jual-Beli Titik Program MBG dan Tambang Ilegal, Massa PMII dan HMI Geruduk Kejari Lombok Timur

Berita Terkait

Jumat, 26 Juni 2026 - 19:26 WITA

Akademisi Puji Pidato Presiden Prabowo, Sebut Beri Pencerahan Visi Bangsa

Rabu, 24 Juni 2026 - 21:45 WITA

APPMBGI Serahkan SK Pengurus DPD NTB, Kritisi Carut-marut Program MBG

Senin, 22 Juni 2026 - 20:56 WITA

Dukung Revitalisasi Keraton, TSB dan Kemenbud Sinergi Lindungi Cagar Budaya Nasional

Jumat, 12 Juni 2026 - 22:25 WITA

Pertamina Pastikan Stok Pertalite Cukup dan Distribusi Normal

Sabtu, 6 Juni 2026 - 16:07 WITA

Soroti Relawan Minim Kompetensi, APJI Minta Nanik S. Deyang Perbaiki Juknis MBG

Kamis, 4 Juni 2026 - 23:43 WITA

Kepala BGN Baru Moratorium Dapur MBG, Fokuskan Sasaran pada Kelompok Prioritas

Kamis, 4 Juni 2026 - 22:51 WITA

Ini Alasan Presiden Tunjuk Nanik S. Deyang sebagai Kepala BGN

Rabu, 3 Juni 2026 - 19:39 WITA

Kejagung Tahan Dadan, Sony, dan Lodewyk Pusung sebagai Tersangka Korupsi Program MBG

Berita Terbaru