Perempuan Pesisir Lombok Timur: Mengawal Ekonomi Kelautan dan Pelestarian Mangrove Lewat Awik-Awik

Kamis, 22 Oktober 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Murnihati sedang menjemur bahan baku terasi yakni udang rebon.

Murnihati sedang menjemur bahan baku terasi yakni udang rebon.

LOMBOKINI.com —Upaya perlindungan ekosistem pesisir dan laut global kini tidak lagi semata-mata berorientasi pada target luasan kawasan konservasi, melainkan pada tata kelola yang inklusif dan berkeadilan.

Di tingkat tapak, cerita sukses tersebut tercermin dari bagaimana masyarakat pesisir di Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, merawat ruang hidup dan ekonomi laut mereka secara mandiri.

Hal tersebut mengemuka dalam salah satu rangkaian peliputan khusus Katadata Green bertajuk “Perempuan Penjaga Pesisir: Mengamankan Tiang Hidup dan Ekonomi Laut di Lombok Timur”.

Praktik baik ini salah satunya berpusat di tempat pengolahan sumber laut Dusun Jor, Desa Jerowaru, Kec. Jerowaru, Lombok Timur, yang menjadi basis kegiatan Persaudaraan Perempuan Nelayan Indonesia (PPNI) Wilayah NTB.

Koordinator PPNI Lombok Timur, Murnihati, menjelaskan bahwa keterlibatan perempuan di kawasan pesisir tidak hanya berkutat pada sektor hilir rantai ekonomi, tetapi juga menjadi garda terdepan dalam menjaga kelestarian lingkungan hidup.

Di Dusun Jor, para ibu rumah tangga nelayan telah lama dibekali keterampilan untuk mengolah langsung hasil tangkapan laut suami mereka menjadi produk bernilai tambah tinggi, seperti terasi rumahan serta aneka kerupuk (rumput laut, ikan, dan cumi).

“Dulu hasil tangkapan hanya dijual lewat pengepul. Alhamdulillah sekarang ibu-ibu bisa menjual sendiri secara bakulan dan memproduksi aneka produk olahan rumah tangga seperti terasi,” ujar Murnihati saat ditemui di Dusun Jor, Rabu (21/10/2026).

Pengembangan kapasitas ekonomi mandiri ini dirintis sejak periode 2011 – 2012 melalui kolaborasi bersama Lembaga Pengembangan Sumberdaya Nelayan (LPSDN) yang mendampingi langsung masyarakat setempat dalam memberikan pelatihan pengolahan hasil laut.

Kini, produk lokal olahan perempuan pesisir tersebut tidak hanya mendominasi pasar lokal dan pusat oleh-oleh, tetapi juga telah menembus pasar luar daerah.

 

Peran Strategis dalam Konservasi dan Awik-Awik

Lebih dari sekedar menggerakkan roda ekonomi lokal, perempuan pesisir di kawasan ini memiliki peran krusial dalam perlindungan ekosistem melalui kearifan lokal berupa aturan adat (awik-awik).

Keberadaan awik awik ini memastikan bahwa pemanfaatan perkembangan pesisir berjalan selaras dengan upaya menjaga kelestarian alam, khususnya ekosistem hutan mangrove yang menjadi tempat bernaungnya biota laut, salah satunya bahan baku terasi yakni udang rebon.

Murnihati, yang juga bagian dari Lembaga Awik-Awik Teluk Jormen, megaskan bahwa para perempuan pesisir turut aktif mengawasi dan menyebarluaskan kesadaran ekologis tersebut kepada masyarakat luas agar kawasan mangrove tetap terlindungi dari ancaman alih fungsi maupun perusakan lainnya.

“Mangrove adalah tempat bernaungnya ekosistem laut. Bakau tidak boleh dirusak,” tegasnya.

Praktik di kawajan Teluk Jor ini merefleksikan relevansi Other Effective Area-Based Conservation Measures (OECM), di mana pengakuan terhadap wilayah kelola masyarakat terbukti efektif menjaga keberlanjutan ekosistem sekaligus mempertahankan ketahanan pangan dan ekonomi lokal.

Dengan melibatkan perempuan dalam pengambilan keputusan, pengelolaan ruang pesisir di Lombok Timur membuktikan bahwa pelestarian lingkungan dan kesejahteraan masyarakat dapat berjalan beriringan secara adil dan berkelanjutan.***

Penulis : Paozan Azima

Follow WhatsApp Channel lombokini.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Bapenda Lotim Kejar PAD Rp 600 M, Target 100 Persen Akhir Tahun
Wabup Lotim Tegaskan Pelaku Judi dan Pinjaman Online Satu KK Auto Dicoret dari Daftar Bantuan Bansos
Z Coffee Hening Resmi Dibuka: Kafe Inklusif 100 Persen Dikelola Disabilitas Hadir di Lombok Timur
Cetak Wirausaha Muda Mandiri, PW Pemuda NW dan BAZNAS NTB Gelar Pelatihan Manajemen Bisnis
Konten Kreator Diusulkan Punya NIB, DPMPTSP Lotim: Mereka tidak perlu Khawatir dan Bila Perlu Kita Bimtek
Bazar Sedin Tbere: Menikmati Sosis dan Kopi dengan Lanskap Gunung Rinjani dari Bibir Kokoq Reban Samas
PW Pemuda NW NTB Gelar Diskusi dan Bakti Sosial ‘Desa Berdaya’ di Sembalun
Wasekjen Seknas FITRA Ingatkan Risiko MBG Serap Anggaran Terlalu Besar

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Kamis, 22 Oktober 2026 - 12:14 WITA

Perempuan Pesisir Lombok Timur: Mengawal Ekonomi Kelautan dan Pelestarian Mangrove Lewat Awik-Awik

Selasa, 8 September 2026 - 14:42 WITA

Bapenda Lotim Kejar PAD Rp 600 M, Target 100 Persen Akhir Tahun

Kamis, 9 Juli 2026 - 21:03 WITA

Wabup Lotim Tegaskan Pelaku Judi dan Pinjaman Online Satu KK Auto Dicoret dari Daftar Bantuan Bansos

Kamis, 9 Juli 2026 - 20:45 WITA

Z Coffee Hening Resmi Dibuka: Kafe Inklusif 100 Persen Dikelola Disabilitas Hadir di Lombok Timur

Kamis, 9 Juli 2026 - 14:18 WITA

Cetak Wirausaha Muda Mandiri, PW Pemuda NW dan BAZNAS NTB Gelar Pelatihan Manajemen Bisnis

Berita Terbaru

Dr. Maharani, peneliti Lombok Research Center (LRC), memaparkan materi tentang penguatan kapasitas pemerintah desa dalam mitigasi dan adaptasi perubahan iklim di Seco Cafe, PTC Pancor, Lombok Timur, Selasa (20/10/2026). (Foto: Lombokini.com)

Opini

Ketika Suhu Naik, Orang Miskin Membayar Harga Termahal

Rabu, 21 Okt 2026 - 08:44 WITA