LOMBOKINI.com – Guru Lauq Indonesia bersama Repoq Literasi membuka ruang pewarisan aksara Sasak kepada generasi muda. Keduanya menggelar ritual beguru, penyembe’an, dan pelantunan tembang Serat Rengganis. Peluncuran Program Belajar Aksara Sasak Hanacaraka itu memadukan prosesi adat, doa, dan tradisi sastra lisan.
Pengerakse Majelis Adat Sasak (MAS) Dr. Lalu Sajim Sastrawan memimpin prosesi penyembe’an dua peserta didik. Penyelenggara memilih dua peserta didik secara simbolis, masing-masing seorang laki-laki dan seorang perempuan. Prosesi itu membuka program yang menghubungkan pembelajaran aksara dengan penghormatan terhadap tradisi Sasak.
Panitia menyiapkan perlengkapan ritual dalam sebuah bokor kuningan. Bokor itu berupa wadah menyerupai baskom untuk menaruh andang-andang. Di dalamnya terdapat beras, lekoq lekes, benang, gula, pisang, dan uang.
Doa mewarnai rangkaian ritual sebagai ungkapan harapan dan permohonan kepada Nenek Sak Kuase. Doa dalam kegiatan ini berkaitan dengan harapan agar proses belajar berjalan lancar dan peserta memperoleh kebaikan dalam menuntut ilmu.
Dalam kehidupan masyarakat Sasak, ritual adat menjadi salah satu ruang pewarisan pengetahuan dan nilai budaya. Masyarakat mewariskannya melalui tindakan simbolis dan keterlibatan anggota masyarakat. Kehadiran perlengkapan ritual dan doa memperlihatkan perjumpaan antara praktik tradisi dan upaya pendidikan berbasis budaya.
Prosesi penyembe’an menghadirkan pengalaman budaya bagi peserta didik sejak awal kegiatan. Peserta berhadapan langsung dengan praktik adat yang masih dijaga masyarakat. Program pembelajaran membuka kesempatan untuk mengenal aksara Sasak secara lebih terarah.
Founder Guru Lauq Indonesia Dr. Hanapi, M.Si mengatakan, pihaknya merancang peluncuran program tersebut dengan menghadirkan tradisi Sasak. Tujuannya, agar pembelajaran aksara memiliki kedekatan dengan kehidupan masyarakat.
“Kita ingin generasi muda mengenal aksara Sasak melalui ruang belajar yang dekat dengan kebudayaan sendiri. Aksara, bahasa, sastra, dan adat merupakan bagian dari warisan yang perlu dipelajari dan diteruskan kepada generasi berikutnya,” ujar Hanapi yang juga Ketua SMSI Cabang Lombok Timur, Kamis (15/10/2026).
Menurut Hanapi, pelestarian aksara membutuhkan kegiatan pembelajaran yang terarah dan berkelanjutan. Generasi muda perlu memperoleh kesempatan untuk mengenali bentuk huruf, mempelajari penggunaannya, serta memahami hubungan aksara dengan pengetahuan dan identitas budaya masyarakat Sasak.
Ia berharap kolaborasi Guru Lauq Indonesia dan Repoq Literasi berkembang menjadi ruang belajar yang terbuka bagi masyarakat. Kegiatan memerlukan dukungan tokoh adat, keluarga, komunitas literasi, dan lembaga pendidikan. Dukungan itu memperkuat kegiatan melalui kelas rutin, pendampingan, dan penyediaan bahan ajar.
“Kita berharap program ini tumbuh menjadi kegiatan belajar yang berkesinambungan. Generasi muda perlu mengenal aksara Sasak, memahami nilai budayanya, dan memiliki kebanggaan untuk ikut menjaga warisan tersebut,” katanya.
Kegiatan berlanjut dengan tembang pengantosan. Para penampil melantunkan Serat Rengganis. Penampilan tersebut menghadirkan sastra lisan dalam kegiatan literasi sekaligus memperkenalkan kekayaan ekspresi budaya Sasak.
Serat Rengganis menempati bagian penting dalam khazanah sastra tradisional Sasak. Keberlangsungannya berkaitan dengan praktik menembang, penguasaan bahasa, dan keterlibatan masyarakat. Masyarakat meneruskan karya sastra itu dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Tradisi menembang dan pembelajaran aksara memiliki jalur pewarisan yang berbeda. Keduanya dapat saling melengkapi dalam penguatan literasi budaya. Tembang mempertahankan karya sastra melalui suara dan pertunjukan, sedangkan aksara menyediakan sarana untuk membaca dan menulis.
Melalui perpaduan keduanya, generasi muda memperoleh kesempatan mengenal kebudayaan. Mereka mendengar tembang, memahami bahasa, serta berlatih membaca dan menulis aksara. Pengalaman tersebut memperluas pemahaman terhadap hubungan antara bahasa, sastra, adat, dan identitas masyarakat Sasak.
Hanapi menilai pendekatan pembelajaran yang dekat dengan kehidupan budaya dapat menumbuhkan kepedulian generasi muda terhadap warisan leluhur. Ia berharap peserta didik terus menggali pengetahuan lokal, termasuk aksara dan sastra tradisional.
Ritual beguru, penyembe’an, doa, dan pelantunan Serat Rengganis menandai peluncuran program. Rangkaian itu menjadi langkah awal untuk mempertemukan adat, spiritualitas, sastra, dan pendidikan dalam gerakan literasi budaya. ***
Editor : Najamudin Anaji









![PT Bintang Perdana Gemilang. [Foto: Istimewa]](https://lombokini.com/wp-content/uploads/2026/08/IMG-20260819-WA0100-360x200.jpg)




Komentar