LOMBOKINI.com – Dalam rangka memperingati Bulan Bung Karno, Anggota DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, H. Rachmat Hidayat, resmi membuka Rumah Aspirasi di Kabupaten Lombok Timur.
Fasilitas ini didirikan sebagai wadah terbuka bagi seluruh elemen masyarakat untuk menyampaikan usulan, keluhan, sekaligus menjadi posko penggerak partai.
Acara peresmian ini dihadiri oleh jajaran pengurus partai dari tingkat pusat hingga daerah. Dari DPP, hadir Anggota Komisi I DPR RI Yulius Setiarto dan Sri Rahayu. Dari DPD PDIP Provinsi NTB, tampak hadir drg. Meily Zuraida, H. Ruslan Turmuzi, Mahsan, Lalu Chandra Yudistira, I Gusti Lanang Media, Nyayu Ernawati, dan Wahyu Septtriandi.
Sementara dari DPC PDIP Lombok Timur, hadir Ketua DPC Ahmad Sukro, Sekretaris DPC Ahmad Amrullah, Anggota DPRD Lombok Timur Marianah, serta sejumlah pengurus lainnya.
Acara peresmian ini disambut antusias oleh warga setempat. Pada penghujung acara, seorang warga sempat mempertanyakan mengenai syarat administratif, seperti pengajuan proposal, untuk bisa berkonsultasi di tempat tersebut.
Menanggapi hal itu, Rachmat menegaskan bahwa Rumah Aspirasi ini terbuka lebar bagi siapa saja tanpa syarat yang rumit maupun batasan latar belakang politik.
Dalam sambutannya, H. Rachmat Hidayat menekankan bahwa tempat ini didedikasikan sepenuhnya sebagai ruang pengaduan yang inklusif.
“Rumah ini milik rakyat. Siapa pun boleh datang dan menyampaikan persoalannya tanpa melihat latar belakang politik, agama, profesi, maupun golongan,” tegas Rachmat.
Politisi kharismatik Bumi Gora ini mengungkapkan bahwa masyarakat masih menghadapi banyak persoalan pelik, mulai dari infrastruktur, kesehatan, pendidikan, bansos, pertanian, nelayan, hingga hambatan birokrasi. Kehadiran Rumah Aspirasi diharapkan mampu menjadi jembatan penuntas masalah tersebut.
“Jangan biarkan rakyat berjuang sendiri menghadapi persoalannya. Negara harus hadir, dan kami ingin menjadi penghubungnya. Politik harus terasa manfaatnya, ukurannya sederhana: apakah rakyat terbantu atau tidak,” ujarnya.
Rachmat menjamin setiap keluhan akan dikaji dan dikawal hingga tuntas, baik melalui koordinasi dengan pemerintah daerah maupun diperjuangkan ke tingkat pusat di Senayan. Menurutnya, fasilitas ini menjadi jawaban bagi warga yang kerap bingung harus mengadu ke mana saat menghadapi masalah.
“Jangan ragu datang, sampaikan masalahnya. Kami akan kawal sampai ada jalan keluarnya. Yang paling penting, rakyat punya tempat mengadu dan punya harapan bahwa suaranya didengar. Bung Karno mengajarkan bahwa politik harus berpihak kepada wong cilik. Rumah Aspirasi ini adalah salah satu bentuk keberpihakan itu,” pungkas politisi lintas zaman tersebut.
Pengurus DPP PDI Perjuangan, Sri Rahayu, menyatakan bahwa kehadiran Rumah Aspirasi ini bertujuan memangkas jarak struktural antara masyarakat dengan wakil rakyatnya.
Melalui wadah ini, setiap persoalan sosial kemasyarakatan mulai dari tingkat lokal hingga nasional diharapkan dapat dicarikan solusi secara bersama-sama.
Tuturnya, rumah Aspirasi ini sengaja dibuat sebagai tempat berkumpul jika ada keinginan atau masalah sosial kemasyarakatan.
“Siapa pun boleh datang, tidak dibatasi apakah orang partai atau bukan. Jika tidak bisa diselesaikan langsung oleh Pak Rachmat dan staf, akan dikoordinasikan dengan instansi terkait. Jadi jangan sungkan,” ujar Sri Rahayu saat memberikan sambutan di hadapan warga.
Sri menambahkan, seorang anggota legislatif diinstruksikan untuk tidak menolak aspirasi warga, apa pun latar belakang komisi tempatnya bertugas di parlemen.
“Pak Rachmat berada di Komisi I, tetapi sebagai anggota legislatif tidak boleh menolak aspirasi. Yang penting masyarakat punya masalah dan ingin mencari solusinya, sampaikan ke sini,” tegasnya.
Saat diwawancarai seusai acara, Sri Rahayu juga menjelaskan bahwa konsep Rumah Aspirasi ini mengadopsi fungsi posko-posko rakyat yang marak pada era pemilu awal reformasi tahun 1990-an. Tempat ini didesain agar masyarakat dapat berbicara santai tanpa adanya sekat pembatas formal.
Bung Karno, ungkapnya, adalah orang yang paling dekat dengan rakyat, dan orang-orang partai yang sebagai anak ideologisnya diinstruksikan membuat rumah aspirasi yang sekaligus berfungsi sebagai posko.
“Di sini semua orang bisa berbicara santai dan mengutarakan isi hati tanpa rasa sungkan atau takut. Semua persoalan dilebur dan diselesaikan secara bergotong-royong,” jelas Sri Rahayu.
Mengenai jam operasional harian, ia menyebutkan bahwa waktu pelayanan akan diatur secara fleksibel oleh staf posko, kecuali untuk penanganan urusan yang sifatnya mendesak atau darurat (urgent).
Di sisi lain, peresmian ini juga menjadi bagian dari rangkaian instruksi partai dalam mengisi Bulan Bung Karno yang jatuh setiap bulan Juni.
Ketua DPC PDI Perjuangan Lombok Timur, Ahmad Sukro, memaparkan bahwa seluruh struktur partai diwajibkan menggelar berbagai kegiatan sosial dan ideologis yang bervariasi setiap tahunnya.
“Seluruh struktur partai di masing-masing tingkatan diwajibkan melaksanakan kegiatan memperingati Bulan Bung Karno. Mulai dari potong tumpeng dan doa bersama di kantor DPC, hingga diskusi mengenai ajaran dan legacy beliau,” ungkap Ahmad Sukro.
Ahmad Sukro menggarisbawahi bahwa fokus utama dari rangkaian agenda ini adalah menghidupkan kembali nilai-nilai luhur yang mulai luntur di tengah masyarakat modern.
“Titik berat kami adalah bagaimana menularkan ajaran Bung Karno seperti gotong royong, kepedulian, rendah hati, dan kekeluargaan kepada masyarakat di tengah tingginya sifat individualis zaman sekarang,” pungkasnya.****
Penulis : Paozan Azima







