Guru Besar Fakultas Geografi UGM Sampaikan Lima Pilar Penting untuk Mitigasi Risiko Pendakian Rinjani

Selasa, 22 Juli 2025 - 08:42 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Lombok Melonjak ke Peringkat Kedua Pulau Terbaik Asia, Buktikan Daya Tarik Wisata Dunia. (Foto: Lombokini.com).

Lombok Melonjak ke Peringkat Kedua Pulau Terbaik Asia, Buktikan Daya Tarik Wisata Dunia. (Foto: Lombokini.com).

LOMBOKINI.com Wisata petualangan alam, terutama pendakian gunung, terus melonjak dalam popularitas. Gunung Rinjani di Lombok pun menjadi salah satu destinasi favorit wisatawan domestik dan mancanegara. Namun, peningkatan kunjungan ini seringkali belum mampu sistem keselamatan imbangi.

Prof. Dr. M. Baiquni, M.A., Guru Besar Fakultas Geografi dan Ketua Dewan Guru Besar UGM, menegaskan bahwa topografi Rinjani menyimpan risiko tinggi. Berdasarkan pengalamannya mendaki gunung itu pada tahun 1983, ia menjelaskan bahwa aktivitas vulkanik membentuk medan dengan tebing curam, kaldera tajam, dan paparan gas sulfur.

“Aktivitas intrusi magma mengangkat Pulau Lombok sehingga membentuk Rinjani. Kalderanya yang curam, tebing-tebing tajam, serta danau Segara Anak membuatnya sangat berbeda dari pegunungan non-vulkanik seperti Alpen atau Andes,” ungkap Baiquni disitus ugm.ac.id kutip Lombokini.com, Selasa 22 Juli 2025.

Baiquni menekankan bahwa risiko pendakian tidak hanya berasal dari kondisi fisik gunung, tetapi juga dari ketidaksiapan psikologis dan kurangnya edukasi wisatawan.

Ia mengatakan banyak pendaki menganggap medan Rinjani sama dengan gunung populer lain, padahal medan vulkanik menyimpan bahaya unik. Tanpa pemahaman cukup, tubuh dapat bereaksi negatif terhadap lingkungan ekstrem dan memicu keputusan keliru.

“Wisatawan yang belum terbiasa dengan gunung vulkanik bisa linglung bahkan berhalusinasi saat sulfur terpapar atau mereka berada di ketinggian beroksigen tipis,” tambahnya.

Menurut Baiquni, pendakian bukan sekadar soal kekuatan fisik, melainkan kemampuan mengelola ego dan emosi. Ia menyoroti pentingnya pembinaan mental dan kesadaran diri.

Baca Juga :  Sempurnakan Program DAK 2027 dengan Mendata Penulis Lokal: Adakah Peluang Pengadaan Buku Karya Penulis Lokal?

“Pendakian bukan soal menaklukkan alam, tetapi mengelola hasrat dan batas diri. Ini adalah ruang kontemplatif untuk mengenali diri sendiri,” jelasnya.

Tanpa pengendalian diri, keinginan mencapai puncak bisa berubah menjadi sikap nekat berisiko fatal. “Saya selalu ingat quote Reinhold Messner: it’s not the mountain we conquer, but ourselves,” ucap Baiquni.

Manajemen destinasi Rinjani telah menerapkan sistem buka-tutup jalur berdasarkan musim. Penutupan jalur saat hujan merupakan strategi konservasi sekaligus pencegahan kecelakaan. Namun, Baiquni mencatat masih ada wisatawan yang nekat melanggar aturan dan menyusup masuk jalur resmi yang belum dibuka.

“Biasanya kami menutup jalur Januari hingga Maret. Ini bagian penting dari strategi visitor management agar alam bisa pulih dan pendaki merencanakan kunjungan dengan aman,” tegasnya.

Meski teknologi membantu navigasi dan informasi spasial, Baiquni menegaskan bahwa teknologi tidak menggantikan pengalaman dan insting lapangan. Penggunaan peta digital atau aplikasi cuaca perlu pendampingan pelatihan dasar survival dan etika tim. Ia mendorong pelatihan dasar seperti diklatsar, tali-temali, dan pembacaan medan menjadi prasyarat pendakian, terutama bagi wisatawan asing.

“Beda alat, beda naluri. Kadang orang terlalu fokus pada puncak sampai lupa diri,” tuturnya.

Menghadapi perubahan iklim, Baiquni menekankan perlunya sistem mitigasi yang lebih adaptif dan prediktif. Membaca tanda-tanda alam tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada pemahaman lokal dan intuisi alami. Ia menekankan pentingnya menggabungkan sains modern dan kearifan lokal.

Baca Juga :  Viral! Video Asusila 4 Remaja di Bawah Umur Meresahkan Warga Tanjung Luar, Pihak Polisi Sedang Menyelidikinya

“Kita diberi indera, nalar, dan nurani. Gunakan itu untuk membaca tanda-tanda alam, seperti awan, arah angin, dan pola kabut,” tegasnya.

Sebagai solusi, Baiquni menyampaikan Lima Pilar Mitigasi Risiko Wisata Gunung:

  1. Klasifikasi Pendaki: Pengelola harus membedakan pendaki berdasarkan pengalaman dan pelatihan (pemula, terlatih dasar, profesional). “Pemula wajib pakai guide dan perlengkapan standar. Pendaki berpengalaman pun sebaiknya tidak mendaki sendirian,” tegasnya.
  2. Pengendalian Jumlah Pengunjung: Batasi pengunjung di jalur ekstrem sempit untuk mengurangi tekanan ekosistem dan risiko kecelakaan.
  3. Pemetaan Destinasi Alternatif: Dorong vulkanoturisme ke gunung lain dengan daya tarik serupa untuk mengurangi tekanan terhadap Rinjani.
  4. Informasi Transparan: Sediakan informasi akurat tentang cuaca, tarif jasa, dan kondisi jalur. “Wisatawan tidak boleh membeli ilusi, mereka harus datang dengan ekspektasi dan kesiapan benar,” jelasnya.
  5. Sistem Tanggap Darurat Terintegrasi: Bangun koordinasi penyelamatan, sarana komunikasi, dan jalur evakuasi. “Kecepatan respons dan kesiapsiagaan menjadi kunci. Sistem ini perlu dukungan institusional, bukan hanya mengandalkan inisiatif lokal,” katanya.

“Risiko tidak akan hilang, tapi kita bisa mengendalikannya dengan perencanaan matang dan kebijakan yang berpihak pada keselamatan,” pungkas Baiquni.

Ia menegaskan kelima pilar ini sebagai pondasi pariwisata alam yang aman dan berkelanjutan. ***

Editor : Najamudin Anaji

Sumber Berita : ugm.ac.id

Berita Terkait

BPBD NTB dan Lombok Timur Uji Ketangguhan Desa dengan SIK SIAGA
Bapenda Lombok Timur Luruskan Redaksi SPPT PBB: Rumah Wajib Pajak Tidak Akan Disita
KPK Pantau Implementasi Desa Antikorupsi di Lombok Timur
KPK Geledah Rumah Kontraktor di Lombok Timur Terkait OTT Bupati Lombok Barat, Pemilik Rumah Buka Suara
Koresponden tvOne Datangi Ponpes Al-Ishlahuddiny dan Sampaikan Maaf atas Polemik Pemberitaan
Kapolres Lotim AKBP Ariakta Awali Masa Jabatan dengan Silaturahmi ke PBNW dan PB NWDI
Gubernur NTB Dukung Penuh Pelaksanaan UKW SMSI 28-29 Juli
Bupati Lotim Lepas Dandim dan Kapolres Lama, Sambut Pejabat Baru

Berita Terkait

Kamis, 30 Juli 2026 - 21:14 WITA

BPBD NTB dan Lombok Timur Uji Ketangguhan Desa dengan SIK SIAGA

Selasa, 28 Juli 2026 - 19:07 WITA

KPK Pantau Implementasi Desa Antikorupsi di Lombok Timur

Senin, 27 Juli 2026 - 12:11 WITA

KPK Geledah Rumah Kontraktor di Lombok Timur Terkait OTT Bupati Lombok Barat, Pemilik Rumah Buka Suara

Kamis, 16 Juli 2026 - 20:20 WITA

Kapolres Lotim AKBP Ariakta Awali Masa Jabatan dengan Silaturahmi ke PBNW dan PB NWDI

Rabu, 15 Juli 2026 - 12:19 WITA

Bupati Lotim Lepas Dandim dan Kapolres Lama, Sambut Pejabat Baru

Rabu, 15 Juli 2026 - 09:07 WITA

BAZNAS Lotim Klarifikasi Pernyataan Anggota Dewan Syariah Soal Zakat DPRD

Selasa, 14 Juli 2026 - 14:39 WITA

Target PAD 2026, Pemkab Lombok Timur Gali Potensi Pajak dan Retribusi Daerah

Kamis, 9 Juli 2026 - 17:24 WITA

Sempurnakan Program DAK 2027 dengan Mendata Penulis Lokal: Adakah Peluang Pengadaan Buku Karya Penulis Lokal?

Berita Terbaru

PT Amman Mineral International Tbk mengoperasikan smelter peleburan bijih tambang di Maluk, Kecamatan Maluk, Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat. (Foto: Lombokini.com/Amman.co.id).

Opini

Beroperasinya Smelter PT. AMMAN: Renegoisasi Royalti 

Jumat, 31 Jul 2026 - 07:46 WITA

BPBD NTB bersama BPBD Lombok Timur memfasilitasi desa sasaran mengikuti Penilaian Ketangguhan Desa berbasis SIK SIAGA di Aula BPBD Lombok Timur, Kamis 30 Juli 2026. (Foto: Lombokini.com)

Lombok Timur

BPBD NTB dan Lombok Timur Uji Ketangguhan Desa dengan SIK SIAGA

Kamis, 30 Jul 2026 - 21:14 WITA