LOMBOKINI.com – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) di bawah kepemimpinan Gubernur Lalu Muhamad Iqbal dan Wakil Gubernur Indah Dhamayanti Putri meluncurkan program unggulan Desa Berdaya NTB, sebuah inisiatif strategis untuk menekan angka kemiskinan dan mempercepat kemandirian ekonomi masyarakat desa.
Program ini dirancang untuk memperkuat fondasi pembangunan desa melalui dua pendekatan utama, yakni Desa Berdaya Transformatif dan Desa Berdaya Tematik.
Keduanya menjadi instrumen baru dalam strategi pemerintah daerah untuk menurunkan angka kemiskinan ekstrem dan memperluas basis ekonomi lokal.
“Program ini tidak sekadar bantuan sosial, tetapi mengubah cara pandang masyarakat agar mandiri dan produktif,” kata Giri Arnawa, Tim Ahli Gubernur Bidang Percepatan Pembangunan dan Penguatan Koordinasi, Kamis 23 Oktober 2025.
Pendampingan Intensif 15 Ribu Rumah Tangga Miskin
Desa Berdaya Transformatif menargetkan 15.858 rumah tangga miskin (RTM) di 106 desa miskin ekstrem di seluruh NTB. Pendekatannya berbasis konsep Graduasi, yakni proses peningkatan kesejahteraan secara bertahap, adaptif, dan berbasis bukti.
Setiap keluarga akan didampingi secara intensif minimal selama dua tahun untuk memastikan mereka benar-benar keluar dari garis kemiskinan ekstrem.
Pendampingan dilakukan melalui empat pilar utama:
- Perlindungan Sosial, untuk memastikan pemenuhan kebutuhan dasar.
- Pengembangan Mata Pencaharian, guna memperkuat sumber pendapatan.
- Pemberdayaan Sosial, untuk mendorong perubahan perilaku dan inklusi sosial.
- Inklusi Keuangan, agar masyarakat mampu mengelola pendapatan dan tabungan secara berkelanjutan.
Selain empat pilar tersebut, pendekatan A–B-C yang merupakan singkatan dari Asset, Basic Need, dan Coaching ini menjadi kunci keberhasilan pendampingan.
Melalui skema ini, keluarga miskin difasilitasi agar memiliki aset produktif, terpenuhi kebutuhan dasarnya, dan mendapatkan pelatihan yang berkelanjutan.
“Iya memang begitu, untuk Desa Berdaya Transformatif 1:50 itu maksimal dan intensif minimal dua tahun, dengan indikator pasti dan keluar dari kemiskinan ekstrem yang masuk desil 1,” ungkap Giri Arnawa.
“Jadi kita harap bisa mendapat pendamping yang handal, berintegritas, punya kepedulian bersama di dalam pengentasan kemiskinan di NTB,” tambahnya.
Desa Tematik: Dorong Potensi Lokal dan Kemandirian Ekonomi
Sementara itu, Desa Berdaya Tematik menyasar 336 desa miskin absolut dan 724 desa atau kelurahan lainnya di seluruh NTB. Fokusnya pada pengembangan potensi lokal sesuai karakteristik wilayah melalui 20 agenda kerja prioritas: 15 bidang penguatan kapasitas desa dan 5 bidang keunggulan kompetitif daerah.
Program ini menitikberatkan pada peningkatan Indeks Desa Mandiri (IDM) dan kemandirian ekonomi berbasis potensi lokal.
Pemerintah provinsi menekankan bahwa kolaborasi lintas sektor menjadi kunci keberhasilan, melibatkan pemerintah pusat, kabupaten/kota, sektor swasta, perguruan tinggi, komunitas lokal, dan lembaga mitra pembangunan.
DPMPD NTB Jadi Pengampu Utama
Sebagai pelaksana utama, Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Pemerintahan Desa, Kependudukan, dan Pencatatan Sipil (DPMPD Dukcapil) Provinsi NTB menjadi motor penggerak program Desa Berdaya.
Kepala DPMPD Dukcapil NTB, Lalu Hamdi, menegaskan bahwa program ini merupakan komitmen nyata pemerintah daerah dalam membangun pusat pertumbuhan ekonomi berbasis desa.
“Program ini difokuskan untuk mengentaskan kemiskinan, mewujudkan kemandirian pangan, serta memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat secara berkelanjutan,” ujarnya.
Menurut Hamdi, pendekatan tematik.mencakup 1.166 desa dan kelurahan di seluruh NTB, dengan fokus pada tema sesuai potensi seperti pertanian, pariwisata, kesehatan, dan lingkungan. Sementara pendekatan transformatif menyasar 106 desa dengan penduduk miskin ekstrem terbanyak.
Pada tahap pertama tahun 2026, sebanyak 40 desa akan menjadi lokasi intervensi awal, dengan target 7.225 kepala keluarga penerima manfaat.
“Pendamping desa menjadi ujung tombak. Mereka tidak hanya mendata, tetapi juga mengedukasi dan mendampingi keluarga miskin agar menemukan potensi usaha yang sesuai. Dua tahun ke depan, kami ingin keluarga miskin ekstrem benar-benar keluar dari garis kemiskinan,” tegas Hamdi.
Program Desa Berdaya NTB diharapkan mampu menjadi ‘game changer’ dalam menurunkan angka kemiskinan ekstrem, sekaligus mempercepat pencapaian target pembangunan daerah yang inklusif dan berkelanjutan.***
Penulis : Harry Bahagia







