Deep Learning Perlu untuk Semua Jenjang Pendidikan

Jumat, 23 Mei 2025 - 15:15 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Prof. Dr. Muhammad Firdaus, SP, M. Si . (Foto: Lombokini.com/Istimewa).

Prof. Dr. Muhammad Firdaus, SP, M. Si . (Foto: Lombokini.com/Istimewa).

Oleh: Prof. Dr. Muhammad Firdaus, SP, M.Si

Baru-baru ini saya melakukan kunjungan rutin ke salah satu sekolah Indonesia di luar negeri. Pada saat saya masuk ke kelas 6, sisw sedang diberikan materi pelajaran statistika. Luar biasa sebetulnya di tingkat SD, murid sudah belajar mean, median dan mode. Saya perhatikan guru dengan baik sudah mengajarkan cara menghitung ketiga nilai statistik tersebut. Namun penggunaan “logika” masih terbatas.

Karena sangat relevan dengan mata kuliah yang saya asuh di IPB, saya langsung tertarik untuk mengajak siswa mendalami. Awalnya dengan menjelaskan “epistemologi” rataan, nilai tengah dan modus. Ada kesan memang siswa lebih menguasai cara menghitungnya, belum kepada pengertian atau kegunaan dari pemgetahuan terhadap angka-angka yang diperoleh. Berbagai ilustrasi saya coba sampaikan, mulai dari siswa yang mempunyai tinggi badan bervariasi namun secara umum sesama siswa kelas 6 di sekolah Internsional badannya lebih tinggi daripada siswa kelas 6 di sekolah Indonesia. Dalam ilustrasi lain, saya memberikan contoh hasil panen dari pohon sawit di Malaysia yang lebih banyak dari pohon sawit di Indonesia. Dengan kata lain kita bisa membandingkan antar kelompok mana yang lebih produktif, mana yang lebih baik kondisinya dan seterusnya. Modus yang berasal dari kata mode (yang paling sering ditampilkan) dapat menunjukkan persitiwa yang paling sering terjadi. Sebagai contoh kejahatan yang frekuensinya paling tinggi di beberapa kota wisata di Eropa adalah pencopetan.

Siswa memang tidak cukup diberikan angka-angka lalu menghitung ketiga nilai statistik tadi. Seharusnya diberikan ilustrasi semisal terdapat data tinggi badan murid di tiga sekolah. Lalu siswa diminta menentukan sekolah mana yang mempunyai siswa dengan rata-rata badan paling tinggi. Juga dapat diberikan ilustrasi perhitungan misalnya jika ingin menentukan kelompok mana yang akan jadi pemenang dalam suatu lomba yang diikuti secara bersama-sama.

Deep learning yang sedang diusung Mendikdasmen menurut hemat saya juga sangat penting diterapkan di kurikulum Perguruan Tinggi. Saya yang mengasuh mata kuliah ekonomi dan metode kuantitatif seperti ekonometrika, melihat di banyak universitas dosen dan mahasiswa mengandalkan tayangan power point, yang tidak jarang “dihafalkan” mahasiswa saat akan menempuh ujian. Budaya membaca buku teks “asli” atau yang memang ditulis pakar ternama sering menjadi barang langka. Ilustasi yang menarik dan pemahaman secara mendalam akibatnya tidak diperoleh mahasiswa.

Kebanyakan mahasiswa ekonomi saat ini merekam dalam ingatan mereka daftar asumsi yang membedakan pasar yang bersaing (disebut PPS di Indonesia), dengan monopoli atau oligopoli. Mulai dari jumlah penjual dan pembeli, keadaan produk dan seterusnya. Daftar ini biasanya dihafal sebagai penciri jenis struktur pasar. Samuelson dalam buku pengantar ekonominya memberikan ilustrasi struktur pasar dalam sebuah “continuum” yang mempunyai dua titik ekstrim di ujung kanan adalah pasar yang bersaing (seperti sifat malaikat), dan di ujung kiri adalah monopoli (seperti sifat iblis). Tentu kebanyakan yang berlaku di dunia nyata adalah di sepanjang kontinum tersebut (sifat manusia biasa). Yang menarik untik ditanyakan kepada mahasiswa sebagai bagian dari deep learning adalah misalnya: dimana letak titik struktur pasar persaingan monopolistik dan oligopoli. Mana yang lebih dekat ke ekstrim kanan atau sebaliknya? Tentu hal ini tidak dapat ditanyakan kepada mahasiswa yang hanya menghafal daftar asumsi struktur pasar. Tidak jarang poin-poin daftar tersebutlah yang menjadi materi dalam soal ujian.

Baca Juga :  Merintih dari Tanah: Catatan H Rachmat Hidayat Tentang Pangan, Rakyat, dan Masa Depan

Untuk metode kuantitatif seperti ekonometrika dan matematika ekonomi, deep learning semakin diperlukan. Mahasiswa tidak boleh hanya diberikan pengetahuan persaman-persamaan hubungan Y dan X, atau teknik menghitung besaran slope atau konstanta garis regresi. Pemaknaan secara baik mulai dari pemahamam dasar semisal korelaai dan garis regresi sampai kepada mengartikan dengan “logika” ekonomi besaran parameter dugaan atau residual yang diperoleh seyogyanya menjdi sasaran pembelajaran.

Pada era 1980 dan 1990-an, di perguruam tinggi Indonesia pelajaran ekonometrika diberikan kepada mahasiswa dengan buku teks dari Koutsoyiannis. Dalam buku ini secara konsisten pemahaman awal teori regresi diberikan dengan ilustrasi fungsi konsumsi. Meksipun ada kecenderungan secara rata-rata konsumsi akan naik dengan semakin besarnya pendapatan, namun pengeluaran masyarakat tertentu bisa lebih tinggi dibanding yang lainnya, meskipun dengan pendapatan yang sama, atau sebaliknya, karena ada faktor lain semisal jumlah anggota keluarga, living cost dll. Garis regresi bertugas mecari dugaan besaran hubungan antara konsumsi dan pendapatan tersebut. Lebih lanjut tentunya dosen dapat menjelaskan fenomena bahwa jika ada dua kelompok masyarakat atau negara yang berbeda pendapatannya, maka akan diperoleh kecenderungan mengkomsumsi yang lebih menuju satu atau nol, bahkan sampai kepada logika mengapa ekonpmi negara sedang berkembang seperti Indonesia lebih tinggi dari negara yang sudah maju. Dengan demikian mahasisw tidak hanya sekedar termpil dalam menghitung berbagai parameter dugaan. Tentu saja, cerita menarik lain semisal dari Gauss tentang tinggi badan anak dan orang tuanya juga akan dapat memperkaya logika mahasiswa.

Pada tingkat yang lebih tinggi, semisal materi data panel dinamik di ekonometrika, jika mahasiswa diberikan tugas membaca buku teks semisal dari Baltagi atau Hayashi, maka akan dapat dipeoleh berbagai ilustrasi dari hasil riset penulisnya. Dalam satu model yang ditulis Baltagi berkenaan dengan kasus permintaan rokok di Amerika Serikat, setidaknya mahasiswa dapat belajar dari dua logika menarik yang dibangun dalam model. Pertama, kata dinamik menunjukkan adanya pengaruh waktu terhadap variabel konsumsi rokok negara-negara bagian. Unsur dinamka muncul karena adanya sifat “addict” dalam mengkonsumsi rokok. Ini sama halnya dengan jika ada riset konsumsi beras di Indonesia atau model investasi yang dibangun oleh Tobin. Pengalaman saya dalam menelaah disertasi atau artikel jurnal, kebanyakan mahasiswa atau peneliti tidak menjelaskan logika tersebut, hanya menunjukkan bahwa di dalam model ada variabel beda kala di ruas kanan. Kedua, pada model yang dibangun, Baltagi memasukkan variabel tingkat harga rokok negara bagian yang terdekat dengan nebara bagian yang diobservasi. Di AS pada sepanjang peeiode penelitian, ada kebijakan pembedaan tarif cukai rokok antar wilayah, misalmya di daerah pusat pariwisata tarif dibuat lebih tinggi dibanding wilayah yang menjdi kantong utama veteran perang berdomisili. Variabel tersebut dimsukkan sebagai proksi terhadap kejadian penyelundupan rokok dari satu negara bagian ke wilayah yang lain. Tentu saja kita tidak pernah mendapatkan data berapa jumlah rokok yanh diselundupkan.

Baca Juga :  Urgensi Muktamar Ke-35 NU di Lombok

Pembelajaran secara mendalam juga dapat diilustrasikan pada pelajaran matematika, baik di tingkat dasar atau yang lebih tinggi. Anak-anak yang baru dikenalkan angka dapat diberikan ilustrasi memgelompokkan buah-buahan berdasarkam warna dengan jumlah tertentu. Siswa dapat melakukan operasi penambahan atau yang laimnya secata lebih nyata. Pada pelajaran kalkulus, saat mempelajari turunan fungsi atau diferensial, kurva pangkat tiga yang dalam ekonomi disebut sebagai fungsi produksi klasik dapat digunakan untuk memberikan ilustrasi tentang proses biologis yang terjadi di alam. Contoh sederhana seperti pengaruh pemupukan pada tanaman atau penggunaan tenaga kerja pada uahatani pdi. Titik belok dapat diartikan sebagai tambahan dampak yang mulai menurun karena jumlah pupuk atau pekerja yang terus dinaikkan. Demikian seterusnya sampai kurva mencapai titik maksimum.

Membangun logika seperrt di atas, tentunya sangat penting dalam suasana murid sekolah atau mahasiswa dengan mudah mengakses berbagai informasi dengan menggunakan fasilitas AI seperti chatgpt atau deppseek. Bantuan sumber informasi digital seyogyanya tidak mengurangi kemampuan generasi penerus untuk berdaptasi atau memitigasi kondisi lingkungan yang semakin tidak dapat diprediksi. Berfikir kreatif atau inovatif menjadi kunci keberhasilan sumberdaya manusia Indonesia untuk memenangkan persaingan global, guna mencapai Indonesia emas. Pembelajaran deep learning adalah jembatan untuk menanamkan nilai bahwa belajar di sekolah atau kuliah bukan untuk mengejar prestasi akademik semata, namun agar gensrasi masa depan dapat memecahkan masalah kehidupam dalam bermasyarakat secara cerdas.

Penulis adalah Atdikbud KBRI Kuala Lumpur

Penulis : Prof. Dr. Muhammad Firdaus, SP, M.Si

Berita Terkait

Universitas Hamzanwadi Lepas 19 Mahasiswa Pariwisata Magang ke Jepang
Swasembada Pangan di Lombok Timur: Apakah Sudah Tercapai?
Merintih dari Tanah: Catatan H Rachmat Hidayat Tentang Pangan, Rakyat, dan Masa Depan
IPM Lotim Naik Signifikan, Tokoh Pendidikan Sebut Kontribusi Dinas Dikbud
Tokoh Pendidikan Pertanyakan Arah Kebijakan Strategis Pendidikan Lombok Timur
Urgensi Muktamar Ke-35 NU di Lombok
IAI Al-Manan NU Lombok Timur Jalin MoU dengan ASTEEC, Bahas Peran AI dan Penguatan Karir
Evaluasi Satu Dekade SDGs, Mahasiswa UMY Ajak Inovator Dunia Bertanding di KPM Competition 2026

Berita Terkait

Jumat, 1 Mei 2026 - 17:31 WITA

Buka Rinjani 100, Plt Kadispora Lepas Pelari Kategori Ekstrem

Kamis, 30 April 2026 - 20:14 WITA

Soal Anjing Liar, Wabup Lombok Timur: Sterilisasi Lebih Efektif daripada Eliminasi

Kamis, 30 April 2026 - 14:51 WITA

Pemkab Lotim-Unram Teken Hibah Lahan Riset Rumput Laut dan Klinik Spesialis di Ekas

Rabu, 22 April 2026 - 15:35 WITA

TNI dan Pemda Lombok Timur Buka TMMD Ke-128, Satukan Langkah Membangun Desa

Senin, 13 April 2026 - 18:13 WITA

IPM Lotim Naik Signifikan, Tokoh Pendidikan Sebut Kontribusi Dinas Dikbud

Senin, 13 April 2026 - 17:27 WITA

Bupati Lombok Timur Minta Maaf soal Kelangkaan Gas Elpiji 3 Kg

Senin, 13 April 2026 - 16:30 WITA

Massa Gempur Demo ke Kantor Bupati Lombok Timur, Protes Kelangkaan Gas Elpiji 3 Kg

Sabtu, 11 April 2026 - 14:01 WITA

Tokoh Pendidikan Pertanyakan Arah Kebijakan Strategis Pendidikan Lombok Timur

Berita Terbaru

DPRD Lombok Timur Ucapkan Selamat Hari Pendidikan Nasional 2026. (Foto: Lombokini.com).

Advertorial

DPRD Lombok Timur Ucapkan Selamat Hari Pendidikan Nasional 2026

Sabtu, 2 Mei 2026 - 12:30 WITA

Presiden RI Prabowo Subianto mengeluarkan Keputusan Presiden Nomor 10 Tahun 2026 pada peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) di Monas, Jakarta, Jumat 1 Mei 2026. (Foto: Lombokini.com/Bakom RI).

Nasional

Prabowo Keluarkan Keppres Satgas PHK untuk Lindungi Buruh

Jumat, 1 Mei 2026 - 19:12 WITA

Plt. Kadispora Lombok Timur, Agus Sapandi, melepas peserta kategori ekstrem 162 KM dan 100 KM pada Event Trail Run Rinjani 100 di Pantai Pekendangan, Belanting, Jumat 1 Mei 2026. (Foto: Lombokini.com/Diskomifotik Lotim).

Lombok Timur

Buka Rinjani 100, Plt Kadispora Lepas Pelari Kategori Ekstrem

Jumat, 1 Mei 2026 - 17:31 WITA