32 Provinsi Berisiko Tinggi, Kemenkes Lanjutkan Imunisasi Polio

Senin, 22 Juli 2024 - 10:35 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

32 Provinsi Berisiko Tinggi, Kemenkes Lanjutkan Imunisasi Polio. (foto: ong/kemenkes.go.id)

32 Provinsi Berisiko Tinggi, Kemenkes Lanjutkan Imunisasi Polio. (foto: ong/kemenkes.go.id)

LOMBOKINI.com – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI terus menerima laporan terkait Kejadian Luar Biasa (KLB) akibat virus polio di Indonesia. Sebanyak 32 provinsi dan 399 kabupaten/kota dinyatakan sebagai wilayah berisiko tinggi polio.

Dari 2022 hingga 2024, tercatat 12 kasus kelumpuhan yang disebabkan oleh virus polio. Sebanyak 11 kasus disebabkan oleh virus polio tipe 2 dan satu kasus oleh virus polio tipe 1. Kasus ini tersebar di delapan provinsi: Aceh, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Papua Tengah, Papua Pegunungan, Papua Selatan, dan Banten.

Plt. Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes, Dr. Yudi Pramono, mengumumkan pelaksanaan Pekan Imunisasi Nasional (PIN) Polio tahap kedua pada minggu ketiga Juli 2024. “PIN Polio akan dilakukan secara massal dan serentak untuk mencapai kekebalan kelompok dan mencegah transmisi virus polio,” kata Dr. Yudi dalam temu media daring pada Jumat (19/7).

Baca Juga :  Mahasiswa KKN ITSKes Muhammadiyah Selong Gelar Sosialisasi dan Pemberian Makanan Tambahan bagi 55 Balita Stunting

PIN Polio dilaksanakan dalam dua tahap. Tahap pertama sudah dilakukan pada 27 Mei 2024 di lima provinsi: Papua Tengah, Papua Selatan, Papua Pegunungan, Papua Barat, dan Papua Barat Daya. Tahap kedua akan berlangsung pada 23 Juli 2024 di 27 provinsi, termasuk Sumatera Barat, Riau, Jambi, dan lainnya.

Imunisasi polio sangat penting untuk mencegah kelumpuhan permanen, terutama pada anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi lengkap. Sasaran PIN Polio adalah anak usia 0 hingga 7 tahun tanpa memandang status imunisasi sebelumnya. Vaksin yang diberikan adalah vaksin tetes dan suntik.

Direktur Pengelola Imunisasi Kemenkes, dr. Prima, menjelaskan bahwa imunisasi polio lengkap terdiri dari dua jenis vaksin: tetes (OPV) dan suntik (IPV). “Vaksin tetes diberikan tiga kali pada usia 1, 2, dan 3 bulan, sedangkan vaksin suntik diberikan pada usia 4 bulan dan 9 bulan,” kata dr. Prima.

Untuk mencapai kekebalan kelompok, cakupan imunisasi harus mencapai 95% di suatu wilayah. “Jika cakupan imunisasi rendah, banyak anak yang tidak kebal terhadap virus polio sehingga berisiko munculnya kembali kasus polio,” lanjut dr. Prima.

Baca Juga :  TGB: Elan Vital Bangsa Hidup Jika Mahasiswa Terus Bersuara

Kemenkes telah melakukan pemetaan polio di Indonesia dan menerima rekomendasi dari berbagai organisasi untuk melaksanakan imunisasi tambahan melalui PIN polio dan menggunakan vaksin novel Oral Polio Vaccine Type 2 (nOPV2) untuk merespons KLB polio tipe 2.

Dr. Ellen Roostaty Sianipar dari Komite Nasional PP-KIPI menyampaikan bahwa keamanan vaksin nOPV2 telah dikaji dan terbukti aman. “Data keamanan dari 253 juta dosis nOPV2 yang diberikan di 13 negara menunjukkan tidak ada risiko berbahaya,” kata dr. Ellen.

Kemenkes berharap masyarakat dapat memanfaatkan kesempatan PIN Polio untuk memperkuat imunitas dan kekebalan, terutama terhadap polio tipe 2 yang saat ini sangat rendah. Hal ini penting untuk memutus transmisi virus polio yang ada saat ini.***

Penulis : Ong

Sumber Berita : Kemenkes.go.id

Berita Terkait

Kebakaran Sade: Raffi dan The Dudas-1 Beri Bantuan, Pemerintah Siapkan Rekonstruksi
TGB: Elan Vital Bangsa Hidup Jika Mahasiswa Terus Bersuara
Mahasiswa KKN ITSKes Muhammadiyah Selong Gelar Sosialisasi dan Pemberian Makanan Tambahan bagi 55 Balita Stunting
BGN Kembali Salurkan MBG dan Serap Masukan dari Pelaksana di Lapangan
Presiden Prabowo Tegaskan Komitmen Berantas Korupsi dan Tutup Kebocoran Anggaran
Besok, Presiden Prabowo Kunjungan Kerja Perdana ke NTB
Hashim Lantik Pengurus Srikandi Jaga Desa se-Indonesia, Dorong Perempuan Awasi Program Pemerintah
Seleksi Nakes Teladan Tingkat Provinsi NTB 2026, Lombok Timur Usung Tiga Inovasi Unggulan

Berita Terkait

Minggu, 23 Agustus 2026 - 11:55 WITA

Resensi Buku ‘Kebijakan Ekonomi Publik’

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 23:37 WITA

Ate Bakat: Konseptualisasi Estetika Sasak

Jumat, 31 Juli 2026 - 07:46 WITA

Beroperasinya Smelter PT. AMMAN: Renegoisasi Royalti 

Sabtu, 25 Juli 2026 - 13:28 WITA

Londo Ireng dan Malu Menjadi Indonesia  (terbuka untuk Prabowo Subianto)

Kamis, 23 Juli 2026 - 10:32 WITA

Lombok Barat Dikutuk Guru Dane

Minggu, 19 Juli 2026 - 18:13 WITA

Iqbal-Dinda: Mengentaskan Kemiskinan Ekstrem di NTB      

Minggu, 19 Juli 2026 - 10:53 WITA

Dinas Kebudayaan NTB Tak Mampu Mengurus Kebudayaan

Rabu, 8 Juli 2026 - 14:44 WITA

Bangkitnya Kelas Menengah: Kurva Gajah   

Berita Terbaru

Kemunculan Ikan 'Oarfish' di Pantai Pink Lombok Tuai Pertanyaan, Ini Faktanya. (Foto: Lombokini.com/Tangkapan Layar)

Peristiwa

Ikan Raksasa Diduga Oarfish Muncul di Pantai Pink Lombok

Selasa, 25 Agu 2026 - 21:43 WITA