LOMBOKINI.com – Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Lentera Alam Universitas Nahdlatul Wathan (UNW) Mataram menggelar Mimbar Karya bertajuk “Mahasiswa Berjuang” di sebuah kedai di Anjani, Lombok Timur, Sabtu malam, 21 Juni 2025.
Mimbar Karya menampilkan berbagai pentas seni seperti orasi, puisi, monolog, dan musik. Acara ini juga membuka ruang apresiasi dan silaturahmi bagi mahasiswa.
Ketua UKM Lentera Alam, Hariawan, menegaskan bahwa Mimbar Karya bukan sekadar pertunjukan, melainkan medan konsolidasi, ruang aktualisasi, dan titik temu para pejuang ide. Ia menolak menjadikan UKM sekadar pajangan struktural kampus.
“Mimbar Karya menampar mereka yang apatis dan hanya mengejar IPK. Kami ingin membangunkan mahasiswa yang tertidur. Mahasiswa bukan pelengkap kelas, melainkan pemilik panggung gagasan,” tegasnya.
Tak hanya mengekspresikan seni, Mimbar Karya juga menjadi strategi politik kultural mahasiswa Anjani. Setiap kata dan nada yang mereka bawakan menyiratkan perlawanan halus terhadap kekosongan ruang kritik di kampus.

“Kami sengaja menggelar kegiatan ini sebagai ajang apresiasi bakat seni anggota sekaligus media konsolidasi mahasiswa di Lombok Timur,” jelas Hariawan.
Dengan narasi tajam, panggung sederhana itu berhasil menggema keresahan generasi muda. UKM Lentera Alam membuktikan obor mereka bukan sekadar hiasan, melainkan pembakar semangat.
“Mimbar Karya akan menjadi media aktualisasi teori sekaligus brand unggulan kami di Distrik Anjani,” pungkasnya.
Ketua Demisioner UKM, Abib Turrohman, mendukung Mimbar Karya sebagai langkah membangun tradisi berpikir kreatif. Ia mengkritik kampus yang terjebak birokrasi namun mengabaikan jiwa kritis mahasiswa.
“Kita butuh panggung, bukan podium formalitas. Mimbar Karya harus menjadi brand perlawanan kreatif mahasiswa. Jika mahasiswa tak lagi berani bersuara, tamatlah masa depan kampus,” ujarnya. ***







