Perayaan Wallace: Membangun Peradaban Keilmuan Lombok

Minggu, 25 Mei 2025 - 00:58 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dr. Salman Faris. (Foto: Lombokini.com/Dok. Pribadi).

Dr. Salman Faris. (Foto: Lombokini.com/Dok. Pribadi).

Perayaan Wallace: Membangun Peradaban Keilmuan Lombok

Tulisan Terbuka untuk Pemkot Mataram

 

Oleh: Salman Faris

Tulisan ini merupakan sikap dan dukungan sepenuhnya atas gagasan sahabat saya, bung Zulhakim tentang Perayaaan Wallace sebagai keharusan. Gagasan dan perjuangan yang sebetulnya sudah lama ia kobarkan. Kemudian semakin terbarukan melalui diskusi padat berisi antara dua sahabat saya yakni Bung Ari Garmono dan bung Zulhakim dalam sebuah podcast bernama Zainal Asikin Channel yang diupload beberapa jam lalu. Begitu bergairahnya, saya tidak menunggu pekerjaan habis untuk saya menuliskan dukungan sepenuhnya terhadap perjuangan sahabat saya yang kaya literatur itu.

Gagasan Perayaan Wallace di Lombok adalah tujuan besar sebuah pemikiran masa depan yang berfondasikan analitis kritis terhadap bacaan. Membumikan teks ke dalam sebuah jalan politik peradaban bagi Lombok yang memang berkontribusi besar dalam membangun bebrapa bidang keilmuan dan sejarah dunia. Karena itu bulan Juni, sebagai bulan Perayaan Wallace tidak hanya menghubungkan tahun 1856 ketika Wallace pertama kali mendarat di Ampenan, namun dapat menjadi penanda bagi kedudukan peradaban keilmuan (baca Barat: Modern) Lombok di masa depan, yang memang harus diakui bermula secara tipis pada tahun 1896. Dua tahun setelah penaklukan Karangasem Bali oleh Belanda. (Agar tidak terjadi kesalahpahaman, perlu saya pertegas bahwa peradaban keilmuan Islam di lombok sudah ratusan tahun lebih dulu berkembang di Lombok. Bahkan dapat dihitung sejak Selaparang Islam, ketika para pemuka agama di Selaparang sudah terjalin dengan ulama Jawa dan Nusantara).

Ketika Alfred Russel Wallace menginjakkan kaki di tanah Nusantara pada abad ke-19, ia tidak hanya membawa misi ilmiah tentang seleksi alam dan keanekaragaman hayati, tetapi juga membawa satu semangat penting yang pada masanya belum banyak dimiliki oleh bangsa-bangsa yang ia kunjungi. Semangat pencarian pengetahuan yang terbuka dan terus-menerus. Perjalanan Wallace melintasi kepulauan yang eksotik, liar, dan penuh misteri itu pada akhirnya menghadirkan sebuah garis imajiner yang dikenal sebagai Garis Wallacea. Pemisah biogeografis antara kawasan flora dan fauna Asia dan Australasia.

Lombok, sebagai salah satu titik penting di batas barat garis ini, menjadi lebih dari sekadar pulau tropis yang dikunjungi seorang naturalis. Ia menjadi saksi sejarah pertemuan antara sains modern dan kekayaan ekologi lokal yang luar biasa. Dalam konteks itulah, Perayaan Wallace harus dimaknai bukan hanya sebagai bentuk penghargaan kepada ilmuwan besar Inggris tersebut, melainkan sebagai momen reflektif dan transformatif untuk menghidupkan kembali semangat keilmuan dan membangun peradaban pengetahuan di Lombok.

Sayangnya, selama lebih dari satu abad sejak kunjungan Wallace, Lombok justru cenderung diam dalam pusaran pengetahuan. Tak banyak yang menggali warisan intelektual tersebut, dan tak sedikit pula yang menganggap Wallace sebagai narasi asing yang tak memiliki relevansi dengan kehidupan masyarakat lokal. Namun sejarah tidak pernah memihak kepada mereka yang abai terhadap potensi intelektualnya sendiri. Dalam dunia yang kian digerakkan oleh teknologi, data, dan ilmu pengetahuan, ketertinggalan dalam membangun basis keilmuan akan berujung pada keterpinggiran struktural yang berkepanjangan. Oleh karena itu, Perayaan Wallace harus dimaknai secara baru. Bukan sekadar sebagai seremoni peringatan, tetapi sebagai strategi kebudayaan untuk membangkitkan kesadaran ilmiah dan membangun peradaban keilmuan Lombok dari fondasi yang kuat.

Jika peradaban adalah akumulasi dari kebiasaan berpikir, menulis, mengkaji, dan berdialog, maka Lombok sesungguhnya memiliki banyak potensi laten yang dapat diaktivasi. Dari kearifan lokal masyarakat Sasak yang memiliki pengetahuan mendalam tentang musim, tumbuhan obat, hingga sistem sosial, hingga keberadaan universitas dan lembaga riset yang mulai tumbuh di Mataram dan sekitarnya. Semuanya menjadi modal dasar yang dapat menyokong bangunan peradaban keilmuan. Namun modal itu hanya akan menjadi potensial jika tidak ada gerakan sadar yang mengarahkan energi sosial ke arah produksi dan distribusi pengetahuan. Dalam hal ini, semangat Wallace bisa menjadi pemantik. Seperti halnya Wallace yang tidak puas dengan jawaban setengah matang, masyarakat Lombok harus mulai membiasakan diri dengan cara berpikir yang reflektif, investigatif, dan terbuka terhadap perbedaan.

Baca Juga :  Generasi Tanpa Arah: PR Besar Menuju Indonesia Emas 2045

Kita tentu tidak bisa menutup mata bahwa pengetahuan tidak tumbuh dalam ruang hampa. Ia berkembang dalam konteks sosial, politik, dan ekonomi tertentu. Di Lombok, salah satu tantangan terbesar dalam membangun peradaban keilmuan adalah dominasi logika mistis, mitologis dan pragmatis dalam kehidupan sosial. Pendidikan masih dipandang hanya sebagai jalan untuk memperoleh pekerjaan. Bukan sebagai proses pembentukan nalar kritis dan imajinasi kreatif-inovatif- inventif tanpa batas ruang dan waktu.

Universitas lebih sibuk memproduksi ijazah daripada membangun ekosistem keilmuan yang kritis dan kolaboratif. Dalam lanskap semacam itu, Perayaan Wallace bisa menjadi momen untuk menyadarkan kembali arti penting dari ilmu pengetahuan yang bebas dari kepentingan jangka pendek dan bersifat transformatif. Perayaan ini harus menjadi ruang simbolik yang menghubungkan kembali Lombok dengan jaringan keilmuan global, sekaligus mengangkat kekayaan lokal sebagai bagian integral dari diskursus ilmiah dunia.

Salah satu langkah penting dalam membangun peradaban keilmuan adalah menyusun fondasi epistemologis yang kokoh. Dalam konteks Lombok, ini berarti menggabungkan dua sumber pengetahuan utama yakni sains modern dan kearifan lokal. Bukan dalam logika subordinatif, di mana ilmu lokal dianggap inferior terhadap sains Barat, melainkan dalam kerangka ekologi pengetahuan, di mana setiap bentuk pengetahuan memiliki nilai, konteks, dan kontribusi masing-masing.

Pengetahuan tentang pola angin, pergerakan burung, waktu tanam, dan jenis tumbuhan yang diwariskan secara lisan oleh para nenek moyang Lombok bisa menjadi data empiris yang bernilai tinggi dalam studi perubahan iklim, pertanian berkelanjutan, atau konservasi hayati. Namun untuk itu, perlu ada jembatan institusional dan kultural yang memungkinkan translasi epistemik antara dua dunia tersebut. Universitas, lembaga riset, dan komunitas ilmiah harus menjadi ruang dialog. Bukan menara gading.

Dalam konteks ini, perlu ditegaskan bahwa universitas di Lombok tidak cukup hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan tinggi administratif. Ia harus menjadi pusat produksi pengetahuan yang berpihak pada masyarakat dan lingkungan. Kampus harus bersentuhan langsung dengan kehidupan nyata seperti hutan, sawah, laut, dan pasar. Mahasiswa tidak boleh hanya dididik menjadi buruh intelektual yang patuh, tetapi harus dibina menjadi peneliti dan pemikir yang kritis, berani, dan berdedikasi. Untuk itu, Perayaan Wallace bisa menjadi tonggak sejarah bagi reorientasi fungsi universitas yakni dari mesin birokrasi ke pusat peradaban keilmuan. Sebagaimana Wallace menjadikan alam sebagai laboratoriumnya, kampus-kampus di Lombok harus mampu memperluas laboratorium mereka dari ruang kelas ke alam terbuka dan kehidupan sosial.

Namun membangun peradaban ilmu tidak bisa hanya mengandalkan institusi formal. Diperlukan juga kebangkitan budaya keilmuan di tingkat komunitas. Budaya baca, diskusi, penulisan, dan dokumentasi harus ditanamkan sejak dini dan dipelihara secara berkelanjutan. Perpustakaan desa, kelompok studi lokal, media komunitas, hingga festival sains rakyat bisa menjadi instrumen strategis dalam menumbuhkan iklim berpikir kritis. Dalam semangat itulah, Perayaan Wallace harus dimaknai sebagai perayaan nalar kolektif, bukan sekadar pesta akademik kaum terdidik. Ia harus melibatkan petani, nelayan, seniman, santri, dan seluruh lapisan masyarakat yang ingin terlibat dalam proses pencarian makna hidup melalui ilmu pengetahuan.

Baca Juga :  Lombok Barat: Kabupaten Pariwisata yang Makin Tertinggal?

Di sisi lain, kita tidak boleh abai terhadap tantangan besar yang datang dari luar. Gelombang pariwisata massal yang terus menginvasi Lombok telah membawa serta arus budaya yang dangkal, cepat, dan instan. Pulau ini dijual sebagai tempat pelarian, eksotisme, dan hiburan, tanpa memedulikan struktur sosial dan ekologi yang menopangnya. Industri pariwisata yang hanya mementingkan keuntungan jangka pendek seringkali meminggirkan ruang-ruang keilmuan dan refleksi. Lombok menjadi objek konsumsi, bukan subjek pengetahuan. Dalam kerangka ini, Perayaan Wallace bisa menjadi antitesis terhadap logika wisata anti-intelektual. Ia bisa mengarahkan perhatian publik kepada wisata ilmiah, etnografis, dan ekologis yang tidak hanya menghasilkan pendapatan tetapi juga pengetahuan dan kesadaran kolektif.

Tentu, tidak cukup hanya mengkritik pariwisata atau kelembagaan pendidikan, kita juga perlu menyadari bahwa peradaban keilmuan hanya akan lahir jika ada gerakan sadar dan terorganisir yang melibatkan banyak pihak. Pemerintah daerah (dalam hal ini yang paling bertanggung jawab adalam Pemerintah Kota Mataram) harus menjadikan pengembangan pengetahuan sebagai prioritas utama, bukan hanya retorika dalam dokumen perencanaan.
Anggaran untuk riset, pengembangan perpustakaan, pelatihan ilmiah, dan penerbitan akademik harus diperbesar secara signifikan. Dunia usaha perlu dilibatkan dalam mendukung riset terapan yang memberi manfaat langsung bagi masyarakat. Lembaga swadaya masyarakat dan komunitas lokal harus aktif dalam memediasi hubungan antara ilmuwan dan rakyat. Dan yang tak kalah penting, para intelektual dan akademisi di Lombok harus mengambil posisi sebagai pelopor, bukan hanya penonton. Kemudian mediator utama ialah Pemkot Mataram selaku tuna ruman Perayaan Wallace.

Dalam membangun peradaban keilmuan, kita juga perlu meninjau kembali makna ilmu itu sendiri. Ilmu bukan hanya soal akumulasi data atau rumus-rumus yang rumit. Ia adalah cara pandang terhadap dunia, alat untuk memahami realitas, dan jalan menuju pembebasan. Ilmu dapat membebaskan manusia dari ketidaktahuan, ketergantungan, dan ketidakadilan. Ia memberikan kemampuan untuk mengkritik kekuasaan, memahami akar masalah, dan merancang masa depan yang lebih adil. Dalam kerangka ini, ilmu harus dipahami sebagai alat perjuangan sosial, bukan sekadar instrumen teknokratis. Maka Perayaan Wallace adalah perayaan terhadap ilmu yang membebaskan, bukan ilmu yang melanggengkan dominasi.

Di tengah tantangan global seperti krisis iklim, kerusakan ekosistem, ketimpangan sosial, dan krisis identitas, Lombok membutuhkan lompatan peradaban. Lompatan itu tidak mungkin terjadi tanpa fondasi pengetahuan yang kuat dan progresif. Lombok tidak bisa lagi sekadar mengandalkan sektor pariwisata atau komoditas. Ia harus mulai membangun sektor pengetahuan sebagai basis utama pembangunannya. Dalam hal ini, membangun pusat-pusat studi tentang Wallacea, ekologi tropis, ketahanan pangan, dan budaya lokal bisa menjadi langkah strategis yang menghubungkan Lombok dengan isu-isu global sambil tetap berpijak pada kekhasan lokal.

Dengan begitu, Perayaan Wallace harus menjadi awal dari sebuah gerakan panjang menuju kebangkitan ilmiah Lombok. Dari perayaan menuju refleksi. Dari refleksi menuju aksi. Dari aksi aksi yang terorganisasi secara matang kemudian menuju transformasi peradaban. Jika Lombok ingin keluar dari marjinalisasi struktural dan kultural, maka salah satu jalan terbaik adalah membangun peradaban keilmuan yang kokoh, terbuka, dan berpihak pada kehidupan.

Itulah makna terdalam dari Perayaan Wallace. Bukan sekadar menghormati seorang ilmuwan, melainkan membangkitkan semangat keilmuan sebagai jantung peradaban. Di sinilah Lombok, kelak bukan lagi sekadar objek dalam peta Wallacea dan percaturan global yang lebih menggila, tetapi subjek dalam sejarah pengetahuan dunia.

Saya kira, Pemkot Mataram tak akan berdiam diri dalam arus membangun peradaban keilmuan Lombok.

Malaysia, 24 Mei 2025.

Penulis : Dr. Salman Faris

Berita Terkait

Lombok Barat: Kabupaten Pariwisata yang Makin Tertinggal?
Januari 2026: Kegelapan Venezuela dan Dunia Makin Cepat
Birokratisasi Budaya: Dinas Kebudayaan NTB Akan Terjebak Menjadi Event Organizer
Generasi Tanpa Arah: PR Besar Menuju Indonesia Emas 2045
INDONESIA MENCARI IDEOLOGI
Pementasan Purbawara ‘Matinya Seorang Pahlawan’: Reinvensi dan Cultural
Perang Topat Bukan Toleransi
Berdiskusi Maya Bersama Usman-Acip di Lorong Gelap Perpolitikan Indonesia: Tentang Fakta dan Kebenaran

Berita Terkait

Selasa, 13 Januari 2026 - 14:41 WITA

Polda NTB Periksa Kesehatan Ratusan Santri dan Warga di Dua Ponpes Lombok Timur

Senin, 12 Januari 2026 - 19:38 WITA

BKKBN Gelar Wisuda ‘S2’ untuk 140 Lansia di Lombok Timur

Senin, 12 Januari 2026 - 17:15 WITA

Puting Beliung di Kuangwai Lombok Timur Rusak 74 Rumah dan Lukai Lima Warga

Senin, 12 Januari 2026 - 06:51 WITA

Pemkab Lombok Timur Tak Merumahkan 1.748 Honorer, Gaji Tetap Berjalan

Minggu, 11 Januari 2026 - 17:33 WITA

Puting Beliung Hancurkan Rumah di Lombok Timur, Warga Mengungsi

Minggu, 11 Januari 2026 - 14:57 WITA

ASDP Kayangan Ajukan Tambah Kapal Baru untuk Tingkatkan Layanan

Minggu, 11 Januari 2026 - 12:56 WITA

Pemkab Lombok Timur Fokus Kembangkan Kawasan Ekas sebagai Pusat Ekonomi Minapolitan

Sabtu, 10 Januari 2026 - 10:23 WITA

PT GNE Dihidupkan Kembali, LSM Garuda Desak Audit dan Ganti Manajemen

Berita Terbaru

BKKBN Gelar Wisuda 'S2' untuk 140 Lansia di Pendopo Bupati Lombok Timur, Senin 12 Januari 2026. (Foto: Lombokini.com).

Berita

BKKBN Gelar Wisuda ‘S2’ untuk 140 Lansia di Lombok Timur

Senin, 12 Jan 2026 - 19:38 WITA

Bupati Lombok Timur Haerul Warisin berfoto bersama para PPPK Paruh Waktu usai menyerahkan SK mereka, Rabu 31 Desember 2025. (Foto: Lombokini.com).

Lombok Timur

Pemkab Lombok Timur Tak Merumahkan 1.748 Honorer, Gaji Tetap Berjalan

Senin, 12 Jan 2026 - 06:51 WITA