Fajar baru saja mengusap pucuk-pucuk bambu. Embun masih menggantung di sela anyaman daun kelapa yang belum rampung diraut. Udara membawa sisa kantuk orang-orang yang semalaman berjaga di arena hultah.
Di tengah lengang itu, sebuah hentakan tongkat memecah pagi.
Tok!
“We be ka kek na, wah gine inggas jelo sine. Ndek ne beloan pengotok mek pede sik pegawean mek. Ntok ndek te semel leun lek julun jamaah.”
Suara Puq Tuanji Rah melesat lebih tajam daripada bilah parang yang sedang membelah bambu. Tongkat kayu di tangannya sesekali menghantam tanah, membuat debu tipis berhamburan. Tak seorang pun berani mengangkat kepala.
Anyaman Tetaring masih banyak yang menganga. Sebagian bambu belum terikat. Di beberapa petak belum di atap klangsah. Daun-daun kelapa juga masih tergeletak seperti pekerjaan yang ditinggalkan di tengah jalan.
Sudah hampir sebulan mereka bolak-balik ke lokasi itu.
Namun Tetaring—mahkota yang kelak menaungi ribuan jamaah amin—belum juga berdiri.
“…keh jemek jekne sekeno pede milu betuleng. Ndek ne ngeni kenan kitab. Wah lekan laek ne ajar ente pede kemu pede Sik gurunte. Leun jekne lamun ndeq mek ndek bi pada ikhlas jek! Sekeno!”
Kalimat terakhir itu jatuh seperti cambuk bagi puluhan jamaah amin itu. Namun tetap saja. Tak ada yang berani membalas.
Yang terdengar hanya desir daun kelapa yang kembali dipilin, bunyi parang mengerat bambu, dan napas para jamaah amin yang mendadak menjadi lebih pendek.
Takbir lirih mengalun dari beberapa mulut.
“Takbir. Allahu Akbar…” Teriak salah satu dari mereka.
Seolah-olah satu kalimat itu mampu mengangkat rasa malu yang sedari tadi menekan dada mereka.
Tak lama kemudian tangan-tangan yang sempat lamban berubah cekatan. Ikatan demi ikatan diselesaikan. Bambu-bambu berdiri. Atap mulai merapat. Matahari bahkan belum tinggi ketika kerangka Tetaring perlahan menjelma teduh. Kini, Tetaring yang sejak lama diyakini sebagai ladang pahala itu telah hampir rampung.
Puq Tuanji Rah tidak lagi berbicara.
Ia hanya berdiri di pinggir pekerjaan, menggenggam tongkatnya erat. Wajah tuanya tetap keras, tetapi sorot matanya mengikuti setiap simpul tali, setiap ruas bambu, setiap helai daun yang dipasang.
Bagi orang lain, itu hanya bangunan sementara.
Tetapi bagi dirinya, setiap simpul adalah doa yang diikatkan pada langit. Setiap tetes keringat adalah sedekah yang tak memerlukan nama. Dan setiap jengkal bayangan yang kelak menaungi jamaah amin dari penjuru dunia merupakan jaringan pahala yang sedang dibangun bersama.
Ketika pekerjaan mereka akhirnya selesai, satu demi satu jamaah amin itu menghampirinya.
Tak ada pembelaan. Tak ada alasan. Mereka hanya menundukkan kepala. Meminta kepala mereka digetok oleh tongkatnya
“Puq… Maafang kemi ndeh. Kelaloan Kemi beruk.” Seorang jamaah pembuat Tetaring menghampiri puq Tuanji Rah mewakili mereka bicara.
Lelaki tua itu menarik napas panjang.
Tongkatnya yang sejak tadi mencengkeram tanah perlahan terangkat. Wajah keras itu akhirnya melunak. Satu persatu kepala jamaah amin itu digetok-nya sembari berdoa.
“Nah. Ngeno. Keh. Pede gawek ye malik sik side, keri semendek lalok ne dateng tanggalan Ine. Terus ndek pisan ulangine malik. Pecu pecu isik.”
Hanya itu. Dan kalimat pendek tersebut terasa lebih sejuk daripada seluruh omelan yang sejak subuh tadi sempat bergemuruh di dada puq Tuanji Rah.
Para jamaah amin akhirnya bisa pulang dengan pakaian yang dipenuhi serbuk bambu. Di telapak tangan mereka tertinggal bekas tali. Di dada mereka tertinggal satu keyakinan:
bahwa Tetaring bukan sekadar atap. Ia adalah cara manusia belajar menjernihkan hati sesamanya.
Meski tuan guru yang mereka amini itu tak pernah menyempatkan diri hadir menemani dan menyaksikan sendiri bagaimana butir-butir keringat mereka kelak akan diganjar pahala. Hal tersebut tak pernah dipermasalahkan.
***
Kini, usia Puq Tuanji Rah telah melewati sembilan puluh satu musim panen bagi bambu bambu tua yang siap menemani tradisi membuat tetaring secara turun-temurun.
Punggungnya mulai melengkung seperti bambu tua yang terlalu lama menahan angin. Jemarinya dipenuhi guratan halus bekas puluhan tahun meraut bambu dan membelah pelepah kelapa. Namun setiap kali musim hultah tiba, langkahnya selalu lebih dulu sampai di arena daripada mereka yang tubuhnya masih tegap.
Orang-orang mengira yang menggerakkan lelaki tua itu adalah tenaga.
Padahal yang membuatnya tetap berdiri ialah keyakinan.
Ia hafal jalan setiap bambu yang datang sebagai sedekah dari kampung-kampung. Ia mengenali mana bambu yang masih muda, mana yang cukup tua untuk menjadi tiang penyangga. Ia tahu daun kelapa mana yang akan bertahan diterpa angin dan mana yang akan mengering sebelum acara selesai.
Tak seorang pun pernah mengajarinya melalui buku.
Semua pengetahuan itu diwariskan oleh telapak tangan.
Dari ayah kepada anak.
Dari kakek kepada cucu.
Dari peluh kepada peluh.
Ia tak pernah bertanya siapa yang nanti memuji hasil pekerjaan mereka. Bahkan ketika ribuan jamaah amin menikmati teduhnya Tetaring tanpa mengetahui siapa pembuatnya, Puq Tuanji Rah tetap pulang dengan hati yang lapang.
Baginya, bayangan yang menaungi kepala orang-orang yang ikhlas melangitkan doanya jauh lebih penting daripada nama yang disebut-sebut.
Sesekali, ketika pengajian dimulai dan angin menggoyangkan helaian Tetaring di atas ribuan manusia yang khusyuk, bibirnya akan menyunggingkan senyum tipis.
Ia tidak sedang menikmati hasil karya.
Ia sedang menyaksikan doa-doanya berubah menjadi tempat berteduh.
Pernah terlintas di benaknya sebuah harapan yang tak pernah sempat diucapkan.
Andaikan suatu hari Tuan Guru berkenan berjalan sebentar melewati para pembuat Tetaring.
Tak perlu membawa pidato.
Tak perlu mengangkat bambu.
Tak perlu ikut memanjat rangka besi.
Cukup berhenti sesaat.
Memandang mereka.
Lalu mengucapkan satu kalimat sederhana,
“Semoga Allah menerima amal kalian.”
Barangkali hanya beberapa detik.
Namun beberapa detik itu akan menjadi kenangan yang diceritakan turun-temurun.
Bukan karena mereka haus pujian.
Melainkan karena setiap kerja yang lahir dari keikhlasan akan terasa semakin ringan ketika dihargai.
Tetapi harapan itu tetap disimpannya sendiri.
Ia tak pernah mengeluh.
Tak pernah pula meminta.
Sebab sejak muda ia telah belajar bahwa amal yang paling sunyi sering kali menjadi amal yang paling panjang umurnya.
Orang-orang pernah bercerita kepadanya tentang Bali.
Tentang para seniman Bali yang menghabiskan hari-harinya membangun hiasan upacara.
Tentang tangan-tangan terampil yang dihormati melalui upah yang pantas.
Puq Tuanji Rah hanya mengangguk.
Ia tidak merasa tradisinya lebih mulia. Tidak pula menganggap tradisi orang lain lebih rendah.
Setiap tempat memiliki cara sendiri memuliakan kerja.
Di kampungnya, penghargaan itu tidak dibungkus uang.
Ia disimpan dalam keyakinan.
Mereka percaya, setiap bambu yang dipikul bersama akan meringankan beban di akhirat.
Setiap daun yang dianyam dengan ikhlas akan menjadi saksi bahwa tangan itu pernah bekerja untuk orang banyak.
Mungkin itulah sebabnya tak pernah terdengar tawar-menawar upah ketika musim Tetaring tiba.
Yang datang justru suara orang-orang saling memanggil.
“Ayo berangkat.”
“Masih kurang bambu.”
“Daunnya tambahkan lagi.”
Kalimat-kalimat sederhana itu terdengar seperti doa yang berjalan dari rumah ke rumah.
Begitulah tradisi diwariskan. Bukan melalui pidato. Melainkan melalui langkah kaki yang selalu kembali setiap tahun.
***
Akhirnya. Sore mulai turun ketika pekerjaan membuat Tetaring itu benar-benar selesai.
Bayangannya memanjang di tanah, seolah hendak merangkul seluruh arena hultah.
Puq Tuanji Rah memandanginya cukup lama.
Sorot matanya tidak sedang mengagumi bentuknya.
Ia sedang menghitung berapa banyak manusia yang kelak berteduh di bawahnya.
Semakin luas teduh yang diberikan, semakin luas pula harapan yang disimpannya di dalam dada.
Sebab ia percaya, doa paling jernih lahir dari hati yang tenang.
Dan hati yang tenang sering kali bermula dari tubuh yang tidak lagi kepanasan.
***
Malam telah turun ketika Puq Tuanji Rah tiba di rumahnya.
Bau bambu masih melekat di bajunya. Telapak tangannya masih menyimpan serbuk-serbuk halus yang enggan lepas meski telah beberapa kali ditepuk. Ia meletakkan tongkatnya di samping pintu, lalu duduk di beranda. Angin malam berembus pelan, membawa suara jangkrik dari pematang sawah.
Tak lama kemudian seorang anak perempuan menghampirinya.
“Cucu datang, Puq.”
Puq Tuanji Rah tersenyum. Keriput di sudut matanya mengembang seperti daun lontar yang perlahan terbuka.
“Sitti…”
Anak itu duduk di sampingnya. Sejak dulu ia sering ikut memperhatikan bagaimana kakeknya memimpin orang-orang membuat Tetaring. Ada satu pertanyaan yang sejak saat itu bergelayut di kepalanya.
“Puq… boleh bertanya?”
“Bertanyalah. Ilmu yang tidak ditanyakan akan diam di dalam kepala.”
Sitti kecil menatap halaman rumah beberapa saat sebelum akhirnya berkata pelan,
“Kenapa Tetaring yang kita buat selalu sederhana?”
Puq Tuanji Rah tidak segera menjawab.
Ia memandang langit yang dipenuhi bintang. Lama sekali. Seolah-olah jawaban itu sedang diturunkan perlahan bersama embusan angin.
“Apa menurutmu itu tidak indah?” tanyanya balik.
Sitti menggeleng.
“Indah… tapi rasanya masih bisa kan Tetaring itu dibuat lebih indah lagi.”
Lelaki tua itu tersenyum. Bukan senyum yang merasa dibantah. Melainkan senyum seseorang yang melihat benih tumbuh di tempat yang tepat.
“Dulu,” katanya pelan, “kami hanya tahu bagaimana caranya membuat orang berteduh.”
Tangannya mengambil sepotong bilah bambu yang tersisa di sudut beranda.
“Kami belajar dari ayah kami. Ayah kami belajar dari Ayahnya. Ayahnya belajar dari ayahnya. Begitu seterusnya.”
Ia menggoreskan ujung bambu itu ke tanah.
“Tak ada buku.”
Garis berikutnya.
“Tak ada gambar rancangan.”
Ia berhenti menggambar.
Yang tertinggal hanyalah beberapa garis sederhana di tanah.
“Itulah Tetaring kami.”
Sitti memperhatikan garis-garis itu. Sederhana. Nyaris tanpa hiasan. Ia bahkan sambil membayangkan akan ada lomba membuat Tetaring. Sama-sama satu petak di arena Hultah.
“Tapi lihatlah…” lanjut Puq Tuanji Rah.
Ia mengambil ranting kecil, lalu menambahkan lengkungan-lengkungan halus di antara garis yang telah dibuatnya.
Seketika gambar itu berubah. Masih menjadi Tetaring. Namun tampak lebih hidup. Lebih anggun. Dan teduh. Tetapi Sitti masih membayangkan tentang lomba membuat Tetaring.
“Setiap zaman mempunyai tangannya sendiri.”
Sitti mengangkat wajah.
“Kami mewariskan pondasinya.”
“Sedangkan kalian…”
Puq Tuanji Rah meletakkan ranting itu ke telapak tangan cucunya.
“…mewariskan keindahannya.”
Mata Sitti membesar. Apa yang dibayangkan tadi sepertinya akan ia realisasikan pada tahun tahun berikutnya.
“Tapi bagaimana kalau bentuknya berubah jauh, Puq?”
“Asal jangan menghilangkan teduhnya.”
Jawaban itu meluncur begitu ringan. Namun terasa lebih berat daripada seluruh bambu yang dipikul para jamaah.
“Tetaring bukan sedang berlomba menjadi yang paling megah. Tetaring sedang belajar menjadi tempat berteduh. Itu saja.”
Ia menepuk bahu cucunya perlahan. Dan apa yang dibayangkan tadi seperti baru saja diterjemahkan.
“Kalau kelak engkau membuatnya lebih indah. Maka, tugasmu hanya satu. Jangan hanya yang memanjakan mata.”
“Buatlah orang yang berteduh di bawahnya merasa dimuliakan.”
“Buat mereka lupa akan panas terik yang menyengat.”
“Buat mereka lebih khusyuk lagi dalam berdoa.”
“Kalau keindahanmu mampu menolong orang mengingat Allah dan Rasulnya, saat itulah keindahan yang kau cita citakan itu menjadi ladangibadah.”
Sitti menggenggam ranting itu erat-erat.
Dalam kepalanya mulai tumbuh bentuk-bentuk Tetaring yang belum pernah ada.
Lengkung yang lebih anggun. Anyaman yang lebih rapi. Susunan daun yang menari ketika disentuh angin.
Namun di antara semua bayangan itu, ia tidak berniat mengganti akar yang telah ditanam kakeknya. Ia hanya ingin menumbuhkan cabang-cabang baru.
Puq Tuanji Rah memandang cucunya. Entah mengapa, malam itu ia merasa usianya mendadak menjadi lebih ringan.
Barangkali beginilah rasanya melihat sebuah tradisi menemukan masa depannya.
Angin kembali berembus.
Dari kejauhan, Tetaring yang baru selesai dibangun itu bergoyang pelan di bawah cahaya bulan. Anyaman daun kelapa yang disebut kulangsah itu berdesir seperti orang-orang tua yang sedang berzikir.
Puq Tuanji Rah memejamkan mata.
Untuk pertama kalinya ia tidak lagi mengkhawatirkan siapa yang akan meneruskan pekerjaannya. Sebab ia tahu, bambu boleh berganti. Daun boleh mengering. Tetapi, tangan-tangan pembuatnya pun suatu hari mungkin tak akan pernah berhenti berganti.
Dan selama masih ada orang yang percaya bahwa keteduhan dan keindahan adalah bentuk kasih sayang, Tetaring tidak akan pernah benar-benar selesai dibangun.
Ia akan terus berdiri. Dari satu generasi. Ke generasi berikutnya. Meski ia sendiri tahu sedang melihat dunia bergerak kearah yang lebih maju.
Yuspianal Imtihan, M.Sn. Lahir di Kelayu pada tanggal 13 April 1986. Bekerja sebagai Dosen Tetap di Program Studi Pendidikan Seni Pertunjukan Universitas Hamzanwadi Selong. Pendidikan terakhir yang ditempuh pada Program Magister Institut Seni Indonesia Denpasar dan saat ini sedang melanjutkan studi S3 di Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Di luar kampus, ia aktif sebagai pegiat seni pertunjukan, penulis lagu, esai seni budaya, cerpenis, naskah teater, sutradara, aktor. Ia juga mengerjakan proyek seni berbasis riset dan kolaborasi bersama seniman nasional hingga internasional. Ia juga adalah pendiri group musik Armonica, pendiri kelompok Teater 16 Lombok Timur, Seniman Balsem untuk Indonesia dan Direktur Program Di Luar Jendela. Tak hanya itu, ia sangat aktif terlibat dalam Event berskala lokal, nasional hingga International. Diantaranya adalah International Rain Festival, Nyala Fest, Di Luar Jendela dan Alunan Budaya Desa Pringgasela. Seluruh karya karya yang telah dihasilkan selama ini dapat dilacak dan sudah tersiar di Seluruh Platform Digital.
Penulis : Yuspianal Imtihan


![{"remix_data":[],"remix_entry_point":"challenges","source_tags":["local"],"origin":"unknown","total_draw_time":0,"total_draw_actions":0,"layers_used":0,"brushes_used":0,"photos_added":0,"total_editor_actions":{},"tools_used":{"addons":1,"transform":1,"effects":1},"is_sticker":false,"edited_since_last_sticker_save":true,"containsFTESticker":false}](https://lombokini.com/wp-content/uploads/2026/09/Picsart_26-09-14_06-46-00-978-1200x800.jpg)
![{"remix_data":[],"remix_entry_point":"challenges","source_tags":["local"],"origin":"unknown","total_draw_time":0,"total_draw_actions":0,"layers_used":0,"brushes_used":0,"photos_added":0,"total_editor_actions":{},"tools_used":{"addons":1,"transform":1,"effects":1},"is_sticker":false,"edited_since_last_sticker_save":true,"containsFTESticker":false}](https://lombokini.com/wp-content/uploads/2026/09/Picsart_26-09-14_06-46-00-978-225x129.jpg)





![PT Bintang Perdana Gemilang. [Foto: Istimewa]](https://lombokini.com/wp-content/uploads/2026/08/IMG-20260819-WA0100-360x200.jpg)




Komentar