CERPEN YUSPIANAL IMTIHAN: CERpen ini (Di)buat Menggunakan AI

Rabu, 2 September 2026 - 06:07 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi lombokini.com

Ilustrasi lombokini.com

Nama saya Anal.

Saya seorang penulis.

Atau setidaknya saya pernah mengaku sebagai penulis kepada orang lain, lantaran merasa diri terlahir sebagai seniman multitalenta yang narsisnya melebihi Leonardo Davinci.

Saya banyak menulis esai, artikel ilmiah dan diam diam juga menulis puisi yang meskipun sungguh sampai saat ini, saya tidak pernah berani mengirimkannya ke pelbagai media mana pun, apalagi membayangkan puisi puisi saya dimuat di koran Kompas, Tempo dan Media Indonesia.

Oh astaga. Hampir saja saya lupa. Saya juga belakangan ini gemar sekali menulis cerpen.

Atau setidaknya saya pernah mengirim cerpen cerpen saya ke pelbagai media lokal. Yang lucunya, beberapa media tempat cerpen saya dimuat itu kini domainnya sudah tidak aktif.

Padahal pernah ada cerpen yang membuat saya cukup terkenal saat itu. Bukan karena cerpen saya bagus, bukan karena buruk, bukan karena saya berhasil memenangkan hadiah dari proyek sayembara bergengsi, atau karena plagiarisme, melainkan karena satu kalimat yang saya tulis sebagai judul dengan morfologi yang tak lazim:

CERpen INI (DI)BUAT DENGAN MENGGUNAKAN AI.

Iya. Kalimat itulah yang membuat sebelas orang penulis senior dan seorang kritikus sastra di daerah saya merasa perlu berkumpul selama hampir enam jam untuk membicarakan karya saya.

Mereka menyebut pertemuan itu diskusi. Saya menyebutnya pengadilan terbuka. Panitia menyebutnya forum literasi. Tetapi kopi yang disuguhkan di cafe tempat kami berdiskusi itu menyebutnya kesempatan bisnis.

Di ruangan itu ada dua belas orang selain saya. Mereka semua penulis senior. Atau setidaknya mereka pernah menerbitkan buku.

Yang pertama bernama Analepsis.

Ia seorang penulis senior yang telah menerbitkan tujuh belas kumpulan cerpen, empat novel, dua buku esai, dan satu buku tipis berjudul Mengenang Masa Lalu yang Tidak Pernah Terjadi.

Yang kedua bernama Prolepsis.

Ia selalu berbicara tentang masa depan sastra, meskipun setiap cerpennya berlatar tahun 1970-an.

Yang ketiga bernama Fokalisasi.

Ia mengaku tidak pernah menulis dari sudut pandang orang pertama, karena menurutnya, sudut pandang pertama adalah bentuk narsisme pengarang yang paling murah. Matanya konon mendadak katarak saat membaca cerpen dengan sudut pandang orang pertama.

Yang keempat bernama Metafiksi.

Ia pernah menulis cerpen tentang seorang penulis yang menulis cerpen tentang penulis yang sedang menulis cerpen. Tidak ada yang tahu siapa yang sebenarnya menulis cerpen itu, termasuk dirinya sendiri. Dunia fiksi katanya, memiliki kosmologinya sendiri. Yang bahkan lebih nyata dari kenyataan yang terjadi di dunia nyata.

Yang kelima bernama Intertekstual.

Ia sangat marah jika ada orang yang berani mengatakan bahwa cerpennya mirip dengan karya orang lain. Menurutnya, itu bukan kemiripan. Itu dialog antarteks.

Yang keenam bernama Digresi.

Ia tidak pernah bisa menjawab pertanyaan secara langsung. Pasalnya. Ketika ditanya, “Apa tema cerpen Anda?” Ia akan menjawab tentang sejarah sepatu. Atau benda benda lain yang seolah olah memiliki nyawa. Ia hidup dan berinteraksi laiknya manusia.

Yang ketujuh bernama Deus Ex Machina.

Ia terkenal karena selalu menemukan jalan keluar yang tidak pernah disiapkan dalam cerita.

Tokoh-tokohnya sering tiba-tiba mendapatkan warisan, bertemu malaikat, menerima telepon dari orang mati, atau memenangkan undian dari aplikasi judi online.

Yang kedelapan bernama Epifani.

Ia percaya bahwa setiap cerpen harus memiliki momen pencerahan.

Yang kesembilan bernama Defamiliarisasi.

Ia tidak pernah menyebut kursi sebagai kursi. Menurutnya, kursi adalah “empat kaki kayu yang menopang kemungkinan tubuh.”

Yang kesepuluh bernama Absurditas.

Ia selalu tertawa pada saat yang salah atau saat ia menyadari segala sesuatu bisa berbicara tentang kesia-siaan.

Yang kesebelas bernama Ekfrasis.

Ia sangat pandai mendeskripsikan lukisan, meskipun tidak pernah melukis.

Dan yang kedua belas bernama NaratorTakAndal.

Nama itu sebenarnya bukan satu kata. Tetapi dia bersikeras menulisnya tanpa spasi karena menurutnya ruang adalah konstruksi kekuasaan. Kebebasan kreatif baginya adalah kemerdekaan yang sesungguhnya.

Mereka duduk mengelilingi meja panjang.

Saya duduk paling ujung.

Di atas meja ada dua puluh tiga gelas air mineral, sebelas cangkir kopi, tiga piring kue, satu mangkuk kacang kacangan, dan sebuah layar proyektor.

Di layar proyektor itu terpampang judul cerpen saya.

CERpen INI (DI) BUAT DENGAN MENGGUNAKAN AI

Huruf “pen” pada kata “CERpen” sengaja saya buat kecil.

Tidak ada alasan khusus.

Sementara kata (di) hanya untuk menegaskan bahwa ruang lingkup pembahasan cerpen saya berada dalam satu wilayah kecil yang sedang ditandai.

Meski sesungguhnya, saya juga hanya ingin membuat para penulis senior itu terganggu.

Dan ternyata berhasil.

“Ini penghinaan,” kata Analepsis.

Saya mengangguk.

“Terhadap siapa?” kata Digresi

“Terhadap sastra.” kata Analepsis

Bukankah yang saya hina cuma ego kalian saja wahai para penulis senior yang terhormat dan saya banggakan.

Analepsis menatap saya.

“Ego penulis adalah bagian dari sastra bung.”

Kalau begitu saya minta maaf kepada sastra.

“Jangan bercanda bung.”

Saya tidak bercanda.

“Justru itu masalahnya.”

Masalah apa?

“Kamu menulis menggunakan AI.”

Saya mengangguk.

Saya tahu.

“Dan kamu bangga?”

Tidak.

“Lalu kenapa kamu mengakuinya?”

Karena saya memang menggunakan AI kan.

Mau apa?

Ruangan menjadi sunyi.

Digresi mengangkat tangan.

“Saya ingin mengatakan sesuatu.” Kata Fokalisasi

Analepsis menoleh.

“Silakan.”

“Apakah kita perlu mendefinisikan dulu apa itu AI?”

“Halah tidak perlu!”

“Saya pikir perlu.”

“Kenapa?”

“Karena saya pernah membaca sebuah artikel tentang kecerdasan buatan yang membuat saya teringat pada masa kecil saya. Saya merasa dikacangin.” Vokalisasi menegaskan.

“Lalu?”

“Ketika saya kecil, ibu saya sering menyuruh saya membaca buku. Banyak banyak membaca buku.” Pungkasnya.

Lah. Hubungannya dengan AI?

“Jangan menyela, Anda belum sampai.”

Absurditas tertawa.

Lanjutkan kalau begitu.

“Buku pertama yang saya baca adalah buku dongeng. Yang kedua adalah buku pelajaran yang sampulnya memperlihatkan seorang anak sedang menunggang sapi sambil meniup seruling.” Katanya melanjutkan.

Lalu?

“Buku buku itu ditulis oleh manusia bung.”

Lalu?

“Manusia memiliki kecerdasan.”

Lalu?

“Intinya, kalau manusia yang memiliki kecerdasan itu membuat AI, bukankah AI juga pada dasarnya hasil dari kecerdasan manusia?”

Baca Juga :  CERPEN Yuspianal Imtihan: Pertanyaan Seputar Cerpen

“Ya. Betul.” Absurd menimpali.

Kalau begitu menggunakan AI adalah menggunakan kecerdasan manusia yang telah dikompresi? Tanya saya.

Analepsis mengerutkan kening.

“Nah, karena itu berarti tulisanmu tidak orisinal.”

Saya menyandarkan tubuh.

“Bukankah tulisan manusia juga tidak orisinal?”

Kalimat itu membuat udara dalam ruangan 6 x 5 meter itu berubah drastis. Suhunya turun ke minus 13° Celcius.

Intertekstual tersenyum. Ia tampak seperti seseorang yang baru saja melihat pintu menuju pertengkaran terbuka.

“Pertanyaan menarik,” katanya.

“Bukan pertanyaan,” jawab Analepsis. “Itu lebih ke upaya pembelaan diri.”

“Pembelaan terhadap apa?”

“Terhadap kemalasan.” Katanya.

Saya tertawa.

Kalau menggunakan AI adalah kemalasan, apakah menggunakan mesin tik, atau komputer, atau laptop juga termasuk kemalasan?

“Jangan menyamakan bung.”

Kenapa?

“Mesin mesin itu hanya alat.”

AI juga alat.

“AI menghasilkan teks bung.”

Pena juga menghasilkan teks.

“Pena tidak berpikir, laiknya manusia.”

Apakah penulis selalu berpikir?

Tidak ada yang menjawab.

Saya menatap mereka satu per satu.

Fokalisasi menggeser kacamatanya.

“Persoalannya bukan sekadar alat.”

Lalu?

“Persoalannya adalah orisinalitas.”

Saya bertanya. Apa itu orisinalitas?

Fokalisasi tersenyum.

“Keaslian gagasan.”

Gagasan yang benar-benar asli?

“Tentu.”

Kalau begitu, sebutkan satu gagasan yang benar-benar asli. Yang muncul dari pikiranmu tanpa menggunakan pikiran orang lain, sebelum dirimu benar-benar menganggap dirimu memiliki pikiran sendiri.

Fokalisasi diam.

Saya menunggu. Tidak ada jawaban. Sampai akhirnya saya melempar pertanyaan lagi.

Bagaimana?

“Pertanyaan kamu Itu sungguh manipulatif bung.”

Karena saya menggunakan AI?

“Karena kamu masih muda. Sehat jasmani dan rohani.”

Apakah usia dan kesehatan seseorang membuat gagasan menjadi lebih asli?

Analepsis menyela.

“Jangan mengubah arah pembicaraan.”

Bukankah sejak awal pembicaraan kita memang tentang perubahan?

Metafiksi tertawa kecil. Ia sejak tadi mencatat sesuatu dalam buku.

Apa yang kamu tulis? tanya saya.

“Percakapan ini.”

Untuk apa?

“Untuk cerpen.”

Dengan tangan?

“Ya.”

Tidak memakai AI?

Metafiksi menatap saya lama. Agak lama.

“Tidak.”

Saya tersenyum.

Baguslah kalau begitu.

Ia terlihat lega.

Karena itu berarti Anda bisa membuktikan bahwa Anda tidak menggunakan AI, begitu?

“Tidak perlu saya buktikan.”

Kenapa?

“Karena saya penulis asli.”

Saya mengangguk.

Berarti status penulis asli Anda adalah sertifikat keaslian. Yang Anda sematkan untuk dapat pengakuan? Dari siapa?

Metafiksi mengerutkan kening.

“Kamu terlalu sinis.”

Oh. Terima kasih.

“Itu bukan pujian.”

Saya menerimanya sebagai pujian.

Absurditas kembali tertawa. Analepsis menatapnya tajam.

“Kenapa kamu tertawa?”

“Karena pembahasan ini lucu.”

“Apanya yang lucu?”

“Pengadilan bagi seorang penulis yang menggunakan AI, lalu membicarakan orisinalitas dengan dua belas penulis asli yang seluruh hidupnya bahkan mengutip tulisan dari penulis lain.”

Intertekstual langsung menoleh.

“Jangan menyeret saya.”

“Kamu bahkan punya nama Intertekstual,” kata Absurditas.

“Itu konsep bung. Seseorang bernama Julia Kristeva membuat konsep ini jadi terkenal.”

Loh. Itu juga pengakuan. Kata saya menyela.

Intertekstual memukul meja.

“Intertekstualitas bukan plagiarisme! Titik!”

Benar. Kata saya.

Ia menatap saya.

“Bagus, jika kamu mengerti.”

Saya hanya tidak tahu mengapa mengambil kalimat orang lain, lalu menyebutnya dialog antarteks terdengar lebih terhormat, daripada mengambil kalimat yang dihasilkan mesin.

“Karena teks dan konteks!”

Kalau konteksnya bagus, pencurian menjadi teori?

“Jangan gunakan istilah pencurian dong.”

Baik. Peminjaman.

“Juga tidak tepat.”

Reproduksi?

“Tidak.”

Pengaruh?

“Ya.”

Saya mengangguk. Oke. Jadi menurutmu, kalau manusia memengaruhi tulisan manusia, itu sastra. Kalau mesin memengaruhi tulisan manusia, itu dosa. Begitukah

Tidak ada yang tertawa. Kali ini bahkan Absurditas diam. Saya memandang proyektor. Judul cerpen saya masih terpampang di sana.

CERpen INI (DI)BUAT DENGAN MENGGUNAKAN AI.

Kalian perlu tahu. Saya sebenarnya tidak ingin menulis judul cerpen seperti itu. Saya hanya ingin membuktikan sesuatu. Bahwa pada zaman ketika semua orang bisa mengklaim dirinya orisinal, pengakuan justru dianggap sebagai dosa jariyah.

Saya pernah mengikuti sebuah diskusi sastra. Seorang penulis senior dalam forum itu berkata, “Penulis harus jujur terhadap proses kreatifnya.” Saya mencatat kalimat itu. Kemudian saya diam diam mengalisis perjelasannya menggunakan AI.

Dalam kesempatan yang lain. Saya bertanya kepada mesin: Prompt-nya saya ketik begini. Buatkan cerpen tentang penulis yang ketahuan menggunakan AI.

Mesin menjawab.

Tetapi, tidak sesuai kemauan saya.

Saya meminta draft itu direvisi.

Mesin merevisi.

Saya juga tetap tak merasa diwakili.

Saya kemudian meminta dialog antar tokoh lebih tajam.

Mesin menajamkan.

Saya meminta satir.

Mesin memberi satir.

Saya meminta sarkasme.

Mesin memberi sarkasme.

Saya meminta akhir yang mengejutkan.

Mesin memberi beberapa pilihan.

Saya mendapatkan parafrase yang tidak sesuai dengan gaya penulisan yang saya gunakan selama ini.

Saya menolak semuanya.

Saya kira ini lebih dari cukup.

“Apakah kamu tahu,” kata Prolepsis, “bahwa AI akan menghancurkan masa depan sastra?” l

Saya menjawab. Tidak.

“Tidak?”

Iya. Tentu saja. Sebab saya belum pernah bertemu masa depan.

“Banyak penelitian sudah mengatakan hal yang demikian bung. Banyak penelitian juga mengatakan bahwa dengan membaca buku dapat meningkatkan kecerdasan.”

Lalu?

“Karena kamu menormalisasi hal tersebut, sehingga banyak penulis akan menjadi penulis bodoh?”

Digresi tertawa.

Prolepsis memandang saya, seperti saya baru saja membakar perpustakaan.

“Intinya. Kamu menghina kami.”

Tidak. Saya menghina generalisasi.

Prolepsis menyilangkan tangan.

“AI akan membuat semua orang menjadi penulis instan. Dan penulis sepertimu hanya melacurkan kata kata.”

Bukankah itu bagus?

“Tidak.”

Kenapa?

“Karena penulis harus memiliki bakat.”

Siapa yang menentukan bakat?

“Kritikus.”

Siapa yang menentukan kritikus?

“Komunitas sastra.”

Siapa yang menentukan komunitas sastra?

Prolepsis diam.

Saya justru tersenyum.

Oke, jadi sebenarnya masalahnya bukan di AI dong. Masalah utamanya adalah kalian sebetulnya takut kehilangan pekerjaan.

Ruangan kembali hening.

Analepsis memukul meja.

“Kami tidak takut!”

Baik.

“Kami membela martabat sastra.”

Baik.

“Kami membela kerja keras.”

Baik.

“Kami membela proses kreatif.”

Baik.

“Kami membela kemanusiaan.”

Baik.

“Jangan hanya mengatakan baik bung!”

Kalau saya mengatakan tidak, Anda bisa marah.

“Karena kamu tidak serius!”

Loh, saya serius.

“Tidak terlihat.”

Apa mungkin karena saya menggunakan AI?

Ekfrasis sejak tadi diam. Ia memandangi layar.

“Judul itu,” katanya.

Apa?

“Secara visual menarik.”

Terima kasih.

“Ini kontras antara pernyataan teknologis dan bentuk sastra yang menciptakan tegangan.”

Terima kasih.

“Bahkan judulnya sendiri sudah seperti karya konseptual bung. Wow. Saya takjub sekali.”

Terima kasih.

“Apakah kamu sengaja?”

Tidak.

“Wow. Ini gila. Bahkan saya pikir. Ini bakalan bisa lebih menarik lagi.”

Saya tersenyum. Ekfrasis menulis sesuatu di buku. Saya melirik. Ia menulis:

Cerpen ini menggambarkan paradoks kebohongan dan eksistensial. Penulis kontemporer telah lahir dalam menghadapi teknologi di era 5.0.

Saya bertanya.

Itu tentang cerpen saya?

“Ya.”

Sudah membacanya?

“Sudah.”

Dari mana?

“PDF.”

Bukankah terlalu cepat?

“Saya membaca cepat.”

Berapa menit?

“Lima.”

Baca Juga :  CERPEN Yuspianal Imtihan: Warisan Ilmu Kecepatan Tangan

Cerpen saya lebih dari 7000 ribu kata lo.

Ekfrasis tersenyum.

“Saya penulis senior bung.”

Oke oke. Baiklah.

***

Forum berlanjut. Fokalisasi berkata bahwa AI tidak memiliki pengalaman hidup.

Saya bertanya. Apakah pengalaman hidup harus dialami oleh penulis atau cukup diketahui saja?

“Harus dialami bung.”

Kalau begitu penulis laki-laki tidak boleh menulis tentang perempuan.

“Bukan begitu.”

Penulis kaya tidak boleh menulis tentang orang miskin.

“Bukan begitu.”

Orang kota tidak boleh menulis tentang desa.

“Bukan begitu.”

Orang yang tidak pernah mati tidak boleh menulis tentang kematian.

“Bukan begitu.”

Lalu?

“Empati bung. Empati.”

Saya mengangguk. Jadi, pengalaman bisa digantikan oleh empati?

“Dalam batas tertentu.”

AI bisa mensimulasikan empati itu kok.

“Itu bukan empati.”

Kenapa?

“Karena AI tidak merasakan. AI tidak memiliki jiwa sehingga AI itu nir emosional bung.”

Apakah penulis selalu merasakan apa yang ditulis?

“Tidak.”

Kalau begitu kenapa tulisan penulis dianggap lebih manusiawi?

“Karena manusia yang menulis.”

Jadi kualitas sastra ditentukan oleh identitas biologis penulis?

Fokalisasi tidak menjawab.

NaratorTakAndal tiba-tiba bicara.

“Saya pikir kita semua sedang berdebat tentang sesuatu yang sebenarnya tidak kita pahami ujung pangkalnya.”

Semua orang menoleh.

Itu mengejutkan. Sebab NaratorTakAndal jarang mengatakan sesuatu yang terdengar masuk akal.

“Menurut saya,” lanjutnya, “kita tidak perlu takut pada AI.”

Analepsis mengangkat alis.

“Kamu membela AI?”

“Tidak.”

“Lalu?”

“Saya membela ketidakjujuran manusia.”

Saya mengerutkan kening.

“Maksudnya?” tanya Analepsis

NaratorTakAndal tersenyum.

“Kalian semua terlalu cepat mengaku tidak menggunakan AI.”

Saya memandang wajah mereka satu per satu.

Analepsis berdiri.

“Apa maksudmu?”

NaratorTakAndal menunjuk laptop Prolepsis.

“Laptop itu.”

Prolepsis langsung menutup layarnya.

“Kenapa?”

“Tidak apa-apa.”

“Jangan menuduh.”

“Saya tidak menuduh.”

“Lalu?”

“Saya hanya bertanya.”

“Apa?”

“Kapan terakhir kali kamu membuka AI?”

Prolepsis berdiri.

“Saya tidak pernah!”

NaratorTakAndal tertawa.

“Bohong.”

“Buktikan.”

“Riwayat perambanmu.”

Prolepsis pucat. Saya menatap laptopnya. Analepsis ikut melihat. Yang lain juga ikut penasaran.

“Buka.”

“Tidak.”

“Kenapa?”

“Ini wilayah privasi.”

Absurditas bertepuk tangan.

“Luar biasa!”

“Apa?”

“Ketika orang lain memakai AI, itu berkaitan dengan masalah moral.”

“Diam!”

“Tapi ketika laptop sendiri diperiksa, tiba-tiba muncul konsep hak privasi.”

Prolepsis duduk kembali.

“Ini tidak relevan.”

NaratorTakAndal membuka laptopnya sendiri.

“Saya punya bukti.”

Ia memutar layar.

Ada sebuah dokumen.

Judulnya:

Novel Baru Prolepsis — Draft 13 

Di bawahnya ada beberapa catatan.

Prompt: buatkan saya dialog lebih puitis. 

Prompt: tolong perbaiki endingnya. 

Prompt: parafrasekan tulisan saya, jangan terlalu terasa seperti AI.

Ruangan meledak.

Analepsis berdiri.

“Ini apa?”

Prolepsis tidak menjawab. Digresi tertawa sampai batuk. Intertekstual menutup mulut. Saya hanya tersenyum. Prolepsis akhirnya berkata;

“Itu eksperimen.”

“Eksperimen?” tanya saya.

“Ya.”

“Untuk apa?”

“Untuk mengetahui kemampuan AI.”

“Berapa halaman?”

“Seratus dua puluh.”

“Eksperimen yang panjang. Wow. Yang gratisan apa yang berbayar?”

“Jangan menghakimi!”

Saya mengangkat tangan.

“Saya tidak menghakimi.”

“Kamu tersenyum.”

“Karena eksperimennya berhasil.”

Prolepsis menatap saya.

“Berhasil apanya?”

“Menulis novel.”

Ia menunduk.

***

Setelah itu, rahasia-rahasia lain mulai terbuka. Analepsis ternyata pernah menggunakan AI untuk menyusun sinopsis novelnya.

Metafiksi pernah menggunakan AI untuk mencari alternatif judul untuk karya selanjutnya.

Intertekstual pernah memasukkan paragrafnya ke dalam AI untuk memeriksa kemiripan gaya tulisannya dengan penulis lainnya.

Fokalisasi pernah menggunakan AI untuk menerjemahkan cerpennya ke bahasa Inggris.

Digresi pernah menggunakan AI untuk mencari fakta tentang sejarah sepatu, dasi kupu-kupu, bando kelinci dan penutup botol wine dengan kulit pohon cork.

Deus Ex Machina pernah menggunakan AI untuk mencari ide penyelesaian cerita ketika tokoh utamanya terjebak di gudang garam.

Epifani pernah menggunakan AI untuk mencari “ending yang menyentuh”.

Defamiliarisasi pernah menggunakan AI untuk membuat metafora tentang kursi.

Absurditas pernah menggunakan AI untuk menghasilkan lelucon yang tak pernah bisa dianggap lucu.

Ekfrasis pernah menggunakan AI untuk mendeskripsikan sebuah lukisan yang tidak pernah ia lihat secara langsung.

NaratorTakAndal justru menggunakan AI hampir setiap malam. Ia berdebat dengan AI dan selalu merasa dirinya menang dalam perdebatan tersebut.

Tinggal satu orang.

Analepsis.

Ia duduk diam.

Bagaimana dengan Anda? Tanya saya.

“Saya tidak pernah menggunakan AI. Sama sekali.”

NaratorTakAndal tertawa.

Analepsis menatapnya dalam mode serius.

“Kamu jangan menuduh.”

“Saya tidak menuduh.”

“Kamu tertawa.”

“Saya teringat sesuatu.”

“Apa?”

“Buku terbaru Anda.”

“Apa?”

“Di halaman ucapan terima kasih.”

“Ada apa emangnya?”

“Anda menulis terima kasih kepada ‘asisten digital yang membantu saya mengembangkan beberapa kemungkinan naratif’ dalam karya terbaru saya ini.”

Analepsis diam.

Saya menatapnya.

“Apakah itu AI?”

“Bukan.”

“Lalu?”

“Asisten.”

“Manusia?”

“Tidak.”

“Robot?”

“Tidak.”

“Mesin?”

“Kurang lebih.”

“AI?”

Analepsis menghela napas.

“Ya.”

Semua orang tertawa.

Ia mengangkat kedua tangannya.

“Baik! Saya menggunakan AI!”

“Sejak kapan?” tanya saya.

“Sudah dua tahun.”

“Dua tahun?”

“Ya.”

“Dan selama dua tahun itu Anda mengatakan AI membunuh sastra?”

“Saya tidak pernah mengatakan begitu.”

“Di seminar bulan lalu.”

“Itu retorika.”

“Di artikel Anda.”

“Itu kritik.”

“Di wawancara televisi.”

“Itu konteks.”

“Di podcast.”

“Itu spontan.”

Saya menatapnya.

“Jadi?”

Analepsis tersenyum pahit.

“Saya munafik.”

Tidak ada yang membantah. Mungkin karena pengakuan itu terlalu sederhana. Terlalu manusiawi.

Kami akhirnya makan kue. Forum yang sejak tadi berbicara tentang masa depan sastra berubah menjadi pembicaraan tentang honorarium.

Deus Ex Machina bertanya kepada panitia apakah ada uang transport. Tidak ada. Ia sungguh kecewa.

“Jadi kami datang untuk apa?”

Untuk sastra. Jawab saya.

Ia menatap saya.

“Kamu ini lucu.”

Terima kasih.

“Saya serius.”

Saya juga.

Kami kembali tertawa.

“Mungkin beginilah sastra bekerja.” Kata Absurditas

Kami mengatakan bahwa kami datang demi gagasan. Padahal kami datang karena undangan.

Kami mengatakan bahwa kami menulis demi pembaca. Padahal kami berharap buku fisik kami terjual. Jamaah pembaca semakin menjamur dimana-mana. Membawa buku fisik yang ada nama kami kemana-mana.

Kami mengatakan bahwa kami tidak mengejar penghargaan. Padahal kami menghafal nama nama juri. Mencari tahu kebiasaan kebiasaan mereka. Karya karya dan buku buku yang biasa mereka baca.

Kami mengatakan bahwa kami tidak membutuhkan popularitas. Padahal kami memeriksa jumlah pengikut setiap malam. Kami bahkan selalu berakhir dengan pendataan calon jamaah amin bagi perkumpulan kami.

Kami mengatakan bahwa sastra harus bebas dari segala kepentingan. Padahal kami marah jika nama kami tidak dicetak paling besar di poster.

Terakhir kami dengan lantang mengatakan AI tidak boleh digunakan. Padahal hampir semua orang di ruangan itu menggunakannya.

Perbedaannya hanya satu.

Saya mengaku.

Mereka tidak.

Bagian I Selesai

Penulis : Yuspianal Imtihan

Berita Terkait

CERPEN Yuspianal Imtihan: Pertanyaan Seputar Cerpen
CERPEN Yuspianal Imtihan: Warisan Ilmu Kecepatan Tangan
Sempurnakan Program DAK 2027 dengan Mendata Penulis Lokal: Adakah Peluang Pengadaan Buku Karya Penulis Lokal?
CERPEN Yuspianal Imtihan: Ada Kosnpirasi Di Cerita Ini 
Viralisasi Berkelindan dengan Motif Ekonomi, Program Literasi Selalu Dilayakkan Proyek Belaka
Penderitaan Modern di Era AI: Manusia dan Realitas Palsu, Sastra sebagai Penawarnya

Berita Terkait

Senin, 17 Agustus 2026 - 23:28 WITA

Kepadatan Bali Mulai Jenuhkan Wisatawan, Qunci Villas Resort di Senggigi Tawarkan Suasana Sepi

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 20:18 WITA

Resmi Diakuisisi Dua Putra Daerah, Ekas Breaks Berganti Nama Jadi Windy Ekas Breaks Resort & Villa

Selasa, 2 Juni 2026 - 23:32 WITA

Dispar Lombok Timur Desak Pemprov NTB Terbitkan Aturan Laut Teluk Ekas

Selasa, 26 Mei 2026 - 00:44 WITA

Masyarakat Desak Hak Ulayat di Tengah Penyusutan Lahan Bale Adat Desa Beleq Sembalun

Sabtu, 2 Mei 2026 - 23:02 WITA

Pemerintah Hampir Ratakan Pusat Informasi Geopark Rinjani, Kini Fasilitas Itu Mulai Beroperasi

Jumat, 1 Mei 2026 - 17:31 WITA

Buka Rinjani 100, Plt Kadispora Lepas Pelari Kategori Ekstrem

Selasa, 24 Maret 2026 - 23:44 WITA

Pemuda Asal Masbagik Terseret Ombak di Tanjung Beloam

Selasa, 24 Maret 2026 - 15:30 WITA

Sembalun dan Ekas Jadi Sorotan, Ini Dampak Perda Pariwisata Baru

Berita Terbaru

Peneliti Lombok Research Center (LRC),
Dr. Maharani. (Foto: Istimewa)

Lingkungan

Tambang Menggali, Pangan Mulai Berkurang

Selasa, 1 Sep 2026 - 22:01 WITA