333 Siswa Korban Keracunan MBG di Lombok Tengah Pulang dari Puskesmas, BGN Hentikan SPPG

Jumat, 11 September 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Badan Gizi Nasional (BGN) menangani dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menimpa 352 siswa di Kecamatan Batukliang, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, Jumat (11/9/2026). (Foto: Lombokini.com/BGN Regional NTB)

Badan Gizi Nasional (BGN) menangani dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menimpa 352 siswa di Kecamatan Batukliang, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, Jumat (11/9/2026). (Foto: Lombokini.com/BGN Regional NTB)

LOMBOKINI.com – Sebanyak 333 dari 352 siswa yang mengalami dugaan keracunan setelah menyantap menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Batukliang, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, pulang ke rumah pada Jumat malam, 11 September 2026. Tidak ada siswa yang menjalani rawat inap.

Kepala Regional Badan Gizi Nasional (BGN) NTB Eko Prasetyo mengatakan kepada wartawan, Jumat (11/9/2026), semua korban sudah pulang dan tidak ada yang menjalani perawatan.

Eko memastikan petugas medis menangani para siswa di empat puskesmas sebelum mereka pulang.

Puskesmas Mantang menangani 51 siswa, Puskesmas Aik Darek menangani 86 siswa, Puskesmas Pringgerata menangani 180 siswa, dan Puskesmas Bagu menangani 16 siswa. Hingga pukul 18.00 Wita, data sementara mencatat 333 siswa berobat ke puskesmas.

Baca Juga :  Triliunan untuk Bendungan, Mata Air Terabaikan

BGN memantau kondisi para siswa dan menunggu hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan. BGN NTB juga melaporkan kejadian itu kepada pemerintah pusat.

Sebagai langkah penanganan awal, BGN menghentikan sementara Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Lombok Tengah Mekar Bersatu di bawah Yayasan Budi Sain Mangkling yang memproduksi menu tersebut.

Meski demikian, BGN belum menyimpulkan penyebab pasti kejadian itu. Laboratorium masih memeriksa sampel makanan untuk mengetahui sumber penyebabnya.

Eko menyampaikan permohonan maaf kepada para siswa, keluarga atau wali murid, serta pihak sekolah.

Baca Juga :  LKKS NTB Perkuat Kapasitas Penerima Manfaat Desa Berdaya di Pijot, Dorong Usaha Naik Kelas dan Keluar dari Kemiskinan Ekstrem

Eko mengatakan pihaknya akan menunggu arahan pimpinan pusat serta hasil uji laboratorium terhadap sampel makanan yang SPPG produksi hari itu.

Sebelumnya, para siswa menyantap menu kebab MBG yang terdiri dari kulit kebab atau tortilla, ayam kukus tumis, stik tempe, selada, timun, serta buah salak. Para siswa kemudian mengalami keluhan seperti muntah-muntah dan pusing.

Dinas Kesehatan setempat mengambil sampel kebab ayam dalam menu MBG agar laboratorium menguji sampel itu.

Eko mengatakan pihaknya masih menunggu hasil uji laboratorium untuk mengetahui penyebab dugaan keracunan tersebut. ***

Editor : Najamudin Anaji

Follow WhatsApp Channel lombokini.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

LKKS NTB Perkuat Kapasitas Penerima Manfaat Desa Berdaya di Pijot, Dorong Usaha Naik Kelas dan Keluar dari Kemiskinan Ekstrem
LK2T Apresiasi Bupati Ganti Direktur RSUD, Minta Evaluasi Menyeluruh dan Klarifikasi Kebijakan BPJS
Tembus 1.297 Pasien, IGD RSUD Soedjono Selong: 55 Persen dari Jalur Rujukan
Influenza A, Berbahaya, kah? Begini Penjelasan Dokter Ario
Dekan FH Unram Tegaskan Komisaris BUMD Tak Boleh Berstatus Fungsionaris Partai
RSUD Selong Terapkan Mobile JKN untuk Antrean Poli Mulai 1 Oktober 2026
Warga Ekas Buana Gelar Aksi, Soroti Dugaan Hubungan Sekdes dengan Perempuan hingga Hamil di Luar Nikah
UAS Paparkan Tujuh Pelajaran dari Maulana Syaikh TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Kamis, 22 Oktober 2026 - 14:48 WITA

LKKS NTB Perkuat Kapasitas Penerima Manfaat Desa Berdaya di Pijot, Dorong Usaha Naik Kelas dan Keluar dari Kemiskinan Ekstrem

Kamis, 15 Oktober 2026 - 10:22 WITA

LK2T Apresiasi Bupati Ganti Direktur RSUD, Minta Evaluasi Menyeluruh dan Klarifikasi Kebijakan BPJS

Rabu, 14 Oktober 2026 - 18:29 WITA

Tembus 1.297 Pasien, IGD RSUD Soedjono Selong: 55 Persen dari Jalur Rujukan

Selasa, 6 Oktober 2026 - 19:51 WITA

Influenza A, Berbahaya, kah? Begini Penjelasan Dokter Ario

Jumat, 2 Oktober 2026 - 19:42 WITA

Dekan FH Unram Tegaskan Komisaris BUMD Tak Boleh Berstatus Fungsionaris Partai

Berita Terbaru

Dr. Maharani, peneliti Lombok Research Center (LRC), memaparkan materi tentang penguatan kapasitas pemerintah desa dalam mitigasi dan adaptasi perubahan iklim di Seco Cafe, PTC Pancor, Lombok Timur, Selasa (20/10/2026). (Foto: Lombokini.com)

Opini

Ketika Suhu Naik, Orang Miskin Membayar Harga Termahal

Rabu, 21 Okt 2026 - 08:44 WITA