Gema Alam NTB dan WRI Indonesia Libatkan Perempuan Desa Awasi Kawasan Hijau

Selasa, 1 September 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Gema Alam NTB bersama WRI Indonesia menggelar Diskusi Publik dan Refleksi Pembelajaran Wise Watch di Lombok Timur, Selasa 1 September 2026. (Foto: Lombokini.com)

Gema Alam NTB bersama WRI Indonesia menggelar Diskusi Publik dan Refleksi Pembelajaran Wise Watch di Lombok Timur, Selasa 1 September 2026. (Foto: Lombokini.com)

LOMBOKINI.com – Sebanyak 25 perempuan di Kecamatan Sambelia, Lombok Timur, rutin memantau kondisi hutan setiap pekan untuk menekan laju pembalakan liar dan alih fungsi lahan yang terus mengancam ekosistem setempat.

Gema Alam NTB menggagas program pemberdayaan bernama Perempuan Pemantauan Hutan ini bersama World Resources Institute (WRI) Indonesia melalui program Wise Watch.

Wadah tersebut memberdayakan perempuan di Desa Sambelia dan Desa Sugian agar terlibat langsung dalam pengawasan kawasan hijau.

Ketua Perempuan Pemantau Hutan Sambelia, Eriska Hudriah, mengaku program ini membuka ruang penting bagi pemberdayaan perempuan desa yang selama ini minim kesempatan dalam aspek sosial.

“Di desa kami belum ada program yang memberdayakan perempuan secara spesifik. Melalui wadah ini, kami tidak hanya diajak melihat realitas hutan, tetapi juga dilatih agar percaya diri dan berpikir positif,” ujar Eriska, Selasa 1 Sepetember 2026.

Baca Juga :  Satgas MBG Lombok Timur Kumpulkan Dokumen 82 SPPG, Siap Ajukan ke BGN

Para anggota kelompok ini berasal dari kader posyandu, pengurus PKK, hingga warga peduli lingkungan. Namun, mereka masih menghadapi tantangan sosial karena sebagian masyarakat memandang sebelah mata aktivitas luar ruangan bagi perempuan.

Bagi anggota yang belum menikah, Eriska menambahkan, mereka harus meyakinkan orang tua agar tidak mengira kegiatan memantau hutan sekadar pelesiran.

“Kami sangat membutuhkan pendampingan agar keluarga dan masyarakat yakin kegiatan ini bernilai positif. Alhamdulillah, sejauh ini orang tua dan suami dari teman-teman memberikan dukungan,” jelasnya.

Dalam pelaksanaannya, kelompok ini memadukan pengamatan manual di lapangan dengan teknologi modern berbasis aplikasi Global Forest Watch. Pemantauan rutin mereka lakukan secara berkelompok sekali seminggu.

Baca Juga :  LKKS NTB Perkuat Kapasitas Penerima Manfaat Desa Berdaya di Pijot, Dorong Usaha Naik Kelas dan Keluar dari Kemiskinan Ekstrem

Eriska menegaskan, meningkatnya intensitas banjir bandang di kawasan Sambelia dan Sembalun menjadi tamparan keras bagi pentingnya menjaga tutupan hutan.

“Dari program ini kami makin sadar betapa krusialnya menjaga lingkungan. Bencana terjadi salah satunya akibat penebangan pohon sembarangan. Kesadaran dasar masyarakat untuk melindungi hutan adalah kunci utama,” tegasnya.

Ke depan, para pemantau hutan berharap pemerintah daerah, termasuk Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH), Bappeda, Dinas PUPR, dan DPRD, merealisasikan poin-poin advokasi yang telah mereka suarakan dalam berbagai forum dialog.

Selain penguatan edukasi lingkungan, mereka juga mendorong pelatihan kewirausahaan agar anggota kelompok dapat tumbuh menjadi perempuan yang mandiri secara ekonomi. ***

Penulis : Najamudin Anaji

Follow WhatsApp Channel lombokini.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Ekspansi Tambak Udang Ancam Selat Alas, Yayasan JARI dan WMC Dorong Aksi Kolektif Perempuan Pesisir
Menelisik Praktik Konservasi Inklusif Yayasan JARI di Wilayah Selat Alas
Tata Kelola Pesisir: FGD Katadata Green Rumuskan Solusi Inklusif dan Berkelanjutan di Lombok Timur
LRC Perkuat Kapasitas 20 Sekdes di Lombok Timur untuk Mitigasi dan Adaptasi Iklim
Tambang Menggali, Pangan Mulai Berkurang
Lombok Timur Peringkat Pertama Penerima Program LSDP Bantuan Bank Dunia
Merawat Ruang Hidup di Hari Kemerdekaan: Komunitas Adat Batu Rentek Mengajak Warga Aikmel untuk Sadar Ekologis
Video Air Berbusa dari Tambak Udang Viral, Nelayan Protes Susah Cari Ikan

Berita Terkait

Senin, 26 Oktober 2026 - 06:59 WITA

Ekspansi Tambak Udang Ancam Selat Alas, Yayasan JARI dan WMC Dorong Aksi Kolektif Perempuan Pesisir

Minggu, 25 Oktober 2026 - 05:31 WITA

Menelisik Praktik Konservasi Inklusif Yayasan JARI di Wilayah Selat Alas

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 15:08 WITA

Tata Kelola Pesisir: FGD Katadata Green Rumuskan Solusi Inklusif dan Berkelanjutan di Lombok Timur

Selasa, 20 Oktober 2026 - 20:25 WITA

LRC Perkuat Kapasitas 20 Sekdes di Lombok Timur untuk Mitigasi dan Adaptasi Iklim

Selasa, 1 September 2026 - 22:01 WITA

Tambang Menggali, Pangan Mulai Berkurang

Berita Terbaru

Bupati Lombok Timur Drs. H. Haerul Warisin, M.Si. (Foto: Lombokini.com)

Opini

TPAKD Award 2026:Tanpa Kemiskinan  

Selasa, 3 Nov 2026 - 21:20 WITA