LOMBOKINI.com – Rektor Universitas Hamzanwadi, Sitti Rohmi Djalilah, menegaskan pencegahan penyimpangan seksual harus diintervensi sejak usia dini melalui kolaborasi kuat antara lingkungan keluarga dan sekolah.
Menurutnya, pembentukan karakter anak dalam menjaga diri tidak dapat dibentuk secara instan karena sangat dipengaruhi oleh faktor kebiasaan dan lingkungan.
Rohmi menyatakan tanggung jawab pelik ini tidak bisa dibebankan kepada pemerintah semata, melainkan butuh keterlibatan aktif orang tua, guru, kepala sekolah, tokoh agama, hingga masyarakat luas.
“Persoalan seperti ini bukan persoalan mudah. Ini berkaitan dengan kebiasaan dan lingkungan. Karena itu harus dimulai dari keluarga, kemudian diperkuat melalui pendidikan,” tegas Rohmi.
Mantan Wakil Gubernur NTB ini menilai jenjang Taman Kanak-Kanak (TK) merupakan fase krusial untuk menanamkan pemahaman dasar kepada anak.
Pada tahap ini, anak harus mulai diajarkan mengenali identitas diri, mengetahui batasan bagian tubuh yang tidak boleh disentuh orang lain, serta membangun keberanian untuk melindungi diri sendiri.
Edukasi tersebut harus diberikan secara bertahap dan berkelanjutan hingga jenjang perguruan tinggi agar anak memiliki benteng kokoh terhadap dampak negatif lingkungan maupun paparan dunia digital.
Sejalan dengan hal itu, ia juga mengingatkan pentingnya peran orang tua dalam mengawasi penggunaan media sosial anak di tengah pesatnya kemajuan teknologi.
Sementara itu, guna memastikan ruang lingkup akademisnya bersih dari ancaman serupa, Rohmi menegaskan bahwa Universitas Hamzanwadi telah menerapkan regulasi ketat demi menjaga ekosistem kampus yang aman dan nyaman.
Langkah pencegahan dan penindakan di internal kampus kini diperkuat dengan mengoptimalkan peran satuan tugas (satgas) khusus.
Penulis : Paozan Azima







