Oleh: Salman Faris
Sebenarnya anda sedang merayakan daerah dalam konteks sejarah nenek moyang atau merayakan daerah anda sebagai kota pemerintahan?
Sebenarnya anda sedang merayakan kemerdekaan atau keterjajahan?
Sebenarnya anda sedang merayakan kemenangan atau kekalahan?
Jika kelak anak cucu Anda bertanya, kenapa Lombok Timur lebih tua dari Provinsi NTB? Lebih tua dari daerah lain? Kemudian meneruskan pertanyaan, apa yang terjadi pada ketika penamaan Lombok Timur yang anda rayakan ratusan tahun, apa kira-kira jawaban anda?
Banyak isu sebenarnya di Lombok Timur yang ingin saya terlibat dalam mendiskusikannya. Atau sekurang-kurangnya saya berbagi pandangan. Namun, selama ini saya mencoba menahan diri karena saya menghormati senior saya, sahabat saya, Pak Bupati. Termasuk beberapa sahabat yang sedang menjabat di Lombok Timur. Hal ini karena saya menjaga agar pengalaman sebelum ini tidak terulang. Waktu itu, saya menulis tentang pejabat Lombok Timur, kemudian ada utusan yang menghubungi saya untuk mengerem sedikit biar tak terlalu biur lantur.
Akan tetapi, terkait dengan Lombok Timur yang tiba-tiba merayakan 131 tahun kelahirannya, rasanya berdosa jika saya masih menahan diri. Meskipun saya tahu risikonya, hal ini akan menimbulkan diskusi yang lebih panjang lagi. Jika yang ditimbulkan adalah kontinuitas diskusi, tentu ini sangat menarik. Tetapi jika yang lahir adalah kemarahan, memang situasinya agak berbeda. Sekali lagi, seandainya pun ada kemarahan, itu tidak masalah. Karena ini penting, ketimbang kita disebut jogang oleh orang lain. Dibandingkan dengan dipanggil lok melet perasak, rasanya lebih baik menimbulkan kemarahan, tetapi dapat menghasilkan pikiran yang agak waras.
Saya membaca tulisan sahabat saya, Lalu Wangsa, yang kayaknya banyak diambil dari dokumen sejarah Lombok Timur. Beliau termasuk sangat mendukung hal ini. Biasalah, kalau soal merang Sasak, beliau pasti paling julu. Ini tidak salah, namun sekali lagi, mengimajinasikan Sasak (dalam konteks Lombok Timur) setinggi langit, tidak ada masalah. Yang menjadi masalah besar ialah ketika imajinasi itu tidak mempunyai akar pijak dan tunjang yang kuat.
Lalu Wangsa mendasarkan argumen dengan berakhirnya perang di Mataram pada tahun 1894, kemudian secara resmi Belanda menguasai Lombok, dalam hal ini juga, Lombok Timur pada tahun 1895. Terkait tulisan tersebut, sebelum saya singgung pendekatan Lalu Wangsa yang berpotensi keliru caren mikir itu, saya sentuh bagian yang tidak kalah sensitifnya. Yakni, bagi Lalu Wangsa, perang di Mataram adalah kemenangan orang Sasak melawan Bali yang mendompleng pada Belanda. Atau menjadikan Belanda sebagai tameng. Alias Belanda dijadikan katuk oleh orang Sasak. Ini cara berpikir yang sangat berbahaya. Namun saya tidak akan panjang lebar di sini menuliskan kekeliruan yang berbahaya itu. Hanya saja, saya ingin tegaskan, dalam melihat perang di Mataram pada tahun 1894 itu saja, Lalu Wangsa sudah keliru caren mikir, maka berentetan pula dengan beliau melihat umur Lombok Timur yang sudah 131 tahun.
Hal tersebut dapat dilihat dari dasar argumen pembentukan Lombok Timur oleh Belanda pada tahun 1895. Dalam hal ini, di mana cacat mikirnya? Dalam catatan sejarah resmi, papda tahun tersebut Belanda masih menjajah Indonesia. Dengan kata lain, Lombok Timur menjadi daerah taklukan. Daerah jajahan. Penjajah datang ke kampung anda, lalu menamakan kampung anda sebagai kampung baru, kampung yang berbeda nama dengan kampung yang dibuat oleh nenek moyang anda. Kemudian demi kegagahan, anda dengan polosnya mengakui kampung bentukan penjajah tersebut sebagai asal kampung anda sendiri. Dan setelah itu, anda merayakannya dengan penuh kebanggan.
Bukankah itu namanya merayakan penjajahan? Bukankah itu namanya membanggakan keterjajahan? Mentalitas semacam ini, memang tidak asing di kalangan kaum yang banyak terjajajah. Mentalitas kaum terjajah yang membentuk cacat berpikir. Cacat berpikir yang buta meletakan posisi sejarah bagi bangsanya sendiri.
Tulisan sahabat saya Ali Akbar, rasanya setali tiga uang dengan tulisan Lalu Wangsa. Ali Akbar mendasari argumennya dengan menghargai peristiwa yang berdarah-darah pada kurun waktu 1895/1897/1898. Dengan menunjukkan bukti peperangan melawan penjajah yang terjadi di Lombok Timur pada masa itu. Sekilas, ini nampak heroik. Terasa patriotik. Namun sungguh berpotensi cacat mikir.
Mari mulai dari hipotesis paling sederhana, bagaimana jika perlawanan tersebut justru disebabkan oleh penolakan mereka terhadap pembentukan Lombok Timur sebagai daerah penjajahan Belanda. Mereka menolak dijajah, sebagaimana diuraikan oleh Ali Akbar, sekali lagi nampak mantap. Namun sekali lagi, jika dihubungkan dengan perlawanan terhadap penguasaan teritori Lombok Timur, maka sungguh jahat anda merayakan umur Lombok Timur 131 tahun. Para tokoh yang melakukan perlawanan terhadap Belanda tersebut saja, tidak sudi atas penguasaan Belanda, kenapa anda malah mensahkan titik mula penjajahan tersebut sebagai berdirinya daerah anda.
Kalau argumen Ali Akbar ini dianalogikan dengan kelahiran Indonesia, kenapa pula kelahiran Indonesia sebagai bangsa merdeka tidak dirayakan sejak Fatahillah melawan Portugis, misalnya? Atau bahkan lebih lama lagi ketika Nusantara sebagai embrio Indonesia sejak era Majapahit? Atau kenapa tidak sejak tahun 1928, ketika Sumpah Pemuda digaungkan oleh para pejuang. Dengan kata lain, umur Indonesia sudah pasti dirayakan dalam kelipatan ratusan tahun, bukan 81 tahun. Hal ini karena para peletak dasar Indonesia itu, tidak mau membanggakan keterjajahan mereka. Mereka menulis sejarah mereka secara lengkap, sejak awal keterjajahan hanya sebagai sejarah pembentukan kesadaran kemerdekaan. Namun tidak ditulis sebagai perayaan kemerdekaan Indonesia itu sendiri.
Dengan kata lain, perlawanan orang Lombok Timur terhadap Belanda pada tahun 1895/1897/1898 itu, tetap menjadi sejarah penting bagi Lombok Timur. Sejarah yang wajib diketahui dan dihayati oleh segenap warga Lombok Timur. Tetapi itu tidak berarti membenarkan anda menjadikan landasan untuk merayakan daerah bentukan penjajah Belanda yang notabene dilawan oleh para pejuang Lombok Timur tersebut.
Contoh lain adalah, jika ingin mendasari patriotisme sebagai landasan merayakan kelahiran daerah anda, kenapa Praya tidak merayakan daerahnya berdasarkan tahun terjadinya Perang Praya? Atau Mataram-Cakranegara yang sudah ada sejak akhir 1870-an, kenapa tidak mendasari perayaan kelahiran daerah berdasarkan tahun yang lebih awal tersebut? Dalam hal ini, saya kira, Lombok Tengah (Praya) dan Mataram-Cakranegara masih jauh lebih rasional, dibandingkan anda. Mereka tetap mencatat sejarah kelam itu, tetapi tidak mau menjadikannya sebagai dasar perayaan kelahiran daerah mereka. Dengan kata lain, mereka tidak mau merayakan, tidak sudi mengakui era penjajahan dan masa keterjajahan tersebut dalam bentuk perayaan kebanggaan.
Memang ada daerah yang merayakan ulang tahun berdasarkan peristiwa patriotis atau sesuai asal-usul yang asal. Misalnya Jakarta. Namun anda jangan keliru, Jakarta dan Lombok Timur, dua hal yang sangat jauh berbeda konteks sejarahnya. Pada masa itu, Jakarta masih dikuasai oleh Portugis. Namun, penetapan Jakarta yang berusia 499 tahun itu dinilai sah dihitung sejak awal penguasaan Portugis tersebut.
499 tahun tersebut didasari pada keberhasilan Fatahillah merebut Sunda Kelapa dari tangan Portugis pada 22 Juni 1527. Dan oleh Fatahillah, Sunda Kelapa ditukar menjadi Jayakarta yang bermakna kemenangan. Jadi, dalam konteks Jakarta, yang dirayakan ialah kemenangan. Dan nama Jayakarta bukan dibuat oleh Portugis, melainkan oleh Fatahillah sendiri. Dengan kata lain, 499 tahun usia Jakarta itu ialah menandai sejarah perlawanan yang menang. Bukan perlawanan yang kalah. Dalam hal ini, adalah masuk akal jika dirayakan dengan penuh kebanggaan.
Bagaimana dengan Lombok Timur? Sepintas sama proses sejarahnya dengan Jakarta. Bahwa ada perlawanan yang berdarah-darah, seperti argumen Ali Akbar, itu sangat betul. Namun perlawanan tersebut menghasilkan sejarah yang berbeda. Perlawanan Lombok Timur tidak menghasilkan kemenangan. Dan nama Lombok Timur tidak diletakkan asasnya oleh para pejuang tersebut, melainkan oleh Belanda (seperti argumen Lalu Wangsa). Jadi di mana akal sehatnya merayakan 131 usia Lombok Timur itu?
Hal yang sama terjadi ketika Yogyakarta merayakan ulang tahun ke-271. Karena dasar pendiriannya ialah pada 13 Maret 1755 (13 Februari 1755) dan didirikan serta dinamakan oleh Pangeran Mangkubumi. Begitu juga Surakarta yang merayakan ulang tahun ke-281 karena mengikuti tanggal berdirinya pada 17 Februari 1745. Meskipun kedua kota ini sama-sama pernah berada dalam fasa penjajahan dalam sejarah Indonesia, namun mereka tetap diberi kedaulatan. Dan yang tak kalah pentingnya, nenek moyang merekalah yang mendirikan dan menamakan kota tersebut. Bukan penjajah. Bukan Belanda.
Apakah anda dapat melihatnya sama dengan Lombok Timur? Tentu saja jika anda memaksakan diri untuk menyamakannya, bisa saja. Namun sekali lagi, itu merupakan kecacatan berpikir. Sebab Lombok Timur jauh berbeda dengan kedua kota tersebut. Lombok Timur dibuat dan dikuasai sepenuhnya oleh Belanda, oleh penjajah. Dan pada masa itu, orang Lombok Timur samsaekali tidak berdaulat. Sepenuhnya dalam kekuasaan penjajah Belanda.
Jadi apa sebenarnya yang mau anda rayakan? Lagi pula, daripada anda memaksakan diri merayakan Lombok Timur dalam usia 131 tahun, hanya agar anda terlihat lebih tua, lebih lama, dibandingkan dengan daerah lain di Lombok itu, lebih baik anda merelevansikan nasib rakyat agar jauh lebih sejahtera.
Seharusnya malu pada Bima, yang tidak memaksakan diri merayakan kelahiran dengan merujuk kepada berdirinya Kesultanan Bima Islam pada 5 Juli 1640 (ada yang menyebut 1920) di bawah Sultan Abdul Kahir 1. Bima yang selalu berdaulat dengan SDM yang banyak lebih unggul dari Lombok Tumur masih berakal sehat dengan tetap merayakan Kota Bima dalam usia 24 tahun pada 2026. Bima yang begitu hebat saja tidak merayakan kota berdasarkan kegemilangan nenek moyang mereka. Melainkan mengacu pada Bima sebagai kota pemerintahan yang berdiri pada 20 April 2002.
Dari itu, saya ingin mengatakan, jika anda ingin melihat Lombok Timur itu secara luas dengan kepentingan kewibawaan yang lebih tinggi, malahan saya mungkin akan mendukung anda jika menghitung kelahiran Lombok Timur sejak era Selaparang atau era Laek (jika anda dapat membuktikan bahwa kerajaan-kerajaan ini pernah ada). Atau jika merasa malu karena rentangnya terlalu jauh, hitunglah dari peradaban Perdagangan Labuan Haji. Dengan begini menjadi jelas, bahwa kelahiran Lombok Timur berdasarkan asal usul nenek moyang. Bukan berdasarkan penetapannya sebagai kota pemerintahan oleh Belanda.
Akhirnya, saya ingin mengatakan, intelektual budak memang tak pernah henti terjajah. Maka jika, ingin selamat, bangunlah narasi bagi dan berdasarkan sejarah anda sendiri. Bahayanya, intelektual budak ini, akan terus-menerus keliru memberikan pertimbangan kepada penguasa. ***
Malaysia, 1 September 2026
Penulis : Salman Faris







