LOMBOKINI.com – Jurnalis warga mengampanyekan irigasi tetes (drip irrigation) di lahan kering Desa Ketangga, Kecamatan Suela, Lombok Timur. Mereka memanfaatkan media sosial dan media alternatif serta menjadikan kebun warga sebagai lokasi percontohan.
Irigasi tetes mengalirkan air perlahan langsung ke zona akar tanaman melalui jaringan pipa berlubang kecil. Teknik ini menekan pemborosan air akibat penguapan maupun limpasan.
Ketua media komunitas Speaker Kampung, Hajad Guna Roasmadi, sengaja menjadikan lahan pertanian warga sebagai ruang praktik sekaligus materi kampanye bagi jurnalis warga.
“Ini cara kami dari jurnalis warga untuk mengampanyekan kepada warga lainnya agar menggunakan irigasi tetes di lahan kering di Lombok Timur,” ujarnya di Suela, Rabu 6 Mei 2026.
Hajad menambahkan, organisasi non-pemerintah internasional Uni Eropa dan Pena Bulu mendukung kampanye ini. Kedua lembaga itu konsisten mendorong edukasi ekonomi hijau dan pemanfaatan lahan kering.
“Semoga kampanye ini menjadi edukasi bagi warga untuk ekonomi hijau di Lombok Timur,” harapnya.
Petani muda mempelopori penerapan irigasi tetes di desa tersebut. Salah satunya, Yonk (42), mengenal konsep ini dari pelatihan pertanian lahan kering dan informasi di media sosial.
“Kami belajar bahwa air yang sedikit pun bisa maksimal jika diberikan tepat sasaran. Di sini kemarau panjang, sumur mulai surut. Dengan irigasi tetes, kami tetap bisa menanam cabai dan tomat tanpa boros air,” ujarnya.
Petani menerapkan sistem sederhana. Mereka menghubungkan pipa utama ke tandon air yang mereka tinggikan sekitar satu meter. Dari pipa utama, selang kecil berlubang mengalirkan air menetes perlahan di sepanjang barisan tanaman sehingga tanah tetap lembap tanpa genangan.
Yonk juga menyebut metode itu memaksimalkan fungsi lahan kering saat kemarau. “Lahan kering yang kami miliki jadi tetap produktif,” katanya.
Kepala Dusun Monek, Rasid Ridoh, mengapresiasi inovasi warganya dalam beradaptasi dengan kondisi alam.
“Kami tidak memiliki irigasi teknis dari bendungan, selama ini hanya mengandalkan tadah hujan. Sekarang ada alternatif yang bisa ditiru petani lain,” ujarnya.
Rasid berencana menyosialisasikan irigasi tetes kepada warga lain, terutama pemilik lahan kering. Meski begitu, ia mengakui tantangan sosialisasi masih ada, termasuk mendorong penggunaan pupuk organik.
Ia berharap pemerintah daerah memberikan pendampingan teknis dan akses bahan baku terjangkau agar irigasi tetes menjangkau lebih banyak petani di Lombok Timur.
“Kami berharap konsep ini bisa meminimalisir biaya, membuat lahan kering lebih bermanfaat, dan menjangkau lebih banyak petani di Lombok Timur,” katanya. ***
Penulis : Najamudin Anaji







