CERPEN Yuspianal Imtihan: Warisan Ilmu Kecepatan Tangan

Kamis, 6 Agustus 2026 - 05:34 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Cerpen Yuspianal Imtihan

Ilustrasi Cerpen Yuspianal Imtihan

Subuh belum benar-benar selesai. Lampu-lampu di Klinik Bersalin Kuncup Bunga pun masih menggantungkan cahaya pucatnya. Di ruang tunggu. Ada bau karbol bercampur dengan aroma kopi sachet yang diseduh tergesa-gesa oleh penjaga malam. Dari balik pintu ruang persalinan, sesekali terdengar suara logam beradu, disusul langkah-langkah tergopoh para bidan yang hilir mudik membawa baki kecil.

Di sudut ruangan, seorang lelaki duduk sendirian.

Kemeja kotak-kotaknya telah kusut sejak semalam. Kedua telapak tangannya saling menggenggam, lalu terlepas, lalu menggenggam lagi. Sesekali ia mengusap wajahnya bukan karena mengantuk, tetapi karena ada sesuatu yang terus berputar di dalam kepalanya.

Hal yang dilakukannya itu bukan tentang biaya persalinan yang terbilang cukup mahal di Klinik bersalin ini. Bukan pula tentang keselamatan istrinya yang mestinya menjadi prioritas utama. Melainkan sebuah nama.

Iya. Nama, yang dalam pikirannya, kadang lebih panjang umurnya daripada manusia yang menyandangnya.

Ia lalu membuka sebuah buku kecil yang sampulnya mulai mengelupas. Pada halaman paling belakang, beberapa nama telah ia tuliskan dengan tinta tebal.

Amirul Mukminin.

Dicoretnya perlahan.

Badrun Al Qodri.

Digarisbawahi, lalu diberi tanda tanya.

Suhaimi.

Awalnya, dibiarkan tetap utuh. Tetapi buru buru halaman itu ia baliknya sampai ia melupakan sesuatu. Dia memandangi lagi nama tersebut. Meskipun akhirnya nama itu dicoret lagi karena ia mengenal seseorang dengan nama tersebut justeru masih bekerja sebagai cleaning service di salah satu universitas ternama di kotanya. Selong. Kabupaten Lombok Timur.

Sementara itu, ada dua nama lain yang ia tulis lebih besar dan lebih tebal daripada yang lainnya.

Edi Tansil dan Joko Warsito.

Dua nama itu. Ia memandangnya cukup lama.

Bibirnya bergerak tanpa suara, seolah sedang mengeja masa depan yang belum lahir tetapi mayakini bahwa nasib penyandang nama tersebut akan Gilang gemilang di kemudian hari.

Di ruang tunggu itu orang-orang datang silih berganti. Mereka tampak memiliki keinginan dan harapan yang sama.

Seorang bapak berkumis lebat berjalan mondar-mandir sambil membawa termos air panas.

Sepasang remaja menenteng kantong plastik berisi pakaian bayi. Juga beberapa perlengkapan bayi lainnya.

Sementara pada salah satu sudut di ruangan itu, seorang nenek tertidur dengan tas anyaman yang dipeluk erat di pangkuannya.

Dan di antara orang-orang yang sedang menunggu kelahiran anak manusia itu, tak ada satupun diantara mereka yang menyadari bahwa mata lelaki berkemeja kotak-kotak itu tidak pernah benar-benar diam. Ia sedang memperhatikan gerak-gerik mereka dengan seksama.

Tatapannya sangat aktif, berpindah dari satu wajah ke wajah lainnya.

Lalu turun ke saku celana.

Naik lagi ke pergelangan tangan.

Dan memilih berhenti sejenak pada resleting tas.

Kemudian dengan secepat kilat ia kembali seolah tak pernah terjadi apa-apa.

Ia tersenyum sendiri.

“Wah ternyata saya di umur yang sudah tidak muda belia ini masih terampil.” Gumamnya dalam hati.

Sudah menjadi kebiasaan baginya, bahwa pekerjaannya itu sangat mudah dan untuk kesekian kalinya ia ingin anaknya nanti mewarisi ilmunya.

Hasil latihannya yang sudah level pro itu sudah sangat sulit ditinggalkan apalagi untuk dihilangkan. Sulit sekali. Sudah mendarah daging soalnya.

Sama seperti orang yang tanpa sadar menggigit kuku ketika gelisah. Atau menggaruk-garuk kepala saat seseorang mulai memikirkan sesuatu.

Bedanya, kebiasaannya selalu dimulai dari ketidak waspadaan orang lain.

Lalu, tepat pada pukul 4. Lewat 39 menit. Suara tangisan bayi pertama pecah dari balik pintu.

Seluruh kepala serentak menoleh.

Dadanya ikut bergetar.

Ia berdiri begitu cepat hingga kursinya bergeser beberapa senti.

Namun pintu kembali tertutup. Setelah nama salah satu penunggu disebut.

Ternyata, bukan bayinya yang pertama keluar.

Ia menghembuskan napas panjang.

Duduk lagi.

Kembali membuka buku kecil ditangannya itu.

Nama.

Ya, nama.

Nama harus terdengar baik.

Kalau bisa, harum.

Kalau perlu, nama itu harus membuat orang lain segera menundukkan kepala ketika mendengarnya.

Bukankah para penjahat besar di negeri ini pun banyak yang memiliki nama seindah doa?

Ada yang berarti jujur.

Ada yang berarti saleh.

Ada yang berarti cahaya.

Ada pula yang berarti pemimpin.

Nama, rupanya, tak pernah benar-benar sanggup menjaga nasib pemiliknya.

Ia tersenyum tipis.

“Apalah arti sebuah nama…”Gumamnya lagi.

Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibirnya.

Sementara, di bangku seberang, seorang ibu muda sedang menimang anaknya. Bayi itu menangis kecil. Botol susunya jatuh.

Dengan secepat kilat lelaki itu spontan menangkapnya.

Tangannya sungguh cekatan.

Begitu cekatan hingga tanpa sengaja ibu muda itu berbisik kepada suaminya.

“Wah. Gerakan tangannya cepat sekali, ya pak.”

Suaminya mengangguk.

“Iya… Lelaki ini seperti pesulap profesional saja ya Bu.”

Lelaki itu hanya tersenyum.

Ia mengembalikan botol susu itu tanpa mengucapkan sepatah kata.

Tak seorang pun tahu bahwa sejak remaja kedua tangannya memang dilatih untuk bergerak lebih cepat daripada tatapan manusia. Bakat alaminya itu ia dapatkan dari Ayahnya. Dan Ayahnya juga mewarisi bakat Kakeknya. Setidaknya itu yang ia ketahui selama ini.

Kali ini, pintu ruang persalinan kembali terbuka.

Seorang bidan keluar sambil melepaskan maskernya.

“Pak Ainun.”

Pak Ainun?

Ia pun berdiri.

Jantungnya terasa meloncat sampai ke tenggorokan.

“Selamat.”

Hanya satu kata.

Namun kata itu seakan membuka seluruh pagi yang dinanti nantikan sejak semalam.

“Anak Bapak laki-laki.”

Segala suara mendadak menjauh.

Yang tersisa hanya degup. Bunyinya seperti genderang kebebasan di dalam dadanya sendiri. Ini adalah percobaan keempatnya untuk mendapatkan bayi laki-laki.

Ia bergegas, melangkah masuk dengan mimpi yang teramat besar. Mimpi yang sejak lama ingin dibagikan kepada dunia.

Di atas ranjang, istrinya terbaring pucat dengan rambut yang melekat di pelipis. Keringat masih menggantung di dahinya seperti embun yang terlambat jatuh.

Dan di sampingnya, sesosok bayi laki-laki masih dengan tubuh merahnya dibungkus kain putih.

Kecil.

Hangat.

Matanya masih terpejam rapat.

Jari-jarinya menggenggam udara, seolah sedang menangkap sesuatu yang belum sempat dilihat dunia.

Pak Ainun mengulurkan telunjuk.

Jemari mungil itu tiba-tiba mencengkeramnya. Dengan sangat cepat.

Erat.

Sangat erat.

Pak Ainun tertawa pelan.

“Lihat…”

bisiknya kepada istrinya.

“Kecepatannya dan pegangannya sangat kuat Bu.”

Istrinya tersenyum lelah.

“Itu artinya dia sehat.”

Pak Ainun mengangguk.

Namun, entah mengapa, dalam benaknya muncul bayangan yang sama sekali berbeda dengan harapan istrinya. Bahkan mungkin bagi semua orang.

Baca Juga :  Sempurnakan Program DAK 2027 dengan Mendata Penulis Lokal: Adakah Peluang Pengadaan Buku Karya Penulis Lokal?

Bukan ruang sekolah.

Bukan lapangan bermain.

Bukan pula seragam wisuda.

Yang muncul pertama kali justru keramaian pasar.

Terminal.

Peron stasiun.

Klub malam.

Hingga Festival Muharram yang digelar sekali setahun di tengah kota.

Tempat-tempat di mana ribuan orang secara sadar berjalan tanpa pernah benar-benar memperhatikan tubuh dan kehadiran mereka sendiri. Bersenang-senang dengan wahana permainan, tontonan dan kulineran.

Ia menggeleng cepat.

Bayangan itu terlalu dini.

Masih terlalu dini.

Ia kembali menatap wajah bayinya.

“Wajahmu masih bersih,”gumamnya lirih.

“Semoga dunia tidak lebih licin daripada telapak tanganmu ya nak.”

Kalimat itu terdengar seperti doa.

Padahal, jauh di dasar hatinya, ia sedang menyimpan sebuah harapan yang tak pernah berani ia ucapkan kepada siapa pun. Bahkan jika nanti anaknya mulai tumbuh di bawah kendalinya.

***

Bayi itu belum genap berusia tiga hari ketika matahari pertama di bulan Juli menumpahkan cahaya ke halaman rumah pak Ainun.

Rumah batu sederhana itu berdiri di ujung kampung, menghadap hamparan sawah yang mulai menguning. Dari kejauhan, pucuk-pucuk kelapa bergoyang pelan diterpa angin. Seekor ayam jantan berulang kali melompat ke pagar, seolah hendak mengabarkan bahwa pagi telah benar-benar tiba.

Di dalam rumah, dunia berjalan dengan iramanya sendiri.

Tangis bayi.

Air yang mendidih.

Bau minyak telon.

Ritual ganti popok.

Dan kain-kain kecil yang dijemur secara rutin di halaman belakang.

Tiga orang putri yang sebentar akur sebentar bertengkar juga menambah ritualitas harian mereka.

Sementara, seorang lelaki yang sejak tadi berdiri memandangi anak laki-lakinya seperti sedang kembali membaca peta masa depan bagi ilmu yang kelak diwariskan padanya.

Bayi itu tidur pulas.

Kedua kepalan tangannya masih menggenggam udara.

Pak Ainun menyentuh lagi telapak tangan mungil itu dengan ujung jarinya.

Pelan.

Nyaris tak terasa.

Namun jari-jari kecil itu kembali menutup.

Mencengkeram.

Refleks.

Pak Ainun pun tertawa pelan.

“Pegangannya kuat. Cepat dan hampir membuatnya tak sadar dengan apa yang ia lihat sendiri.”

Wahidah yang sedang melipat kain bayi pun menghentikan pekerjaannya.

“Semua bayi juga begitu pak.”Katanya

“Bukan.”

“Apa bedanya?”

“Dia berbeda. Sungguh berbeda. Ini bibit unggul Bu.”Tegasnya.

Wahidah hanya memandang suaminya tanpa menjawab.

Sudah bertahun-tahun hidup serumah membuatnya mengenal setiap perubahan pada wajah lelaki itu.

Kalau alis kirinya sedikit terangkat, berarti ia sedang menyembunyikan sesuatu.

Kalau ibu jarinya terus mengusap kuku telunjuk, berarti ada keputusan besar yang sedang dipikirkan.

Dan pagi itu kedua tanda itu muncul bersamaan.

Pak Ainun sedang merancang sesuatu.

“Aku sudah menemukan namanya.”

Wahidah menoleh.

“Joko Tansil.”

Nama itu meluncur begitu saja.

Pendek.

Dua kata.

Ringan.

Mudah diingat.

Wahidah mengulanginya perlahan.

“Jokooo…”

Ia mengecup dahi bayinya.

“Semoga dia kelak menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri ya pak.”

Pak Ainun tersenyum.

Dalam benaknya, kata pemimpin menjelma menjadi makna yang lain.

Pemimpin.

Ketua.

Raja.

Seseorang yang berdiri paling depan. Tentu saja.

Tak peduli jalan yang ditempuhnya.

Tak peduli ke mana orang-orang akan mengikutinya.

Yang penting paling depan.

“Bagus, kan?”

Wahidah mengangguk.

“Bagus.”

Tak satupun dari mereka menyadari bahwa mereka sedang mengucapkan nama yang sama dengan doa yang berbeda. Doa yang selalu diharapkan berpisah di persimpangan.

Menjelang siang beberapa tetangga datang menjenguk.

Mereka membawa pisang, gula merah, telur ayam kampung, dan doa-doa yang dibungkus se-amplop senyum.

Seorang perempuan tua menggendong Joko sebentar.

“Lihat matanya…”

Ia tersenyum.

“Anak ini kelak jadi orang sabar dan ikhlas.”

Yang lain menimpali.

“Hidungnya mirip ibunya ya.”

“Kalau dagunya ikut bapaknya, biasanya anak pemberani.”

Orang-orang tertawa kecil.

Hanya pak Ainun yang diam.

Ia memperhatikan tangan setiap tamu yang bergantian menggendong Joko.

Ada tangan yang kasar oleh cangkul.

Ada tangan yang penuh bekas luka.

Ada tangan yang gemetar dimakan usia.

Entah mengapa, ia selalu percaya bahwa kehidupan seseorang lebih dulu ditulis di telapak tangannya daripada di wajahnya.

Malam harinya, ketika rumah mulai sepi, Wahidah menemukan sebuah bungkusan kecil di bawah ranjang.

Dibukanya perlahan.

Di dalamnya ada beberapa dompet tua.

Arloji.

Gelang kulit.

Kacamata.

Telepon genggam model lama.

Tak satu pun benda itu tampak baru.

Semuanya seperti pernah menjadi milik orang lain.

Dan Wahidah menghela napas panjang.

Ia tahu.

Sangat tahu.

Tak pernah sekali pun ia bertanya dari mana benda-benda itu berasal.

Sebagaimana pak Ainun juga tak pernah sekali pun bercerita.

Di rumah itu, ada banyak pertanyaan yang muncul dan hidup tanpa perlu jawaban.

Pak Ainun muncul di ambang pintu.

“Kau mencarinya?”

“Benda-benda ini belum kau buang?”

“Buat kenang-kenangan saja Bu.”

“Kenang-kenangan?”

Pak Ainun mengambil sebuah dompet kulit yang warnanya mulai pudar.

Ia mengusap permukaannya perlahan.

“Setiap dompet punya cerita Bu.”

“Dan setiap cerita punya pemilik.”

Suara Wahidah terdengar datar.

Pak Ainun tersenyum tipis.

“Pemiliknya mungkin sudah lupa.”

“Tapi benda-benda ini tidak.”

Kalimat itu menggantung lama.

Angin malam masuk dari celah-celah dinding.

Lampu gantung bergoyang pelan.

Bayangan mereka berdua memanjang di lantai papan.

Wahidah menatap suaminya.

“Aku ingin Joko tumbuh tanpa mengenal benda-benda ini pak. Lebih baik ajari dia masuk gorong gorong, demi terlihat ikhlas sebagai pekerja keras.”

Pak Ainun tidak menjawab.

Ia hanya menyusun kembali dompet-dompet itu ke dalam kotak kayu.

Satu demi satu.

Rapi.

Seolah sedang menguburkan sesuatu.

“Kalau kau terus menyimpannya…”

Wahidah berhenti.

“…anak kita akan mengira itu warisan pak.”

Tangan pak Ainun terdiam.

Untuk pertama kalinya sejak mereka menikah, kalimat istrinya terasa lebih berat daripada kotak kayu yang sedang ia pegang.

Malam semakin larut.

Joko menangis.

Wahidah pun segera menggendongnya.

Mendekapnya.

Menyenandungkan lagu yang dulu dinyanyikan ibunya ketika ia kecil. Tanah Air Beta judulnya. “Kulihat ibu Pertiwi. Sedang bersusah hati. Air matanya berlinang….”

“Cukup. Bu. Jangan diteruskan.” Katanya.

Pak Ainun berdiri di depan jendela.

Di luar, jalan kampung tampak lengang.

Hanya suara jangkrik dan desir angin di pematang sawah yang terdengar lebih nyaring daripada lirik lagu yang dinyanyikan oleh istrinya.

Entah mengapa, malam itu ia merasa ada sesuatu yang sedang mengawasinya.

Baca Juga :  Sempurnakan Program DAK 2027 dengan Mendata Penulis Lokal: Adakah Peluang Pengadaan Buku Karya Penulis Lokal?

Bukan polisi.

Bukan warga.

Melainkan sepasang mata kecil yang bahkan belum mampu melihat bagaimana dunia ini bekerja dengan jelas.

Sepasang mata yang suatu hari nanti akan belajar membedakan mana tangan yang memberi…

…dan mana tangan yang mengambil.

***

Tahun-tahun berlalu tanpa banyak suara.

Musim datang dan pergi seperti jemuran yang silih berganti memenuhi halaman rumah. Padi menguning, dipanen, lalu sawah kembali menjadi lumpur. Pohon mangga di belakang rumah mereka tumbuh semakin rindang. Garis-garis halus mulai mengendap di sudut mata pak Ainun.

Hanya satu hal yang tak pernah berubah.

Ia masih memandangi tangan anaknya.

Mula-mula tangan itu belajar menggenggam sendok.

Belajar mengikat tali sepatu.

Belajar menulis huruf-huruf yang masih miring ke sana-sini.

Belajar mengangkat layang-layang yang putus.

Belajar mengusap air mata ibunya.

Dan setiap kali melihat jemari kecil itu bergerak, pak Ainuni selalu bertanya dalam diam:

“Tangan macam apa yang sedang tumbuh di hadapanku ini?”

Joko Tansil tumbuh menjadi anak yang pendiam.

Ia lebih suka duduk di beranda memandangi hujan daripada bermain kejar-kejaran bersama teman-teman sebayanya.

Jika menemukan uang di jalan, ia akan bertanya kepada setiap orang yang lewat.

“Pak, ini punya Bapak?”

Kalau tak ada yang mengaku, uang itu dibawanya ke Mushala atau ke Masjid terdekat.

Diselipkannya di kotak amal.

Pak Ainun pernah memperhatikan semua itu dari kejauhan.

Dadanya terasa aneh.

Seperti ada simpul yang perlahan mengikatnya.

“Kenapa kau masukkan ke sana nak?”

Joko mengangkat bahu.

“Karena bukan milikku.”

Jawaban itu sederhana.

Terlalu sederhana.

Tetapi entah mengapa, pak Ainun merasa kalimat itu lebih berat daripada batu Basong yang pernah ia lihat di alah satu desa Kabupaten. Entah mengapa ia juga tidak senang mendengar kalimat tersebut. Apalagi ia merasa pipinya sedang ditampar oleh kenyataan yang selama ini tidak ingin singgah dalam hidupnya.

***

Suatu sore, ketika Joko Tansil berumur sebelas tahun, hujan turun begitu deras.

Listrik padam.

Rumah tenggelam dalam cahaya lampu minyak.

Wahidah sedang memasak di dapur.

Sementara, pak Ainun sedang duduk membersihkan kotak kayu yang selama bertahun-tahun tak pernah lagi disentuhnya.

Kotak itu mulai lapuk.

Kayunya menghitam dimakan usia.

Ketika tutupnya dibuka, bau kulit tua dan besi berkarat menyeruak keluar.

Dompet.

Jam tangan.

Kacamata.

Benda-benda yang dulu disimpannya sebagai kenangan.

Satu demi satu ia keluarkan.

Ia melihat dirinya. Tak ada lagi kebanggaan di matanya.

Hanya debu.

Joko Tansil muncul di ambang pintu.

“Ayah…”

Pak Ainun tersentak.

“Ini apa?”

Anak itu memegang sebuah dompet kulit cokelat.

Pak Ainun hendak merebutnya.

Namun tangannya kalah cepat.

Di balik plastik identitas yang mulai menguning masih terselip sebuah foto.

Seorang perempuan muda.

Menggendong bayi.

Foto itu telah kusam.

Tetapi senyum perempuan itu masih utuh.

“Kasihan…”

gumam Joko Tansil tersenyum.

Pak Ainun terdiam.

“Ayah kenal mereka?”

Tidak.

Ia bahkan tak pernah benar-benar melihat isi dompet itu ketika mengambilnya bertahun-tahun silam.

Yang diingatnya hanya keramaian terminal.

Desakan manusia.

Dan sepasang tangan yang bergerak lebih cepat daripada mata.

“Itu…”

Suaranya tercekat.

“…barang lama.”

“Kalau masih ada alamatnya…”

kata Joko Tansil lirih,

“…boleh kita kembalikan?”

Rumah mendadak sunyi.

Di dapur, suara sendok yang mengenai panci terdengar sangat jauh.

Pak Ainun memandang foto itu.

Tiba-tiba wajah-wajah yang selama ini hanya lewat seperti bayangan mulai kembali satu per satu.

Lelaki tua yang panik mencari dompetnya.

Ibu muda yang menangis di halte.

Mahasiswa yang duduk lama di trotoar sambil memegangi kepalanya.

Anak kecil yang terus bertanya kepada ibunya,

“Uangnya hilang ke mana?”

Selama ini ia hanya mengingat benda-bendanya.

Tak pernah memperdulikan bagaimana ekspresi wajah orang-orangnya.

 

Lalu sampailah pada suatu malam. Pak Ainun tidak bisa tidur. Ia membuka kembali seluruh isi kotak kayu. Setiap dompet. Setiap kartu identitas. Setiap foto. Setiap secarik kertas. Ada kartu pelajar. Ada surat nikah. Ada foto anak. Ada resep dokter. Ada doa yang ditulis tangan. Bahkan ada selembar gambar matahari yang dibuat dengan krayon.

Mungkin milik seorang anak yang hendak diberikan kepada ayahnya.

Tiba-tiba ia sadar. Yang selama ini ia ambil bukan hanya uang. Melainkan perjalanan hidup orang lain.

***

Esok paginya, Joko Tansil melihat ayahnya memanggul kotak kayu itu.

“Mau ke mana, Yah?”

Pak Ainun tersenyum.

“Menjadi laki-laki baru nak.”

Joko Tansil tidak mengerti.

Ia hanya melihat ayahnya berjalan menyusuri jalan kampung.

Pelan.

Seperti seseorang yang sedang menghitung ulang langkah-langkah hidupnya yang ia korbankan untuk masa depan anaknya.

***

Bertahun-tahun kemudian. Pak Ainun meninggal pada suatu subuh yang tenang. Tak banyak orang datang. Tak banyak pula yang menangis.

Hanya Joko Tansil yang duduk lama di samping pusaranya. Ketika semua orang telah pulang, Wahidah menyerahkan sebuah buku kecil yang dulu selalu dibawa pak Ainun. Di halaman terakhir masih ada tulisan yang nyaris pudar.

Joko.

Di bawah nama itu ada satu kalimat.

Tulisan tangan pak Ainun tampak bergetar.

“Maafkan ayah karena pernah ingin mewariskan ilmu kecepatan tangan ini padamu. Meskipun ayah akhirnya sadar bahwa garis tanganmu memang tak bisa mengikuti garis tangan yang ayah warisi selama ini.”

Joko Tansil membaca kalimat itu berulang kali.

Lalu ia menutup buku tersebut.

Tangannya perlahan menyentuh gundukan tanah yang masih basah. Dan untuk pertama kalinya ia memahami mengapa semasa kecil ayahnya selalu memperhatikan telapak tangannya.

Bukan untuk melihat apa yang kelak dapat diambilnya. Melainkan untuk berharap—semoga tangan itu tidak pernah menjadi milik ayahnya.

Angin bergerak pelan di antara batang-batang padi. Seekor burung pipit hinggap sebentar di nisan. Lalu terbang. Membawa pagi ke arah yang tak seorang pun tahu.

Sementara di bawah langit yang mulai terang, sepasang tangan muda berjalan meninggalkan makam.

Joko kembali tersenyum. Ia melihat kedua tangannya. Memangku kotak kayu berisi dompet dengan ratusan alamat yang akan segera ia sambangi untuk memperjelas garis tangannya. Joko juga melempar janjinya bahwa, kecepatan tangannya juga harus sepuluh kali lebih cepat dari ayahnya.

Penulis : Yuspianal Imtihan

Berita Terkait

Sempurnakan Program DAK 2027 dengan Mendata Penulis Lokal: Adakah Peluang Pengadaan Buku Karya Penulis Lokal?
CERPEN Yuspianal Imtihan: Ada Kosnpirasi Di Cerita Ini 
Viralisasi Berkelindan dengan Motif Ekonomi, Program Literasi Selalu Dilayakkan Proyek Belaka
Penderitaan Modern di Era AI: Manusia dan Realitas Palsu, Sastra sebagai Penawarnya

Berita Terkait

Sabtu, 25 Juli 2026 - 13:28 WITA

Londo Ireng dan Malu Menjadi Indonesia  (terbuka untuk Prabowo Subianto)

Kamis, 23 Juli 2026 - 10:32 WITA

Lombok Barat Dikutuk Guru Dane

Minggu, 19 Juli 2026 - 18:13 WITA

Iqbal-Dinda: Mengentaskan Kemiskinan Ekstrem di NTB      

Minggu, 19 Juli 2026 - 10:53 WITA

Dinas Kebudayaan NTB Tak Mampu Mengurus Kebudayaan

Rabu, 8 Juli 2026 - 14:44 WITA

Bangkitnya Kelas Menengah: Kurva Gajah   

Kamis, 25 Juni 2026 - 12:11 WITA

Mendedah Era Reformasi: Sebuah Refleksi   

Jumat, 12 Juni 2026 - 10:12 WITA

Krismon 1997-1998 Bakal Terulang Kembali? 

Selasa, 9 Juni 2026 - 11:48 WITA

ESAI Khaerul Majdi: Oase Sejarah’ dan Tahun-Tahun yang Sial: Melihat HIMMAH NWDI dari Timur

Berita Terbaru

Ilustrasi Cerpen Yuspianal Imtihan

Sastra

CERPEN Yuspianal Imtihan: Warisan Ilmu Kecepatan Tangan

Kamis, 6 Agu 2026 - 05:34 WITA

Ketua DPC Partai Gerindra Kabupaten Lombok Timur, H. Haerul Warisin. (Foto: Lombokini.com/Paozan Azima).

Politik

Haerul Warisin Tegaskan Jangan Seret Gerindra ke Kasus LAZ

Senin, 3 Agu 2026 - 22:42 WITA