Wilayah Wisata Sembalun Diakui UNESCO, tapi Sembalun Bumbung Kurang Diperhatikan Pemerintah

Selasa, 1 September 2026 - 13:24 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Rolansyah saat diwawancarai di kediamannya (doc. lombokini.com)

Rolansyah saat diwawancarai di kediamannya (doc. lombokini.com)

 

LOMBOKINI.com — Meskipun status Gunung Rinjani telah diakui oleh UNESCO sebagai warisan geologis dunia, tapi mirisnya ada satu wilayah di kaki gunung itu kurang diperhatikan; serta dukungan konkret dari pemerintah daerah maupun pusat dinilai masih sangat minim di sana. Wilayah yang dimaksud adalah Sembalun Bumbung. Keresahan ini disuarakan oleh Rolansyah, pengurus Sanggar Aldak Emas sekaligus pegiat pelestarian budaya di Sembalun Bumbung.

Rolansyah mengungkapkan keprihatinannya atas kurangnya keberpihakan pemerintah terhadap potensi kebudayaan yang ada di desanya. Menurutnya, pemerintah setidaknya dapat memfasilitasi atau menetapkan kalender tahunan (annual event calendar) untuk program-program kebudayaan di Sembalun Bumbung agar pembinaan dan agenda budaya memiliki arah yang jelas dan berkesinambungan.

Dalam aktivitas pelestarian budaya sehari-hari, Sanggar Aldak Emas dan para pegiat lokal harus berjuang mandiri dari titik nol. Untuk melakukan edukasi serta regenerasi pengetahuan seni-budaya Sasak kepada anak-anak muda dan remaja, sanggar ini kerap harus meminjam peralatan musik dan tari dari sanggar-sanggar senior lainnya.

“Kami ini perintis, dan perintis itu jarang diperhatikan. Kebanyakan yang dilirik hanya yang sudah sukses atau besar. Padahal kami terus bergerak mengedukasi generasi muda dari berbagai dusun agar tidak tergerus arus digital dan tetap bangga pada identitas budayanya,” ujar Rolansyah.

Baca Juga :  Festival Gawe Beleq Sakra Barat Resmi Ditutup Kapolres Lombok Timur

Tantangan tak hanya datang dari regenerasi seni pertunjukan, tetapi juga pada sektor kriya tradisional seperti tenun. Mayoritas penenun di Sembalun Bumbung kini didominasi oleh warga lansia dengan akses pemasaran yang terbatas. Tanpa adanya wadah terpadu dan acara berkala, hasil karya para penenun tua ini sering kali tidak terserap pasar secara optimal.

Baginya, selain memperkuat akar budaya, Rolansyah menekankan jika geliat festival budaya di Sembalun Bumbung diseriuskan akan ada dampak langsung terhadap peningkatan ekonomi masyarakat lokal. Ia membayangkan, jika tetap event digelar, sektor pariwisata—mulai dari penginapan (homestay), UMKM, hingga pedagang kecil—turut merasakan dampak positifnya.

Salah satu ruang publik yang disoroti adalah fasilitas rest area di Desa Sembalun Bumbung yang sudah lama tidak difungsikan. Rolansyah mendorong agar tempat tersebut dihidupkan kembali sebagai pusat kebudayaan dan ekonomi kreatif.

Baca Juga :  Festival Gawe Beleq Sakra Barat Resmi Ditutup Kapolres Lombok Timur

“Jika ada festival atau kalender kegiatan budaya yang rutin, pedagang-pedagang kecil akan langsung merasakan dampaknya. Rest area yang mangkrak itu bisa kita sulap jadi pusat keekonomian kreatif sekaligus wadah pentas bersama bagi sanggar-sanggar di Sembalun Bumbung, mulai dari pertunjukan tari, wayang, hingga pameran tenun,” jelasnya.

Selama ini, wisatawan yang berkunjung ke Sembalun sering kali bingung mencari atraksi budaya pada malam hari. Potensi besar ini kerap terlewat karena tidak adanya ruang pertunjukan terpadu yang menyajikan kesenian lokal secara konsisten.

Para pegiat budaya di Sembalun Bumbung berharap pemerintah daerah (Pemda) maupun pemerintah provinsi (Pemprov) dapat hadir memberi dukungan nyata—baik berupa bantuan sarana penunjang, penyediaan ruang ekspresi, hingga promosi agenda budaya tahunan.

Dengan dibukanya ruang ekspresi dan hadirnya kalender event tetap, Sembalun Bumbung tidak hanya dikenal karena keindahan alamnya, tetapi juga menjadi destinasi wisata budaya yang hidup, memberdayakan masyarakat, dan menjaga warisan leluhur secara berkelanjutan.

Penulis : Paozan Azima

Berita Terkait

Festival Gawe Beleq Sakra Barat Resmi Ditutup Kapolres Lombok Timur
Awik-Awik Baru untuk Pendaki Rinjani: Wajib Ikut Ritual Adat Sembeq Buraq? Ini Penjelasan TNGR
JAMNAS V BPAN Mengumpulkan Pemuda Adat Se-Nusantara di Desa Perigi: Desak DPR RI Segera Sahkan RUU Masyarakat Adat
Ratusan Pemuda Adat Nusantara dari Berbagai Wilayah Melebur dalam Sakralnya Tradisi Tetulaq Desa di Desa Perigi
Lombok Timur Jadi Tuan Rumah Jambore Nasional V BPAN, Ratusan Peserta Siap Berkumpul di Wilayah Adat Perigi dan Limbungan
Dukung Revitalisasi Keraton, TSB dan Kemenbud Sinergi Lindungi Cagar Budaya Nasional
KKN IAI Hamzanwadi Kunjungi Museum Genggelang, Telusuri Narasi Sejarah yang Terlupakan
Perang Topat Bukan Toleransi

Berita Terkait

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 23:30 WITA

Festival Gawe Beleq Sakra Barat Resmi Ditutup Kapolres Lombok Timur

Kamis, 30 Juli 2026 - 19:21 WITA

Awik-Awik Baru untuk Pendaki Rinjani: Wajib Ikut Ritual Adat Sembeq Buraq? Ini Penjelasan TNGR

Selasa, 30 Juni 2026 - 18:58 WITA

JAMNAS V BPAN Mengumpulkan Pemuda Adat Se-Nusantara di Desa Perigi: Desak DPR RI Segera Sahkan RUU Masyarakat Adat

Senin, 29 Juni 2026 - 06:56 WITA

Ratusan Pemuda Adat Nusantara dari Berbagai Wilayah Melebur dalam Sakralnya Tradisi Tetulaq Desa di Desa Perigi

Sabtu, 27 Juni 2026 - 19:17 WITA

Lombok Timur Jadi Tuan Rumah Jambore Nasional V BPAN, Ratusan Peserta Siap Berkumpul di Wilayah Adat Perigi dan Limbungan

Senin, 22 Juni 2026 - 20:56 WITA

Dukung Revitalisasi Keraton, TSB dan Kemenbud Sinergi Lindungi Cagar Budaya Nasional

Minggu, 8 Februari 2026 - 19:17 WITA

KKN IAI Hamzanwadi Kunjungi Museum Genggelang, Telusuri Narasi Sejarah yang Terlupakan

Jumat, 5 Desember 2025 - 18:25 WITA

Perang Topat Bukan Toleransi

Berita Terbaru

Peneliti Lombok Research Center (LRC),
Dr. Maharani. (Foto: Istimewa)

Lingkungan

Tambang Menggali, Pangan Mulai Berkurang

Selasa, 1 Sep 2026 - 22:01 WITA

Gedung kantor Bupati Lombok Timur. (Foto: Lombokini.com)

Opini

Sejarah Lahirnya Lombok Timur: ‘Onder Afdeling’

Selasa, 1 Sep 2026 - 13:28 WITA