LOMBOKINI.com — Meskipun status Gunung Rinjani telah diakui oleh UNESCO sebagai warisan geologis dunia, tapi mirisnya ada satu wilayah di kaki gunung itu kurang diperhatikan; serta dukungan konkret dari pemerintah daerah maupun pusat dinilai masih sangat minim di sana. Wilayah yang dimaksud adalah Sembalun Bumbung. Keresahan ini disuarakan oleh Rolansyah, pengurus Sanggar Aldak Emas sekaligus pegiat pelestarian budaya di Sembalun Bumbung.
Rolansyah mengungkapkan keprihatinannya atas kurangnya keberpihakan pemerintah terhadap potensi kebudayaan yang ada di desanya. Menurutnya, pemerintah setidaknya dapat memfasilitasi atau menetapkan kalender tahunan (annual event calendar) untuk program-program kebudayaan di Sembalun Bumbung agar pembinaan dan agenda budaya memiliki arah yang jelas dan berkesinambungan.
Dalam aktivitas pelestarian budaya sehari-hari, Sanggar Aldak Emas dan para pegiat lokal harus berjuang mandiri dari titik nol. Untuk melakukan edukasi serta regenerasi pengetahuan seni-budaya Sasak kepada anak-anak muda dan remaja, sanggar ini kerap harus meminjam peralatan musik dan tari dari sanggar-sanggar senior lainnya.
“Kami ini perintis, dan perintis itu jarang diperhatikan. Kebanyakan yang dilirik hanya yang sudah sukses atau besar. Padahal kami terus bergerak mengedukasi generasi muda dari berbagai dusun agar tidak tergerus arus digital dan tetap bangga pada identitas budayanya,” ujar Rolansyah.
Tantangan tak hanya datang dari regenerasi seni pertunjukan, tetapi juga pada sektor kriya tradisional seperti tenun. Mayoritas penenun di Sembalun Bumbung kini didominasi oleh warga lansia dengan akses pemasaran yang terbatas. Tanpa adanya wadah terpadu dan acara berkala, hasil karya para penenun tua ini sering kali tidak terserap pasar secara optimal.
Baginya, selain memperkuat akar budaya, Rolansyah menekankan jika geliat festival budaya di Sembalun Bumbung diseriuskan akan ada dampak langsung terhadap peningkatan ekonomi masyarakat lokal. Ia membayangkan, jika tetap event digelar, sektor pariwisata—mulai dari penginapan (homestay), UMKM, hingga pedagang kecil—turut merasakan dampak positifnya.
Salah satu ruang publik yang disoroti adalah fasilitas rest area di Desa Sembalun Bumbung yang sudah lama tidak difungsikan. Rolansyah mendorong agar tempat tersebut dihidupkan kembali sebagai pusat kebudayaan dan ekonomi kreatif.
“Jika ada festival atau kalender kegiatan budaya yang rutin, pedagang-pedagang kecil akan langsung merasakan dampaknya. Rest area yang mangkrak itu bisa kita sulap jadi pusat keekonomian kreatif sekaligus wadah pentas bersama bagi sanggar-sanggar di Sembalun Bumbung, mulai dari pertunjukan tari, wayang, hingga pameran tenun,” jelasnya.
Selama ini, wisatawan yang berkunjung ke Sembalun sering kali bingung mencari atraksi budaya pada malam hari. Potensi besar ini kerap terlewat karena tidak adanya ruang pertunjukan terpadu yang menyajikan kesenian lokal secara konsisten.
Para pegiat budaya di Sembalun Bumbung berharap pemerintah daerah (Pemda) maupun pemerintah provinsi (Pemprov) dapat hadir memberi dukungan nyata—baik berupa bantuan sarana penunjang, penyediaan ruang ekspresi, hingga promosi agenda budaya tahunan.
Dengan dibukanya ruang ekspresi dan hadirnya kalender event tetap, Sembalun Bumbung tidak hanya dikenal karena keindahan alamnya, tetapi juga menjadi destinasi wisata budaya yang hidup, memberdayakan masyarakat, dan menjaga warisan leluhur secara berkelanjutan.
Penulis : Paozan Azima







