Laskar Sasak Kecam Dugaan Intimidasi Oknum DPD RI saat Mediasi Warga Lombok di Bali

Jumat, 14 Agustus 2026 - 22:26 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Laskar Sasak Kecam Dugaan Intimidasi oleh Onum Anggota DPD RI asal Bali, I Gusti Arya Wedakarna. (Foto: Lombokini.com/Istimewa).

Laskar Sasak Kecam Dugaan Intimidasi oleh Onum Anggota DPD RI asal Bali, I Gusti Arya Wedakarna. (Foto: Lombokini.com/Istimewa).

LOMBOKINI.com – Kasus perselisihan antara Hilda, perempuan perantau asal Lombok, dengan pemilik usaha jahit Sintya Tailor di Abiansemal, Badung, Bali, memicu gelombang kritik publik. Mediasi yang difasilitasi Anggota DPD RI asal Bali, I Gusti Arya Wedakarna (AWK), justru menuai kecaman karena dinilai mengandung unsur intimidasi terhadap korban.

Organisasi kemasyarakatan Laskar Sasak secara resmi mengeluarkan pernyataan sikap tegas mengecam insiden mediasi yang berujung pada dugaan intimidasi terhadap warga Lombok tersebut. Laskar Sasak menilai tindakan oknum anggota DPD RI itu telah mencederai rasa keadilan publik dan memperlakukan korban rasisme secara tidak adil.

Ketua Umum beserta jajaran DPP Laskar Sasak, LKBH, dan Pengurus DPD Laskar Sasak menyatakan dengan tegas bahwa proses mediasi yang seharusnya menjadi ruang netral untuk mencari solusi damai, justru berubah menjadi panggung arogansi. Mereka menyayangkan sikap oknum pejabat negara yang lebih condong menekan, menyudutkan, serta memojokkan korban ketimbang menegakkan keadilan objektif.

“Proses mediasi seharusnya menjadi ruang untuk mencari solusi yang adil bagi semua pihak, bukan panggung bagi pejabat untuk mempertontonkan arogansi dan keberpihakan yang tidak pantas,” ungkap Ketua Umum Laskar Sasak, Lalu Ali Sadikin, yang akrab disapa Miq Denta, Jumat (14/8/2026).

Miq Denta menegaskan pentingnya pendampingan terhadap korban untuk memastikan hak-haknya terlindungi dan proses penyelesaian berlangsung secara adil, transparan, serta bebas dari tekanan pihak mana pun. “Korban tidak sendirian. Laskar Sasak hadir untuk memastikan suara warga Lombok didengar dan martabat korban selaku warga Lombok dihormati,” tegasnya.

Dukungan kepada Hilda juga bermunculan dari berbagai kalangan, termasuk lintas suku. Warga Bali sendiri menyayangkan cara penanganan persoalan itu dan mempertanyakan keterlibatan senator yang dinilai tidak mencerminkan rasa keadilan.

Dalam pernyataan sikapnya, Laskar Sasak menyoroti beberapa poin penting. Pertama, mereka mengecam keras arogansi pejabat yang menekan korban saat mediasi, termasuk penggunaan dalih tanggung jawab ekonomi yang bertujuan melemahkan posisi korban. Laskar Sasak menilai tindakan itu sebagai bentuk penyalahgunaan pengaruh yang mencederai etika publik.

Kedua, Laskar Sasak menegaskan komitmen penuh untuk membersamai perjuangan warga Lombok yang menjadi korban perlakuan diskriminatif, baik dalam kasus rasisme awal maupun tekanan psikologis saat mediasi. Ketiga, mereka mendesak agar anggota DPD RI selaku wakil rakyat di tingkat pusat berdiri sebagai pengayom seluruh warga negara, bukan justru memperkeruh suasana dengan membandingkan status sosial atau menyudutkan pencari keadilan.

Keempat, Laskar Sasak menolak segala bentuk rasisme yang merendahkan martabat orang Sasak dan masyarakat Lombok di mana pun berada. Mereka menegaskan bahwa hak mencari nafkah dan menuntut keadilan adalah hak asasi yang mutlak setiap warga negara.

Melalui pernyataan ini, Laskar Sasak menyampaikan pesan moral agar warga Lombok tetap tegar, solid, dan berani membela hak-haknya di muka hukum. Organisasi itu memastikan akan terus mematangkan langkah pemantauan serta memberikan dukungan penuh hingga keadilan substantif benar-benar terwujud.

“Keadilan harus tegak, harga diri harus dijaga!” tutup pernyataan tersebut.

Miq Denta juga mengajak seluruh pihak menjaga persaudaraan antarmasyarakat Lombok, Bali, Jawa, maupun kelompok lainnya. Ia mengkritik tindakan yang dianggap keliru, tetapi mengingatkan agar tidak menggeneralisasi sebuah suku.

“Semoga persoalan ini dapat diselesaikan secara bermartabat dan adil tanpa mengorbankan hubungan baik antara masyarakat Lombok, Bali, Jawa, maupun kelompok masyarakat lainnya. Mari jaga persaudaraan,” pungkasnya. ***

Penulis : Muhammad Asman

Editor : Najamudin Anaji

Berita Terkait

Pemerintah NTB Kaji Kelayakan Proyek Super Grid EBT untuk Hubungkan Kepulauan Sunda Kecil
Kerja Sama Bali-NTB dan NTT Masuki Fase Implementasi Nyata

Berita Terkait

Rabu, 12 Agustus 2026 - 13:36 WITA

Tim SAR Evakuasi 106 Penumpang KMP Putri Yasmin

Selasa, 11 Agustus 2026 - 16:06 WITA

Kisah Pilu Ziadatun Nisa: Bertahan Hidup Jadi Buruh Cuci Demi Sekolah, Beratap Kelas yang Nyaris Roboh

Jumat, 7 Agustus 2026 - 19:43 WITA

Warga Tutup Paksa dan Rusak Fasilitas Kafe di Pantai Lungkak

Selasa, 14 Juli 2026 - 15:51 WITA

TGB Zainul Majdi Luruskan Nama Pondok dan Organisasi di RDP Kasus Penganiayaan Santri

Kamis, 9 Juli 2026 - 16:06 WITA

Kapolda NTB dan Bupati Lotim Serahkan Santunan kepada Anak Yatim dan Lansia di Kantor Baznas

Rabu, 8 Juli 2026 - 05:36 WITA

Viral! Video Asusila 4 Remaja di Bawah Umur Meresahkan Warga Tanjung Luar, Pihak Polisi Sedang Menyelidikinya

Rabu, 8 Juli 2026 - 05:07 WITA

Tahanan Asal Keruak Melangsungkan Pernikahan di Balik Jeruji Rutan Polres Lombok Timur

Senin, 6 Juli 2026 - 10:58 WITA

Diketahui Punya Riwayat Diabetes, Seorang Pendaki Asal Pringgasela Meninggal Dunia di Bukit Savana Dandaun

Berita Terbaru

Tim SAR Evakuasi Seluruh Penumpang dari KMP Putri Yasmin Terbakar di Selat Lombok, Rabu 12 Agustus 2026. (Foto: Lombokini.com/Tim SAR Gabungan).

Berita

Tim SAR Evakuasi 106 Penumpang KMP Putri Yasmin

Rabu, 12 Agu 2026 - 13:36 WITA