Kopi Self Service dan Pajak Kafe yang Full Service

Senin, 8 September 2025 - 17:36 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kafe Waralaba Ubah Konsumen Menjadi Pekerja Tanpa Upah. (Foto: Lombokini.com/Dok. Pribadi).

Kafe Waralaba Ubah Konsumen Menjadi Pekerja Tanpa Upah. (Foto: Lombokini.com/Dok. Pribadi).

Oleh: Hari Bahagia

Suatu siang, di bulan Juni 2025 lalu, seorang kawan mengajak saya bertemu di sebuah kafe waralaba di Lombok Timur. Setelah tiga puluh menit berbincang ngalor-ngidul, ia menyarankan saya memesan kopi.

Saya turun ke meja barista, menyebut pesanan dengan penuh percaya diri: dua gelas kopi. Sang barista mengangguk singkat.

Saya pun merasa urusan sudah beres-layaknya konsumen yang diumpamakan sebagai raja kecil yang yakin akan segera dilayani.

Naik kembali ke lantai dua, saya disambut tatapan bingung kawan saya itu. “Yaok, embe kupi no?” tanyanya dengan bahasa Sasak yang kental dialek Meno-mene.

“Sudah saya pesan, sedang dibuatkan,” jawab saya santai da n sekenanya.

Ia langsung geleng-geleng kepala.
“Astaga, kenapa ente tinggalin? Sana ambil!” katanya.

Saya mencoba bertahan dengan logika klasik pelanggan yang manja. “Yaok, ndak apa nanti dia yang bawain kita?”

Kawan saya menepuk jidat.
“Enak sekali ente ini. Ini kafe waralaba, bukan warung Nasi Puyung, heb! Kita yang ambil sendiri. Sana cepat!”

Mau tak mau saya kembali turun. Kali ini barista menyodorkan bukan hanya dua gelas kopi, tetapi juga nota pembayaran lengkap dengan uang kembalian.

Naik lagi ke lantai dua, saya menyerahkan semuanya ke kawan saya. Ia memicingkan mata pada angka-angka di kertas tipis itu.

“Lumayan pajaknya. Padahal kita yang pesan, kita yang bayar, kita yang ambil. Layanan mandiri, pajak tetap jalan,” gerutunya.

Saya ikut terkekeh getir. Dua gelas kopi di atas meja mendadak terasa pahit bahkan sebelum sempat disesap.

Baca Juga :  Ate Bakat: Konseptualisasi Estetika Sasak

Konsumen yang Merangkap Pekerja

Barangkali inilah wajah kapitalisme modern yang paling banal: konsumen sekaligus berubah jadi pekerja. Kita membeli, kita membayar, kita mengangkut sendiri, tapi sistem tetap menagih pajak seolah-olah ada layanan lebih.

Ironinya, pajak itu dibungkus dalam narasi “kepatuhan” dan “kontribusi pembangunan.” Padahal, di meja kafe itulah tampak jelas betapa rakyat membayar dua kali.

Pertama, sebagai konsumen yang harus melayani diri sendiri. Kedua, sebagai warga negara yang harus menanggung pajak, tanpa jaminan uang itu kembali dalam bentuk pelayanan publik yang setara.

Kawan saya menyebutnya ringkas. “Inilah cara kapitalisme bekerja. Kita keluar tenaga, kita bayar harga, sementara sistem mengalirkan pajak entah ke mana”.

Pernyataan itu terdengar seperti kuliah mini ekonomi politik, disampaikan bukan di ruang seminar, tapi di lantai dua sebuah kafe dengan dua cangkir kopi sebagai peraga.

Fenomena “ambil sendiri” ini bukan monopoli kafe waralaba. Bandara, rumah sakit, hingga kantor pemerintahan pun kini berlomba-lomba mengadopsi semangat yang sama: layanan mandiri.

Dengan alasan efisiensi, publik didorong melayani dirinya sendiri. Mesin cetak tiket, loket elektronik, aplikasi antrean-semua hadir untuk memangkas biaya tenaga kerja.

Namun yang jarang dibicarakan adalah efisiensi bagi siapa? Perusahaan jelas diuntungkan karena biaya operasional lebih kecil. Negara tetap diuntungkan karena pajak tak berkurang.

Sementara rakyat, selain kehilangan pengalaman “dilayani” juga kehilangan pekerjaan potensial yang digantikan oleh mesin.

Baca Juga :  Beroperasinya Smelter PT. AMMAN: Renegoisasi Royalti 

Absurdnya Pajak dan Layanan Mandiri

Kembali ke kopi yang mendingin di meja. Saya membayangkan jika model layanan ini diterapkan lebih luas. Bayangkan seperti kita membayar pajak rumah, lalu diminta untuk menggali sendiri saluran air yang mampet.

Atau misalkan kita seperti membayar pajak jalan, tapi diminta membawa aspal sendiri untuk menambal lubang di depan rumah. Absurd? Tentu saja. Tapi bukankah logikanya sama?

Kita rela mengantre panjang, rela mengoperasikan mesin mandiri, rela mengisi data berkali-kali, dan tetap membayar pajak yang tak pernah turun nilainya.

Sistem menagih seolah-olah ada pegawai yang bekerja keras melayani, padahal sebenarnya kita sedang melayani diri sendiri.

Dua gelas kopi akhirnya habis juga. Rasa pahitnya menyisakan renungan getir bahwa di era kapitalisme mandiri ini, konsumen dipoles menjadi “subjek modern” yang harus siap bekerja gratis demi efisiensi korporasi. Negara pun ikut menikmati, dengan pungutan pajak yang tak pernah absen, seakan semua berjalan adil.

Padahal, yang terjadi justru sebaliknya. Kita hidup di zaman ketika hak dilayani perlahan-lahan ditukar dengan kewajiban untuk melayani diri sendiri-tanpa potongan pajak sedikit pun.

Kafe waralaba itu, rupanya, bukan sekadar tempat nongkrong. Ia telah menjelma ruang kelas tak resmi yang mengajarkan satu pelajaran sederhana namun satir bahwa di negeri ini, kita harus membayar untuk bekerja, dan tetap membayar lagi untuk merasa seolah dilayani. Begitu?!. ***

Penulis adalah jurnalis lepas dan pegiat di Nusa Artivisme

Penulis : Hari Bahagia

Berita Terkait

Pertanian Lombok Timur Tumbuh 5,08 Persen, Momentum Baru Ekonomi Daerah
Bermasalah: Roadmap Kebudayaan NTB 2027-2047
Resensi Buku ‘Kebijakan Ekonomi Publik’
Ate Bakat: Konseptualisasi Estetika Sasak
Beroperasinya Smelter PT. AMMAN: Renegoisasi Royalti 
Londo Ireng dan Malu Menjadi Indonesia  (terbuka untuk Prabowo Subianto)
Lombok Barat Dikutuk Guru Dane
Iqbal-Dinda: Mengentaskan Kemiskinan Ekstrem di NTB      

Berita Terkait

Rabu, 26 Agustus 2026 - 15:15 WITA

TGB Imbau Warga Lombok Timur Kompak Jaga Persatuan Jelang HUT ke-131

Minggu, 26 Juli 2026 - 16:45 WITA

TGB Tegaskan Pemerintah Harus Jadi Fasilitator, Bukan Pesaing Rakyat

Sabtu, 20 Juni 2026 - 17:45 WITA

TGB Peringatkan Akun Islami Pemecah Belah sebagai Proksi Dajjal

Selasa, 16 Juni 2026 - 17:50 WITA

Kafilah Lombok Timur Raih Prestasi Gemilang di MTQ NTB, Selaras dengan Semangat Menyambut Tahun Baru Islam 1448 H

Jumat, 12 Juni 2026 - 10:07 WITA

Sentilan Kiki Sulistyo: Kepopuleran Sastra dan Bagaimana Hilangnya Insting Manusia di Zaman Digital ini

Kamis, 4 Juni 2026 - 23:34 WITA

Bupati Lombok Barat Lepas 54 Kafilah, Target Juara Umum MTQ NTB

Senin, 25 Mei 2026 - 14:55 WITA

Sekda Lotim Saksikan Bule Swiss Ucap Syahadat di Penutupan TC MTQ XXXI 2026

Senin, 25 Mei 2026 - 10:30 WITA

Qoriah Asal Lombok Tengah Harumkan NTB di MTQ Internasional 2026

Berita Terbaru

Pemkab Lombok Timur Gelar Rakor Evaluasi Program Pencegahan Korupsi, di Rupatama Kantor Bupati, Kamis 27 Agustus 2026. (Foto: Istimewa)

Lombok Timur

Pemkab Lombok Timur Gelar Rakor Evaluasi Program Pencegahan Korupsi

Jumat, 28 Agu 2026 - 17:42 WITA