Institut Elkatari Wisuda 200 Lulusan dengan Ritual Adat Sasak

Senin, 29 Desember 2025 - 21:56 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Seorang wisudawan menerima ritual 'Sembeq Buraq' dalam prosesi wisuda unik Institut Elkatarie Lombok Timur, Senin 29 Desember 2025. Ritual adat ini menandai integrasi budaya Sasak dalam kegiatan akademik kampus. (Foto: Lombokini.com).

Seorang wisudawan menerima ritual 'Sembeq Buraq' dalam prosesi wisuda unik Institut Elkatarie Lombok Timur, Senin 29 Desember 2025. Ritual adat ini menandai integrasi budaya Sasak dalam kegiatan akademik kampus. (Foto: Lombokini.com).

LOMBOKINI.com – Institut Elkatarie mewisuda lebih dari 200 lulusannya melalui prosesi akademik yang unik, Senin 29 Desember 2025. Mereka mengintegrasikan ritual adat Sasak ke dalam acara tersebut.

Institut memberikan anugerah ‘Sembeq Buraq’ kepada lima wisudawan terbaik dalam ritual yang dipimpin langsung oleh Pengrakse Majelis Adat Sasak (MAS) Dr. H. L. Sajim Sastrawan.

Institut Elkatarie mendahului prosesi pemindahan toga oleh Rektor dengan ritual sembeq, berbeda dengan wisuda pada umumnya.

Ritual itu memuat pemberian sirih di dahi wisudawan sebagai simbol restu dan doa. Acara yang berlangsung di salah satu hotel di Kota Mataram itu juga menampilkan pagelaran tari Rudat.

Gubernur NTB, Dr. H. Lalu Muhammad Iqbal, menghadiri acara dan mengapresiasi integrasi nilai budaya dan keislaman sebagai fondasi keilmuan institut.

Baca Juga :  KPK OTT Bupati Lombok Barat dan Amankan 18 Orang

“Pendekatan tersebut menjadi pembeda penting bagi lulusan di tengah persaingan global,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa lemahnya pembangunan keilmuan di Indonesia berakar pada kurangnya penguatan ilmu dasar, seperti sosiologi, antropologi, dan sejarah.

“Banyak kebijakan pembangunan gagal diterapkan karena minimnya kajian sosiologis dan antropologis,” tegasnya.

Gubernur pun mendorong Institut Elkatari untuk terus mengembangkan kajian budaya dan membuka program studi berbasis ilmu dasar.

“Institut Elkatarie ini memiliki kekuatan karena mempertemukan ilmu agama dan budaya sebagai ilmu dasar,” pungkasnya.

Sementara itu, Rektor Institut Elkatari, Dr. Asbullah Muslim, membuka sambutannya dengan mengajak seluruh hadirin mendoakan Aceh dan Sumatra.

Ia menegaskan bahwa tujuan pendidikan tinggi bukan hanya melahirkan insan cerdas, tetapi juga manusia yang berakhlak dan berbudaya.

Baca Juga :  80 Sekolah Penerima Bantuan Revitalisasi 2026

“Transformasi akhlak dalam perspektif budaya menjadi ciri khas Institut Elkatari. Kami mewujudkannya melalui integrasi kurikulum keislaman, kearifan lokal, dan praktik budaya dalam proses akademik,” jelas Asbullah.

Kasubdin Pengembangan Akademik Pendidikan Islam Kemenag, Dr. A. Rafiq Zainul Mun’im, yang hadir dalam acara, memaparkan makna filosofis pergeseran tali toga.

“Pergeseran tali dari kiri ke kanan melambangkan pergeseran paradigma dari mahasiswa ke pengabdi. Setelah diwisuda, mereka dituntut menjawab soal-soal kehidupan,” paparnya.

Ia mengingatkan bahwa setiap diri merupakan pemimpin yang harus mulai dari kemampuan memimpin diri sendiri.

“Jadilah sebaik-baik manusia, yaitu yang paling banyak memberi manfaat bagi sesama,” tutupnya. ***

Penulis : Najamudin Anaji

Berita Terkait

Empat Mahasiswa Universitas Hamzanwadi Raih Juara I PEKSIMIDA, Siap Wakili NTB ke PEKSIMINAS
80 Sekolah Penerima Bantuan Revitalisasi 2026
Menulis untuk Merapikan Pikiran, Begitu Modal Dasar Meditasi yang Baik
Miris! Kepatuhan Berkendara di Lombok Timur di Bawah 50 Persen, Polantas: Biaya Operasi Kepala Rp 200 Juta, Helm Cuma Rp 150 Ribu
Sastra Bermutu Itu Bebas dari Ruang dan Waktu yang Fana: Karya yang Menentang Zaman
DPN SPI Rekomendasikan Bung Syam Ikuti Pendidikan Lemhannas RI
Gigaduka: Penderitaan Modern dari Akal Imitasi (AI)
Sastra Menjadi ‘Suaka’ di Tengah Absurditas Era Digitalisasi

Berita Terkait

Minggu, 12 Juli 2026 - 21:59 WITA

80 Sekolah Penerima Bantuan Revitalisasi 2026

Minggu, 12 Juli 2026 - 06:18 WITA

Menulis untuk Merapikan Pikiran, Begitu Modal Dasar Meditasi yang Baik

Kamis, 25 Juni 2026 - 22:13 WITA

Miris! Kepatuhan Berkendara di Lombok Timur di Bawah 50 Persen, Polantas: Biaya Operasi Kepala Rp 200 Juta, Helm Cuma Rp 150 Ribu

Kamis, 18 Juni 2026 - 02:31 WITA

Sastra Bermutu Itu Bebas dari Ruang dan Waktu yang Fana: Karya yang Menentang Zaman

Kamis, 18 Juni 2026 - 02:08 WITA

DPN SPI Rekomendasikan Bung Syam Ikuti Pendidikan Lemhannas RI

Jumat, 12 Juni 2026 - 22:06 WITA

Gigaduka: Penderitaan Modern dari Akal Imitasi (AI)

Jumat, 12 Juni 2026 - 15:00 WITA

Sastra Menjadi ‘Suaka’ di Tengah Absurditas Era Digitalisasi

Rabu, 3 Juni 2026 - 22:28 WITA

Menjaga Kewarasan di Era Digital: Haul ke-4 Buya Syafii Maarif di Selong Kupas Tuntas Eksistensi Manusia dan AI

Berita Terbaru

Juru Bicara KPK Budi Prasetyo memberikan keterangan kepada awak media, Senin 20 Juli 2026 di Gedung Merah Putih KPK, Kuningan, Jakarta Selatan. (Foto: Lombokini.com/Tamrin).

Hukrim

KPK OTT Bupati Lombok Barat dan Amankan 18 Orang

Senin, 20 Jul 2026 - 17:52 WITA

Dinas Kebudayaan NTB Dikritik, Roadmap Kebudayaan 2027-2047 Dinilai Sia-sia Tanpa Pembenahan Pegawai. (Foto: Lombokini.com).

Opini

Dinas Kebudayaan NTB Tak Mampu Mengurus Kebudayaan

Minggu, 19 Jul 2026 - 10:53 WITA