LOMBOKINI.com – Pengusaha Jerry Hermawan Lo menilai Nusa Tenggara Barat (NTB) berpotensi menjadi salah satu pusat industri pengolahan kelapa nasional. Pendiri Yayasan JHL Merah Putih Kasih itu menegaskan pembangunan pabrik saja tidak cukup. Menurut Jerry, industrialisasi kelapa membutuhkan ketersediaan bahan baku berkelanjutan dan produktivitas perkebunan sebagai fondasi utama.
Jerry menegaskan keberhasilan industrialisasi kelapa tidak hanya bergantung pada jumlah pabrik, tetapi juga kekuatan perkebunan dalam menjamin pasokan bahan baku. Dengan penguatan sektor hulu dan hilirisasi yang terintegrasi, NTB berpeluang mengembangkan industri kelapa berkelanjutan, menciptakan lapangan kerja, meningkatkan nilai tambah komoditas, serta mendorong kesejahteraan petani dan perekonomian daerah.
Jerry menilai pembangunan pabrik harus berjalan seiring dengan kesiapan perkebunan sebagai pemasok bahan baku. Karena itu, ia mendorong penguatan sektor hulu melalui peremajaan tanaman, perluasan perkebunan, dan peningkatan produktivitas.
“Saya sudah berjanji kepada Pak Gubernur: tolong lakukan replanting kelapa sebanyak mungkin. Nanti kelompok usaha saya akan membangun pabrik di sini. Itu janji saya,” kata Jerry melalui keterangan tertulis, Rabu (4/11/2026).
Jerry menjelaskan kelompok usahanya saat ini mengoperasikan tiga pabrik dan berencana membangun dua pabrik tambahan pada 2027. Investasi itu merupakan bagian dari konsep Royal Agro Industry, yaitu model bisnis terintegrasi dari budidaya, pengolahan hasil panen, hingga pemasaran produk. Melalui pendekatan itu, perkebunan menopang bahan baku dan industri meningkatkan nilai ekonomi hasil pertanian.
Jerry mengatakan kelompok usahanya tidak langsung menjual setiap tanaman yang mereka tanam. Mereka mengolahnya lebih dahulu agar memiliki nilai tambah.
Jerry menyebut kelapa memiliki potensi ekonomi besar. Dengan perawatan baik, tanaman itu dapat produktif hingga 50–60 tahun.
Menurut Jerry, hampir seluruh bagian kelapa bisa menjadi produk industri. Sabut kelapa menjadi material bangunan, tempurung menjadi arang dan karbon, daging buah menghasilkan minyak goreng, santan, serta kelapa parut kering (desiccated coconut), sedangkan airnya berpotensi menjadi minuman dan bahan baku industri.
“Produk turunan kelapa sangat banyak. Dari sabut, tempurung, daging, sampai airnya, semua bisa menjadi produk industri,” jelasnya.
Jerry menilai meningkatnya permintaan global terhadap produk olahan kelapa membuka peluang bagi Indonesia. Untuk memanfaatkan peluang itu, Indonesia membutuhkan peremajaan tanaman tua, bibit unggul, pendampingan petani, teknologi budidaya, dan pengelolaan perkebunan modern.
Jerry juga mendorong pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan dunia usaha berkolaborasi untuk memperkuat sektor hulu sekaligus menyiapkan sumber daya manusia pertanian.
Menurut Jerry, mahasiswa perlu mendapatkan pengalaman langsung dalam budidaya dan kewirausahaan. Salah satu caranya melalui pola tanam tumpang sari. Mahasiswa membudidayakan jagung, cabai, kacang panjang, dan buncis di antara tanaman kelapa agar lahan tetap produktif sebelum kelapa berbuah.
“Mahasiswa tidak perlu menunggu kelapa berbuah untuk mendapatkan hasil. Sambil menanam dan merawat kelapa, mereka bisa memanen sayuran,” ungkapnya.
Jerry juga mendorong hasil pertanian mahasiswa masuk ke pasar potensial, termasuk kebutuhan pangan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Dengan demikian, kegiatan akademis dapat sekaligus menjadi praktik produksi dan pemasaran.
Jerry mengatakan yayasan terus meningkatkan jumlah penerima manfaat program beasiswa. Dari sekitar 500 orang dua tahun lalu, Jerry menargetkan jumlah penerima mencapai 2.000 orang hingga akhir 2026 dan 3.000 orang pada 2027. Ia berharap program itu melahirkan generasi muda yang berani berwirausaha dan mengembangkan sektor pertanian.
“Gagal, ulang lagi. Sampai suatu hari, dari sekian banyak usaha yang kita kerjakan, ada satu yang berhasil. Itulah yang menjadi awal perubahan kehidupan,” tuturnya.
Sebelumnya, Yayasan JHL Merah Putih Kasih menyerahkan Beasiswa Kelapa 2026 kepada 100 mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Mataram (Unram) pada Senin (2/11/2026) yang dihadiri Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal dan Rektor Unram Sukardi.
Gubernur Iqbal dan Rektor Sukardi mengapresiasi dukungan yayasan JHL Merah Putih Kasih terhadap pendidikan mahasiswa.
Gubernur Iqbal dan Rektor Sukardi mengungkapkan lebih dari 40 persen mahasiswa Unram membayar uang kuliah tunggal (UKT) Rp 500.000 hingga Rp 1 juta, sementara sekitar 900 mahasiswa memperoleh fasilitas UKT nol rupiah.
“Jangan sampai cita-cita mahasiswa pupus hanya karena keterbatasan ekonomi. Dukungan seperti ini sangat berarti bagi masa depan mereka,” kata Sukardi.
Iqbal juga mengapresiasi kontribusi yayasan dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Ia mendorong mahasiswa menjadi motor modernisasi pertanian melalui penguasaan teknologi, inovasi, dan kewirausahaan.
Menurut Iqbal, regenerasi petani menjadi tantangan penting dalam meningkatkan daya saing pertanian NTB. Ia mengingatkan mahasiswa agar disiplin, bekerja keras, dan mempersiapkan masa depan sejak dini. ***
Editor : Najamudin Anaji










![PT Bintang Perdana Gemilang. [Foto: Istimewa]](https://lombokini.com/wp-content/uploads/2026/08/IMG-20260819-WA0100-360x200.jpg)



Komentar