UAS Paparkan Tujuh Pelajaran dari Maulana Syaikh TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid

Minggu, 13 September 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ustaz Abdul Somad (UAS) memaparkan tujuh pelajaran dari Maulana Syekh TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid pada Hultah ke-91 NWDI di Pancor, Lombok Timur, Ahad (13/9/2026). (Foto: Lombokini.com).

Ustaz Abdul Somad (UAS) memaparkan tujuh pelajaran dari Maulana Syekh TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid pada Hultah ke-91 NWDI di Pancor, Lombok Timur, Ahad (13/9/2026). (Foto: Lombokini.com).

LOMBOKINI.com – Ustaz Abdul Somad (UAS) memaparkan tujuh pelajaran penting dari perjalanan hidup dan perjuangan Maulana Syaikh TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid saat menghadiri Hultah ke-91 Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiah (NWDI) dan Haul ke-29 Al-Maghfurlah Maulana Syaikh TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid di Pancor, Lombok Timur, Ahad (13/9/2026).

Dalam tausiyahnya, UAS mengatakan kedatangannya ke Lombok bukan sekadar untuk menyampaikan ceramah. Ia datang untuk belajar dan mengambil keberkahan dari perjalanan hidup Maulana Syaikh. UAS lalu merangkum sejumlah keteladanan yang ia nilai penting bagi jamaah, khususnya para orang tua dalam mendidik generasi.

Pelajaran pertama, UAS menekankan pentingnya kesungguhan orang tua mengantar anak menuntut ilmu. Ia mencontohkan perjalanan Tuan Guru Abdul Majid yang mengantar putranya ke Makkah untuk belajar kepada ulama.

Menurut UAS, orang tua tidak cukup mendaftarkan anak ke sekolah atau pesantren. Mereka harus memberi perhatian pada proses pendidikan, mendekatkan anak dengan guru, dan mendoakan agar ilmu serta akhlak anak berkembang baik.

“Kalau saya mau anak saya menjadi orang alim seperti Maulana Syaikh, maka caranya adalah saya mesti mengantar anak saya. Jangan hanya sekadar mengantar daftar, dapat kartu mahasiswa, kemudian pulang. Dekatkan dia dengan syekh,” kata UAS.

Pelajaran kedua, UAS mengingatkan pentingnya pengawalan orang tua terhadap pendidikan anak. Ia menilai pendidikan anak membutuhkan kesepakatan dan kekuatan ayah dan ibu. Orang tua harus kuat ketika anak berada di pesantren dan tidak menjadikan rasa rindu alasan melemahkan semangat belajar.

Menurutnya, kesedihan saat berpisah dengan anak jauh lebih baik daripada penyesalan akibat anak tumbuh tanpa pendidikan dan pengawasan yang baik.

Baca Juga :  DKP Lombok Timur Soroti Kesenjangan Akses Digital dan Kendala Subsidi BBM Nelayan Tradisional

“Kalau mau anak menjadi orang hebat, bapaknya mesti hebat, ibunya mesti hebat, mesti tegar dan mesti kuat,” katanya.

Pelajaran ketiga, UAS menyebut kemauan kuat untuk belajar dan kekuatan doa. Ia menggambarkan perjuangan Maulana Syaikh yang belajar tekun, termasuk menghidupkan malam dengan salat, zikir, wirid, dan membaca.

UAS mengingatkan jamaah agar tidak meremehkan kekuatan doa dalam membentuk karakter anak. Orang tua, kata dia, harus terus mendoakan anak agar menjadi generasi saleh dan salehah.

“Doa itu senjatanya orang beriman,” ucap UAS.

Karena itu, UAS mengingatkan pentingnya memastikan makanan yang diberikan kepada anak berasal dari sumber halal. Makanan yang masuk ke tubuh, ujarnya, berpengaruh terhadap pembentukan karakter dan kehidupan seseorang.

Pelajaran keempat, UAS menekankan pentingnya menjaga keterikatan dengan guru dan para ulama. Ia menyebut seseorang yang telah selesai menuntut ilmu tidak boleh memutus hubungan dengan guru-gurunya.

UAS mencontohkan Maulana Syaikh yang memiliki hubungan keilmuan dan sanad dengan banyak ulama. Karena itu, ia mendorong generasi penerus menjaga hubungan dengan para ulama dan orang-orang saleh.

“Jangan pernah jauh dari ulama. Kita bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa, tetapi kita cukup dengan iman dan takwa serta keterikatan dengan orang-orang saleh,” katanya.

Pelajaran kelima, UAS menekankan pentingnya meninggalkan warisan bagi generasi berikutnya. Ia menilai seseorang tidak cukup menyimpan ilmunya untuk diri sendiri. Ia harus mewariskan ilmu melalui lembaga pendidikan dan pengabdian kepada masyarakat.

UAS mengajak para pejabat dan tokoh masyarakat yang memiliki kesempatan dan kemampuan menggunakan jabatan serta sumber daya untuk membangun lembaga pendidikan.

Baca Juga :  DPRD Lombok Timur Tetapkan APBD Perubahan 2026, Minta Pemda Percepat Realisasi

“Jangan mati sebelum meninggalkan warisan. Apa yang bisa kita tinggalkan untuk orang setelah kita?” ujar UAS.

Pelajaran keenam, UAS menyoroti pentingnya silaturahmi. Ia menilai Maulana Syekh tidak pernah memutus hubungan dengan para ulama dan tokoh agama. Maulana Syaikh bahkan terus menjaga hubungan itu dengan mengirim murid dan penerus untuk menyambung silaturahmi. Kehadiran sejumlah ulama dalam Hultah ke-91 NWDI menjadi bukti kuatnya jaringan silaturahmi dan hubungan keilmuan sejak masa Maulana Syaikh.

“Ini bukan sekadar haul, tetapi ini adalah menyambung lagi tali silaturahmi,” ujar UAS.

Pelajaran ketujuh, UAS menekankan pentingnya menjaga wirid, hizib, dan zikir yang para ulama wariskan. Ia menilai amalan tersebut menjadi bagian penting dari tradisi keagamaan yang Maulana Syaikh wariskan kepada generasi NWDI.

UAS menyebut Maulana Syaikh tidak hanya meninggalkan lembaga pendidikan, tetapi juga karya-karya keagamaan, syair, nasihat, wirid, dan hizib yang hingga kini terus menjadi amalan jamaah.

UAS juga mengapresiasi hubungan silaturahmi yang terus terjalin antara keluarga besar NWDI dan para ulama dari berbagai daerah dan negara.

Menurutnya, Hultah ke-91 NWDI menjadi momentum untuk memperkuat hubungan tersebut sekaligus mengambil pelajaran dari perjalanan panjang perjuangan Maulana Syaikh.

“Semoga kita bertemu karena Allah dan berpisah pun karena Allah,” ucapnya.

Melalui tujuh pelajaran tersebut, UAS mengajak jamaah tidak hanya mengenang Maulana Syaikh secara seremonial. Ia mendorong jamaah meneladani semangat pendidikan, kesungguhan belajar, doa, hubungan dengan ulama, silaturahmi, serta kepedulian terhadap keberlanjutan pendidikan dan dakwah. ***

Editor : Najamudin Anaji

Follow WhatsApp Channel lombokini.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

DKP Lombok Timur Soroti Kesenjangan Akses Digital dan Kendala Subsidi BBM Nelayan Tradisional
LKKS NTB Perkuat Kapasitas Penerima Manfaat Desa Berdaya di Pijot, Dorong Usaha Naik Kelas dan Keluar dari Kemiskinan Ekstrem
Knalpot Brong dan Tanpa Helm Diburu, Satlantas Lotim Catat 1.009 Penindakan dalam Sebulan
Dekan FH Unram Tegaskan Komisaris BUMD Tak Boleh Berstatus Fungsionaris Partai
DPRD Lombok Timur Tetapkan APBD Perubahan 2026, Minta Pemda Percepat Realisasi
Hultah ke-91 NWDI: TGB Tekankan Binaul Insan dan Warisan Maulana Syaikh
Ratusan Ribu Jamaah Banjiri Pancor, Ikuti Hultah ke-91 NWDI dan Haul ke-29 Maulana Syaikh
Wabup Lombok Timur Ingatkan Warga Tak Salahkan Kadus hingga Bupati soal Bansos

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Kamis, 22 Oktober 2026 - 21:03 WITA

DKP Lombok Timur Soroti Kesenjangan Akses Digital dan Kendala Subsidi BBM Nelayan Tradisional

Kamis, 22 Oktober 2026 - 14:48 WITA

LKKS NTB Perkuat Kapasitas Penerima Manfaat Desa Berdaya di Pijot, Dorong Usaha Naik Kelas dan Keluar dari Kemiskinan Ekstrem

Kamis, 15 Oktober 2026 - 18:53 WITA

Knalpot Brong dan Tanpa Helm Diburu, Satlantas Lotim Catat 1.009 Penindakan dalam Sebulan

Jumat, 2 Oktober 2026 - 19:42 WITA

Dekan FH Unram Tegaskan Komisaris BUMD Tak Boleh Berstatus Fungsionaris Partai

Rabu, 30 September 2026 - 20:30 WITA

DPRD Lombok Timur Tetapkan APBD Perubahan 2026, Minta Pemda Percepat Realisasi

Berita Terbaru

Ketua TP PKK Provinsi NTB Hj. Sinta Agathia M. Iqbal menyapa seorang anak dalam acara cegah stunting di Kantor Desa Pringgabaya Utara, Kecamatan Pringgabaya LombokTimur. (Foto: Lombokini.com)

Opini

Benarkan Stunting di Lotim Turun Empat Persen? 

Jumat, 23 Okt 2026 - 12:12 WITA