Oleh: Salman Faris
Dalam lanskap kebudayaan kontemporer, sedang berlangsung fenomena pembersihan massal terhadap disonansi dan kegelisahan eksistensial manusia. Di bawah kendali kapitalisme lanjut serta sistem pariwisata global yang dominan, ekspresi kebudayaan lokal kerap dipaksa bersolek, mengebiri kepedihannya, dan menampilkan wajah artifisial yang selalu tersenyum demi memuaskan dahaga pasar. Apa yang diidentifikasi oleh Theodor W. Adorno dan Max Horkheimer sebagai Culture Industry (Industri Budaya) bekerja lewat mekanisme manipulatif, yakni mereplikasi formula kenyamanan, memproduksi harmoni palsu, dan mengubah keunikan lokal menjadi komoditas siap pakai yang banal. Industri budaya mempromosikan barbarisme estetis (aesthetic barbarism), sebuah kondisi di mana kesenangan disamakan dengan persetujuan pasif terhadap status quo yang menindas. Warisan budaya lokal dikooptasi untuk menjadi sekadar komoditas hiburan yang menenangkan, sebuah the beauty parlor of civilization (salon kecantikan peradaban), dalam konsepsi John Dewey, yang dirancang khusus untuk menyembunyikan kontradiksi sosial serta penderitaan eksistensial manusia di balik topeng eksotisme.
Di tengah kepungan komodifikasi afektif yang mematikan kepekaan rasa tersebut, nyanyian folk Sasak klasik seperti Ate Bakat (Hati yang Terluka) hadir sebagai antitesis radikal yang membangkang. Lagu ciptaan Lalu Yusi Mukhsin ini menyajikan representasi duka eksistensial yang telanjang, kelam, tegar, serta melampaui segala bentuk eksotisme artifisial pariwisata:
Ne ye wah rase Oh sede perasak (Ini rasanya, Oh hancur perasaan) Ya do lah sayang Ku momotlah, mesak-mesak (Ya duh sayang, ku terdiam membisu, sendiri) … Atengku bakat Ndek narak owatne (Hatiku luka, tiada obatnya) Ya do lah sayang Ndak bae tangis, kumate jogang (Ya duh sayang, janganlah menangis, ku mati gila)
Dilema teoretis mengenai duka ekstrem dan kepedihan eksistensial tanpa penawar (ndeq narak owatne) yang mampu bertindak sebagai penyangga peradaban menemukan jawabannya dalam keunikan kearifan lokal Sasak. Konstruksi peradaban yang kokoh bertumpu pada keberanian subjek kolektif untuk mengintegrasikan disonansi eksistensial serta menjadikannya sebagai medium perlawanan terhadap kedangkalan eksistensi. Peradaban Sasak membuktikan diri berdiri tegak di atas keberanian merengkuh luka secara bermartabat, serta membuang jauh kecenderungan penyangkalan atau pemandulan terhadap rasa batiniah.
Melalui tulisan ini, saya mencoba membedah dan sekaligus memperkenalkannya secara kritis sebagai Estetika Sasak melalui dialektika empat poros teoretis. 1) estetika keseharian John Dewey, 2) estetika negatif Theodor W. Adorno, dan 3) teori sedimentasi kultural Li Zehou. Berdasarkan hal tersebut di penghujung saya juga menawarkan sebuah formulasi konsep orisinal Sasak, yaitu 4) Momot (Estetika Keningratan Hening) sebagai salah satu semen epistemologis Estetika Sasak. Harapan saya, melalui integrasi konseptual ini, kaum terdidik Sasak dapat mencermati kelokalan Sasak dalam merumuskan peradaban melalui kedalaman, kejujuran eksistensial, dan martabat rasa yang tersedimentasi secara historis.
Pemisahan kaku antara karya seni (art product) dan kehidupan sehari-hari merupakan kekeliruan epistemologis terbesar dalam estetika Barat klasik yang kemudian diwarisi oleh masyarakat modern terdidik. Dalam karya utama Art as Experience, John Dewey mengkritik secara tajam museum conception of art (konsepsi seni museum) yang memenjarakan keindahan di dalam ruang-ruang pameran steril dan terasing dari denyut nadi kehidupan biasa. Memisahkan seni dari asal-usulnya dalam pengalaman hidup sehari-hari merupakan bentuk mutilasi eksistensial yang membuat karya seni kehilangan vitalitasnya, sehingga memaksa masyarakat memuaskan dahaga estetis melalui konsumsi budaya massa yang murah dan vulgar.
Dewey menegaskan bahwa estetika sejati harus dipahami dalam bentuknya yang mentah (in the raw), tumbuh dari interaksi dinamis antara makhluk hidup (the live creature) dengan lingkungannya dalam proses melakukan dan menjalani kehidupan (doing and undergoing). Keindahan sejati tertanam erat dalam peristiwa, perbuatan, dan penderitaan sehari-hari yang membentuk eksistensi manusia.
Lagu Ate Bakat mengembalikan kontinuitas estetika keseharian tersebut secara sempurna. Lagu tersebut mewujudkan kristalisasi kualitatif dari derita hidup manusia Sasak sehari-hari:
Maiqlah angen Debilin ku lalo (Teganya hati meninggalkanku pergi) Ya do lah sayang Ku inget terik, aik Mate (Ya duh sayang, kuingat jatuhnya air mata).
Bait di atas memperlihatkan bagaimana air mata yang jatuh (terik aik mate) bertransformasi dari sekadar sekresi biologis atau kesedihan privat menjadi sebuah kualitas indrawi yang menyatukan batiniah manusia dengan lanskap ruang hidupnya. Penyatuan ini menghasilkan apa yang diistilahkan Dewey sebagai sebuah pengalaman (an experience) yang utuh, di mana materi pengalaman bergerak secara organis dari awal, melewati rintangan, hingga mencapai pemenuhan kualitatif (consummation). Kesatuan dari pengalaman tersebut diikat oleh kualitas rasa tunggal yang merembes dan mewarnai seluruh bagian eksistensial subjek.
Saat masyarakat Sasak menyanyikan Ate Bakat di teras rumah panggung, di sela-sela memanen padi, atau dalam kesunyian malam Lombok, aktivitas berkesenian dialami secara autentik sebagai penyelenggaraan (enactment) langsung dari makna hidup. Estetika Sasak menolak jarak estetik yang memisahkan subjek penilai dari objek seni. Seniman Sasak merajut pikiran langsung di dalam media kualitatif yang dijalani, menggabungkan proses penciptaan (doing) dan penikmatan (undergoing) secara somatik-badaniah. Tubuh yang mengalami luka (ate bakat) bertindak sebagai lokus epistemologis utama untuk membaca, memahami, dan memaknai realitas dunia luar.
Apabila pemikiran Dewey mengembalikan Ate Bakat ke dalam rahim pengalaman hidup nyata, maka perspektif Theodor W. Adorno memperlihatkan daya kritis-revolusioner dari penolakan lagu tersebut terhadap kesembuhan instan. Dalam Aesthetic Theory, Adorno mengajukan tesis bahwa di tengah dunia modern yang didominasi oleh rasionalitas instrumental serta kepalsuan industri budaya, keindahan yang konsonan (harmonis dan manis) merupakan bentuk kebohongan sosial yang menidurkan kesadaran manusia akan penderitaan riil.
Dalam konteks inilah bait paling kritis dari Ate Bakat menemukan signifikansi filosofisnya:
Atengku bakat Ndek narak owatne (Hatiku luka, tiada obatnya).
Pernyataan mengenai tiadanya penawar (ndeq narak owatne) merupakan bentuk pembangkangan total terhadap rekonsiliasi palsu yang ditawarkan oleh kenyamanan modern. Dalam estetika Adornian, luka yang menolak disembuhkan ini mewakili disonansi estetis yang murni. Disonansi, sebagai penanda utama dari karya seni otentik, membebaskan sensibilitas indrawi dengan cara mentransfigurasikannya menjadi rasa sakit (pain). Dengan menegaskan bahwa luka hatinya tidak memiliki penawar, manusia Sasak menolak kompensasi kenyamanan artifisial yang ditawarkan oleh industri hiburan yang banal. Hal tersebut mencerminkan keteguhan eksistensial untuk berdiri kokoh (standing firm) di hadapan kerapuhan serta tragisme hidup.
Adorno menulis bahwa penderitaan yang dikonseptualisasikan secara rasional-kognitif cenderung menjadi bisu dan kehilangan daya gugatnya. Karena itu, hanya seni yang mampu mengekspresikan penderitaan tanpa mengorbankan kebenaran objektifnya. Seni sejati bertindak sebagai kesadaran murni akan kemalangan (consciousness of plight). Dalam ruang sublim ini, lagu Ate Bakat mengekspresikan kemalangan ini lewat disiplin ketegangan bentuk estetis yang ketat, sekaligus menjauhkan diri dari pola ratapan emosional yang dangkal. Pengulangan frasa penenang yang tragis:
Ya do lah sayang…. (merupakan citra paling kuat, ketara dan unik dalam lambung gaya bahasa dan sastra Sasak, yang bagi saya, sepanjang pendalaman saya terhadap karya seni Sasak, gaya bahasa semacam inilah intipati Estetika Sasak itu).
Di sela-sela deskripsi kehancuran perasaan (sede perasak), tercipta sebuah kontradiksi imanen dalam bentuk lagu tersebut. Kontradiksi bentuk inilah yang merefleksikan disonansi serta antagonisme realitas sosial yang sesungguhnya. Melalui luka yang dinyanyikan, estetika Sasak membebaskan diri dari belenggu seni konsumsi (consumer art) dan bertransformasi menjadi wahana kebenaran eksistensial yang otonom. Kegelapan dan kesedihan dalam seni Sasak berdiri sebagai bentuk pertahanan spiritual yang menolak berdamai dengan dunia yang pincang.
Daya tahan estetika duka Sasak yang mampu menyangga peradaban tanpa tergelincir ke dalam nihilisme destruktif dapat dijelaskan melalui teori Sedimentasi Kultural (jidian) yang dirumuskan oleh filsuf Li Zehou. Dalam usahanya membangun materialisme historis yang humanistik, Li Zehou memaparkan bagaimana struktur kultural-psikologis kemanusiaan terbentuk dari akumulasi pengalaman sejarah.
Sedimentasi kultural merupakan proses akumulasi, kondensasi, dan kristalisasi dari pengalaman rasional, sosial, dan sejarah kolektif manusia ke dalam bentuk psikologis yang individual, indrawi, serta intuitif. Melalui bentangan sejarah perjuangan hidup komunitas yang panjang, rasionalitas sosial menyusup dan mengendap dalam sensibilitas indrawi manusia, sebuah proses humanisasi alam (humanization of nature).
Lagu Ate Bakat merangkum duka kolektif manusia Sasak yang telah mengalami sedimentasi kultural selama berabad-abad. Kepedihan yang diungkapkan dalam karya musik ini berakar pada ketenangan reflektif, kontrol diri yang matang, serta kepasrahan yang agung, melampaui sekadar luapan emosi hewani yang liar. Karakter non-Dionysian ini, yang mengedepankan pertimbangan tenang (calm consideration) di atas histeria emosional, merupakan ciri khas estetika Timur yang tersedimentasi secara mendalam.
Li Zehou mengajukan tesis ontologis yang menempatkan emosi sebagai noumenon. Berbeda dengan tradisi filsafat Barat arus utama yang mengagungkan rasio murni dan memosisikan emosi pada hierarki inferior, tradisi estetika Timur tersedimentasi dengan pemahaman bahwa kenyataan terdalam dari keberadaan manusia (thing-in-itself) justru terletak pada psikologi kemanusiaan, di mana aspek rasio dan emosi telah melebur secara harmonis.
Ketika lagu Ate Bakat menyuarakan penderitaan kosmis:
Luek wah cobe Sengsare kudait (Banyak sudah cobaan, sengsara kudapati) Ya do lah sayang Lebur anyong, tesaling sedoq (Ya duh sayang, hancur hanyut, saling merusak)
Penderitaan individual tersebut dilebur ke dalam bentang semesta dan dialektika sejarah. Terjadi proses qing jing jiao rong (peleburan perasaan batiniah dengan pemandangan alamiah) guna menciptakan suasana artistik yang tak berbatas. Waktu dalam estetika Sasak bertransformasi menjadi waktu yang diemosionalkan (emotionalized time). Waktu dialami di luar kungkungan mekanis yang kaku, mengalir sebagai arus eksistensial yang mempertemukan ingatan masa lalu (memory), dinamika kesadaran masa kini (state of mind), serta harapan masa depan (expectation) di hadapan kefanaan hidup. Melalui estetika ensembel, penderitaan yang dinyanyikan bersama membebaskan manusia Sasak dari isolasi egoistik, mengikat subjek-subjek tersebut dalam solidaritas organik yang agung, serta menyublimasikan luka menjadi pilar peradaban yang tangguh.
Dalam merekonstruksi filsafat seni Sasak, Ate Bakat (Hati yang Terluka) diposisikan sebagai kondisi ontologis (ontological condition) dari eksistensi manusia Sasak, jauh melampaui kedudukan awal sebagai sekadar tema lirik yang melankolis. Di dalam terminologi Sasak, ate (hati/pusat emosi) merupakan episentrum dari seluruh aktivitas kognitif, spiritual, dan moral, sedangkan bakat (luka) menandakan keterbukaan eksistensial terhadap realitas dunia luar yang rentan terhadap penderitaan.
Sebagai kategori estetika, Ate Bakat merumuskan beberapa dimensi filosofis yang mendalam:
1) Epistemologi Kerentanan (Epistemology of Vulnerability), di mana manusia Sasak menyingkap kebenaran dunia melalui kerentanan afektif yang intim, menolak jarak rasional kognitif yang dingin. Luka (bakat) adalah pintu gerbang kesadaran di mana ilusi-ilusi duniawi runtuh, menyisakan kebenaran eksistensial yang telanjang. Pengetahuan yang lahir dari hati yang terluka dipandang memiliki derajat keautentikan yang lebih tinggi daripada pengetahuan konseptual yang abstrak.
2) Keterbukaan terhadap Semesta (The Openness to the Cosmos). Dalam kondisi terluka, batas-batas ego individu menjadi melunak dan melebur dengan penderitaan lingkungan sekitar (terik aik mate). Ate Bakat memosisikan subjek sebagai bagian integral yang beresonansi secara tragis dengan kosmos yang fana, meruntuhkan klaim sebagai entitas otonom yang menguasai alam.
3) Ketahanan Eksistensial Tanpa Eskapisme. Filsafat Ate Bakat menolak segala bentuk eskapisme spiritual. Subjek Sasak tidak mencari penghiburan metafisik yang menjanjikan pelarian dari dunia yang rusak. Subjek memilih untuk mendiami lukanya, merawat kesadaran akan luka tersebut sebagai pembuktian bahwa martabat kemanusiaan tetap utuh di tengah kehancuran batin.
Melalui konseptualisasi Ate Bakat, maka saya melihat, bahkan sudah sampai pada tahap mengamini bahwa peradaban Sasak menawarkan konsepsi estetika di mana keindahan tertinggi bersumber pada kapasitas subjek untuk menanggung disonansi eksistensial dengan martabat spiritual yang agung, menggeser ketergantungan klasik pada kesempurnaan bentuk atau harmoni kosmis yang mutlak.
Untuk meletakkan fondasi epistemologis bagi teori seni Sasak yang orisinal, melalui Ate Bakat, saya menawarkan sebuah konsep estetika pribumi yang saya yakini kelak akan sangat berharga, yaitu Momot. Frasa Ku momotlah, mesak-mesak (aku terdiam membisu, sendiri) melampaui sekadar deskripsi psikologis tentang kesedihan individual. Frasa tersebut, bagi saya, merupakan kategori estetika-ontologis tentang ketahanan batin manusia Sasak.
Secara konseptual, Momot dapat dirumuskan sebagai Estetika Keningratan Hening (The Aesthetic of Contemplative Containment). Momot adalah sebuah sikap estetis dan filosofis di mana subjek yang dihadapkan pada disonansi tragis kehidupan menolak untuk mengeksternalisasikannya melalui histeria vulgar atau mereduksinya menjadi tontonan komersial yang dangkal. Sebaliknya, subjek melakukan penahanan diri secara aktif (active containment), menarik seluruh badai emosional ke dalam interioritas batin yang sunyi, mendalam, dan reflektif.
Konsep Momot ini memiliki kedekatan konseptual sekaligus perbedaan kritis dengan beberapa konsep estetika Barat dan Timur:
1) Melampaui Disinterestedness Kant. Apabila Immanuel Kant menuntut jarak estetis yang steril dan pelepasan hasrat untuk mencapai kepuasan estetik, Momot justru lahir dari keterlibatan somatik-afektif yang paling intim dengan penderitaan hidup. Momot adalah keheningan yang penuh isi (pregnant silence), melampaui kekosongan kontemplatif yang dingin.
2) Kesejajaran dengan Gelassenheit Heidegger. Sikap Momot menyerupai konsep Gelassenheit (sikap membiarkan sesuatu terjadi) dalam pemikiran Martin Heidegger. Melalui Momot, manusia Sasak membiarkan penderitaan eksistensial menetap di dalam jiwa tanpa terburu-buru mencari pelarian artifisial atau penyembuhan instan. Keheningan Momot adalah ruang tunggu ontologis di mana duka diolah menjadi kebijaksanaan hidup.
3) Puncak Sedimentasi Kultural (Jidian). Dalam kerangka Li Zehou, Momot adalah bentuk tertinggi dari sedimentasi emosi yang matang secara rasional. Di dalam keheningan Momot, duka individu dibersihkan dari sifat destruktifnya dan diintegrasikan dengan kesadaran kosmis serta kearifan moral (krama).
Melalui Momot, manusia Sasak membuktikan bahwa kekuatan peradaban terpancar dari kapasitas untuk menampung penderitaan terbesar dalam keheningan batin yang bermartabat, menafikan dorongan destruktif untuk mengekspresikan kemarahan secara vulgar. Momot adalah rahim spiritual di mana duka (ate bakat) didefinisikan ulang sebagai kekuatan budaya yang tenang namun tidak terpatahkan.
Transformasi kearifan lokal ini menjadi penyangga peradaban konkret berlangsung melalui keterpaduan mutlak antara nilai estetis dan integritas moral (etika) dalam kehidupan komunal Sasak. Marcia Muelder Eaton, dalam teorinya mengenai keterpaduan merit (kebaikan) estetis dan moral, menegaskan bahwa tanggapan estetis manusia terhadap dunia sangat terikat dengan tatanan nilai kebudayaannya. Eaton menolak pemisahan kaku antara estetika, etika, dan kognisi. Tegasnya, sebuah tindakan moral yang mulia harus memancarkan keindahan dalam struktur penyajiannya.
Eaton berargumen bahwa menjalani kehidupan yang bermakna menuntut kapasitas estetis untuk mengenali keselarasan, kelayakan, proporsi, serta kekuatan pola di dalam narasi kehidupan. Lagu Ate Bakat menyediakan cetak biru naratif (narrative blueprint) bagi manusia Sasak untuk menata kekacauan derita hidup ke dalam struktur estetis yang disiplin, indah, dan bermartabat.
Duka yang liar dijinakkan melalui sublimasi bentuk kesenian, seperti rima yang teratur, melodi folk yang melankolis, serta ketegasan moral sehingga menghindar dari penekanan paksa (anestetisasi) terhadap rasa batiniah:
Ya do lah sayang, Ndak bae tangis, kumate jogang (Ya duh sayang, janganlah menangis, ku mati gila).
Bait tersebut menegakkan imperatif etis-estetis yang kokoh. Penderitaan wajib dihadapi dengan integritas karakter. Manusia Sasak dituntut merancang kisah hidupnya secara autentik dan indah agar memiliki kekuatan eksistensial untuk terus melangkah maju. Sebuah proses yang diistilahkan Eaton sebagai Deliberation Aesthetic and Ethical (Deliberasi Estetis dan Etis). Peradaban sejati bertumpu pada kapasitas spiritual warga komunal untuk merajut narasi ketangguhan bersama saat badai krisis melanda, mengabaikan parameter fana seperti kemegahan fisik semata.
Sebagaimana dicatat oleh Jerrold Levinson, jika nilai etis mencerminkan kebersamaan universal manusia, maka keunikan estetika lokal bertindak sebagai lencana kekhasan (the badges of our particularities) yang menganugerahkan kepribadian unik serta martabat tak tergantikan bagi suatu komunitas di hadapan sejarah. Estetika Sasak yang terpancar dari Ate Bakat berdiri kokoh sebagai benteng pertahanan budaya yang menolak penyeragaman banal oleh arus globalisasi komoditas.
Pada akhirnya, Estetika Sasak mengajak dunia akademis dan kebudayaan untuk mendefinisikan ulang makna keindahan serta peradaban. Melalui konseptualisasi Estetika Sasak ini, saya sedini mungkin memperingatkan bahaya besar bagi bangsa Sasak dari pemandulan rasa (anestetisasi) masyarakat modern yang terus-menerus dibius oleh ilusi kenyamanan industri hiburan yang manipulatif. Sebuah bangsa yang kehilangan kapasitas untuk merasakan duka yang mendalam secara estetis, yang hanya menginginkan seni yang manis dan menghibur, merupakan bangsa yang sedang berada di ambang kematian psikologis serta spiritual.
Ate Bakat Ndeq Narak Owatne berdiri sebagai monumen kejujuran eksistensial manusia Sasak, yang mentransformasikan keputusasaan, kemudian melumpuhkannya menjadi sebentuk keteguhan budaya. Lagu tersebut membuktikan secara radikal bahwa kearifan lokal mampu melahirkan sebuah estetika yang memadukan keindahan indrawi, kekritisan sosial, kedalaman filosofis, serta ketangguhan moral yang kukuh. Melalui Ate Bakat dan konsep filosofis Momot, Estetika Sasak saya deklarasikan posisinya sebagai penyangga peradaban bangsa yang kokoh. Sebuah pengingat abadi bahwa di tengah dunia yang seringkali dangkal dan kejam ini, manusia harus tetap memiliki keberanian untuk merasakan luka, merawat kemanusiaan, serta berdiri tegak dengan martabat yang utuh. ***
Malaysia, 14-15 Agustus 2026
Penulis : Salman Faris







