Di Sisi Megah Pendopo, Siswa SMPN 2 Selong Terpaksa Belajar Tanpa Meja dan Buang Air ke Toilet Masjid

Senin, 3 Agustus 2026 - 16:31 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Siswa SMPN 2 Selong sedang mengikuti pelajaran tanpa kursi dan meja.

Siswa SMPN 2 Selong sedang mengikuti pelajaran tanpa kursi dan meja.

LOMBOKINI.com – Tembok pendopo Bupati Lombok Timur berdiri megah. Ornamen dan cat dindingnya senantiasa dipercantik hampir setiap tahun, memancarkan kewibawaan pusat kepemimpinan daerah.

Namun, tepat di sebelah kanan pagar pembatas gedung megah tersebut, ada kontras sosial yang mengiris hati, siswa SMPN 2 Selong tengah berjuang mengejar masa depan di atas lantai semen dengan tembok sekolah yang sudah lusuh. Dan visual memperhatikan ini, sekolah tersebut juga berhadapan dengan Taman Tugu Selong yang senantiasa terlihat agung.

Senin (3/8/2026), suasana saat mata pelajaran PPKN di salah satu ruang kelas SMPN 2 Selong berlangsung tak biasa. Tidak ada deretan meja dan kursi kayu. Para siswa terpaksa duduk lesehan di lantai.

Saat membaca, kepala mereka tertunduk hampir kening menyentuh lantai; dan begitu ketika harus mencatat penjelasan guru, tubuh-tubuh mungil itu terpaksa membungkuk.

Dan bayangkan, kondisi ini bukanlah peristiwa sehari dua hari. “Sudah cukup lama hal ini berlangsung,” ungkap Multazam, Plt Kepala Sekolah SMPN 2 Selong yang baru beberapa pekan bertugas di sekolah tersebut.

Baca Juga :  Empat Mahasiswa Universitas Hamzanwadi Raih Juara I PEKSIMIDA, Siap Wakili NTB ke PEKSIMINAS

Ironi ini tidak hanya berhenti pada ketiadaan sarana belajar. Bangunan sekolah tampak lapuk. Seakan-akan sekolah itu sudah saatnya ambruk. Pintu-pintu kelas mulai rusak, atap plafon berlubang, hingga fasilitas sanitasi yang lumpuh total.

Lebih dari 500 siswa di sekolah tersebut harus menahan diri atau berjalan keluar area sekolah menuju Masjid Raya Al Mujahidin Selong hanya untuk sekadar buang air kecil.

“Tak ada air,” celoteh beberapa siswa polos saat ditanya mengenai toilet sekolah mereka yang mangkrak.

Situasi ini tak pelak menciptakan efek domino. Punggung yang pegal karena terus-menerus membungkuk di lantai membuat semangat belajar anak-anak perlahan surut.

Multazam mengakui, tidak sedikit siswa yang akhirnya memilih absen atau enggan masuk sekolah akibat kondisi fisik yang melelahkan selama jam pelajaran.

Sebagai pimpinan baru, Multazam kini dituntut berpikir ekstra keras demi menyelamatkan nasib pendidikan 500 lebih anak didiknya.

Rencana awal untuk mengalokasikan Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) guna pengadaan meja dan kursi rupanya terbentur tembok tebal keterbatasan anggaran.

Baca Juga :  80 Sekolah Penerima Bantuan Revitalisasi 2026

Porsi Dana BOS yang diterima sekolah tidak sebanding dengan beban operasional yang ada, terlebih dana tersebut harus dibagi untuk membiayai honorarium guru PPPK paruh waktu.

“Kami sedang berikhtiar untuk memenuhi segala kebutuhan sekolah, setidaknya mendekati SMPN 1 Selong yang memiliki siswa 1.200 orang itu,” ujar Multazam optimis.

Di antara sederet kehancuran fasilitas, kebutuhan yang paling mendesak saat ini sebenarnya adalah ketersediaan sumber air bersih atau pembuatan sumur bor.

Selain demi saniter siswa, kebiasaan ratusan murid yang menumpang buang air ke masjid dikhawatirkan mengganggu kebersihan tempat ibadah tersebut.

Kini, pihak sekolah menggantungkan harapan pada uluran tangan para wakil rakyat melalui alokasi program Pokok Pikiran (Pokir) anggota DPRD Lombok Timur.

Masyarakat berharap, ketimpangan yang berada persis di pelataran pusat pemerintahan daerah ini segera mendapat perhatian serius sebab masa depan generasi bangsa tak seharusnya terus dibiarkan bersujud di atas lantai yang dingin. ***

Penulis : Paozan Azima

Berita Terkait

Empat Mahasiswa Universitas Hamzanwadi Raih Juara I PEKSIMIDA, Siap Wakili NTB ke PEKSIMINAS
80 Sekolah Penerima Bantuan Revitalisasi 2026
Menulis untuk Merapikan Pikiran, Begitu Modal Dasar Meditasi yang Baik
Miris! Kepatuhan Berkendara di Lombok Timur di Bawah 50 Persen, Polantas: Biaya Operasi Kepala Rp 200 Juta, Helm Cuma Rp 150 Ribu
Sastra Bermutu Itu Bebas dari Ruang dan Waktu yang Fana: Karya yang Menentang Zaman
DPN SPI Rekomendasikan Bung Syam Ikuti Pendidikan Lemhannas RI
Gigaduka: Penderitaan Modern dari Akal Imitasi (AI)
Sastra Menjadi ‘Suaka’ di Tengah Absurditas Era Digitalisasi

Berita Terkait

Selasa, 30 Juni 2026 - 18:58 WITA

JAMNAS V BPAN Mengumpulkan Pemuda Adat Se-Nusantara di Desa Perigi: Desak DPR RI Segera Sahkan RUU Masyarakat Adat

Senin, 29 Juni 2026 - 06:56 WITA

Ratusan Pemuda Adat Nusantara dari Berbagai Wilayah Melebur dalam Sakralnya Tradisi Tetulaq Desa di Desa Perigi

Sabtu, 27 Juni 2026 - 19:17 WITA

Lombok Timur Jadi Tuan Rumah Jambore Nasional V BPAN, Ratusan Peserta Siap Berkumpul di Wilayah Adat Perigi dan Limbungan

Senin, 22 Juni 2026 - 20:56 WITA

Dukung Revitalisasi Keraton, TSB dan Kemenbud Sinergi Lindungi Cagar Budaya Nasional

Minggu, 8 Februari 2026 - 19:17 WITA

KKN IAI Hamzanwadi Kunjungi Museum Genggelang, Telusuri Narasi Sejarah yang Terlupakan

Jumat, 5 Desember 2025 - 18:25 WITA

Perang Topat Bukan Toleransi

Senin, 1 Desember 2025 - 23:32 WITA

Para Budayawan Sepakati Pembentukan Dewan Kebudayaan di Tiap Daerah

Sabtu, 15 November 2025 - 15:57 WITA

Wabup Edwin Serahkan Santunan dan Dokumen pada Puncak Pesona Budaya Pengadangan

Berita Terbaru

PT Amman Mineral International Tbk mengoperasikan smelter peleburan bijih tambang di Maluk, Kecamatan Maluk, Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat. (Foto: Lombokini.com/Amman.co.id).

Opini

Beroperasinya Smelter PT. AMMAN: Renegoisasi Royalti 

Jumat, 31 Jul 2026 - 07:46 WITA

BPBD NTB bersama BPBD Lombok Timur memfasilitasi desa sasaran mengikuti Penilaian Ketangguhan Desa berbasis SIK SIAGA di Aula BPBD Lombok Timur, Kamis 30 Juli 2026. (Foto: Lombokini.com)

Lombok Timur

BPBD NTB dan Lombok Timur Uji Ketangguhan Desa dengan SIK SIAGA

Kamis, 30 Jul 2026 - 21:14 WITA